DIY Editor : Agus Sigit Jumat, 14 September 2018 / 12:43 WIB

“Memanen” Air Hujan Harus Jadi Budaya

SLEMAN, KRJOGJA.com - Musim kemarau tahun 2018 diprediksi sedikit memanjang hingga Oktober karena adanya El Nino berkekuatan lemah-sedang. Ancaman kekeringan pun terlihat termasuk di beberapa wilayah DIY seperti Gunungkidul, Bantul, Kulonprogo dan Sleman bagian Utara.

Dr Agus Maryono, Dosen Magister Teknik Sipil UGM mengatakan kekeringan yang kerap terjadi di berbagai wilayah Indonesia termasuk DIY seharusnya mendapatkan penanganan menyeluruh. Selama ini, menurut dia pihak terkait lebih hanya sekedar merespon kondisi ketika sudah terjadi kekeringan saja.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

“Saat hujan seharusnya kita sudah harus pikirkan tentang kekeringan. Saat musim kemarau kita harus pikirkan juga apa yang dilakukan dan ketika transisi musim hujan ke kemarau kita pikirkan juga agar tidak terlambat,” ungkapnya pada wartawan Jumat (14/9/2018).

Salah satu yang menurut Agus harus benar-benar dimanfaatkan adalah pemanfaatan air hujan untuk mencegah kekeringan. Selama enam bulan musim penghujan, seharusnya air hujan tak boleh dibiarkan begitu saja tanpa membawa manfaat bagi manusia.

“Caranya dengan dipanen, dimasukkan ke dalam sumur setelah disaring menggunakan pipa. Jangan anti dengan air hujan, ketika dikelola dengan baik bisa mencegah kekeringan saat musim kemarau. Masyarakat di Australia, Jepang hingga Jerman sudah menggunakan air hujan sebagai sumber air bersih,” ungkapnya lagi.

Masing-masing rumah menurut Agus bisa membuat tampungan air hujan di dalam tanah atau bahkan menggunakan sumur yang sebelumnya sudah dimiliki. “Di wilayah yang rentan kekeringan bisa dibuat tampungan air hujan bisa seperti sumur resapan, masyarakat di Imogiri Bantul sudah mempraktekkan membuat pipa dari atap langsung masuk ke sumur resapan dan bisa menjadi cadangan saat kemarau,” imbuhnya.

Terkait adanya kekhawatiran kualitas air hujan yang berbahaya bagi kesehatan, Agus mengatakan selama beberapa tahun terakhir paling tidak telah melakukan 15 kali ujicoba di beberapa wilayah di mana seluruhnya memperlihatkan tingkat aman. “PH air hujan yang kami dapat dari hasil penelitian antara 7,2 hingga 7,4 masuk kategori aman. Kita ini negara kepulauan di mana sebagian besar air dari uap laut jadi relatif aman,” tandasnya.

Agus pun berharap, masyarakat modern saat ini kembali menganggap penting air hujan dan mau mengelola dengan baik. Pasalnya potensi kekeringan akan semakin meluas mengingat berkurangnya daya tampung vegetasi khususnya di wilayah perkotaan.

“Di DIY belum ada peraturan daerah untuk mengelola air hujan, padahal sangat perlu dilakukan agar air tanah kita tetap terjaga baik secara kualitas maupun kuantitas. Semoga instansi terkait menyadari betul hal ini,” pungkasnya. (Fxh)