Pertumbuhan Ekonomi 2018 Diproyeksi 5,14 Persen

JAKARTA, KRJOGJA.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksi pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun nanti akan berada dalam rentang 5,14 persen hingga 5,21 persen. Proyeksi ini jauh lebih rendah ketimbang proyeksi sebelumnya, yaitu 5,3 persen atau bahkan lebih rendah dibandingkan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, yakni 5,4 persen.

Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III berada dalam rentang 5,13 persen hingga 5,25 persen. Sementara, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV akan berada di kisaran 5,1 hingga 5,23 persen.

Namun, ia berharap momentum pertumbuhan ekonomi di akhir tahun nanti bisa tetap di atas 5,2 persen seperti yang terjadi di kuartal II kemarin. "Jadi, sesuai exercise yang kami lakukan, total pertumbuhan ekonomi seluruh tahun 2018 berdasar proyeksi Kementerian Keuangan adalah 5,14 persen hingga 5,21 persen. Ini baseline 2018," jelasnya.

Menurut Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi pada dua kuartal terakhir nanti akan banyak dipengaruhi oleh depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Utamanya, memengaruhi ekspor netto yang merupakan salah satu komponen utama pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB).

Pada kuartal kedua, ia memprediksi impor akan bertumbuh di atas 10 persen karena sebagian importir menahan aktivitasnya lantaran libur panjang Idul Fitri dan kembali melanjutkan impor pada kuartal ketiga.

Kenaikan volume impor ditambah dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS menyebabkan pertumbuhan nilai impor cenderung lebih tinggi. Sayangnya, pertumbuhan impor ini tidak sebanding dengan pertumbuhan ekspor, yang dia taksir masih di kisaran 7 persen sama atau sama seperti kuartal II kemarin.

Namun, ia melanjutkan depresiasi rupiah akan mempengaruhi importir secara psikologis pada kuartal IV. Sehingga, pertumbuhan impor di tiga bulan terakhir tahun ini akan turun menjadi 8 persen.

Pada saat bersamaan, ia meramal ekspor pada kuartal IV akan naik ke kisaran 8 persen karena eksportir melihat peluang pertumbuhan. Sebab, depresiasi rupiah membuat harga ekspor Indonesia lebih kompetitif, sehingga volume ekspor bisa meningkat. (*)

Tulis Komentar Anda