DIY Editor : Danar Widiyanto Jumat, 14 September 2018 / 18:51 WIB

Viral Gus Miftah Dakwah di Klub Malam, NU DIY Angkat Bicara

YOGYA, KRJOGJA.com - Beberapa waktu terakhir jagat sosial media dihebohkan dengan video dakwah pengasuh pondok pesantran Ora Aji Kalasan Sleman Yogyakarta, Gus Miftah di sebuah klub malam. Polemik pun bermunculan menanggapi kegiatan yang sebenarnya sangat rutin dilakukan pendakwah ‘gaul’ tersebut di wilayah Yogyakarta selama ini. 

Baca Juga: Heboh! Gus Miftah Salawatan di Klub Malam Bali

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Menanggapi munculnya polemik, Pengurus Wilayah Nahdlathul Ulama (PW NU) DIY pun akhirnya mengeluarkan pernyataan. Fajar Abdul Bashir, Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU DIY menyampaikan secara langsung pada wartawan terkait pernyataan yang ditujukan untuk meredakan komentar netizen. 

“Apa yg dilakukan Gus Miftah itu tidak bisa lepas dari pembahasan dakwah atau dalam Islam dikenal dengan amar ma'ruf nahi munkar. Berdakwah adalah perbuatan yang sangat mulia dan merupakan hal penting dalam agama karena amar ma'ruf nahi munkar itu wajib hukumnya,” ungkap Fajar. 

Baca Juga: Gus Miftah Sholawatan di Klub Malam, Netizen Heboh

Terkait lokasi berdakwah yang dinilai tak sepantasnya karena berada di klub malam yang tak bisa dilepaskan dari maksiat, NU DIY pun memiliki pandangan lain. “Berdakwah dapat dilakukan kapan dan dimana saja, di masjid, di pasar, kantor dan lain-lain. Berdakwah juga dapat filakukan di tempat-tempat maksiat jika memang kehadirannya Gus Miftah bisa menghentikan maksiat, minimal pada waktu diadakan pengajian tersebut. Dalam hukum fikih wajib mendatangi tempat maksiat jika dengan kedatangannya akan membuat maksiat yg sedang diperbuat berhenti, minimal pada saat ia berada di situ,” sambungnya. 

Sedangkan mengenai pembacaan sholawat yang juga menjadi polemik, Fajar mengatakan bahwa hal tersebut tak bisa dilepaskan dari rangkaian dakwah. NU DIY pun tak mempermasalahkan hal tersebut karena memuat hal positif. 

“Jika berdakwah di tempat maksiat boleh, kenapa membaca shalawat dilarang? Dalam berdakwah tentunya juga dibacakan dalil-dalil ayat-ayat Al-Qur'an untuk amar ma'ruf nahi munkar. Kalau Al-Qur'an saja boleh, kenapa shalawat di larang? Yang dilarang itu ketika dalam pengajian dan pembacaan shalat tersebut sambil digelar maksiat, seperti sambil minum-minuman, berzina, maka menghadiri tempat tersebut haram. Tapi kalau pas dakwah dan pembacaan sholawat maksiat berhenti, maka boleh,” pungkasnya. (Fxh)