SAND DUNES MUSEUM IN HARMONY

Vegetasi Hambat Pembentukan Gumuk Pasir

Drs H Suharsono (empat dari kanan) bersama jajaran BIG GPSP. (Foto: Sukro R)

BANTUL, KRJOGJA.com - Banyaknya vegetasi di tepi  pantai kawasan Parangtritis Kretek Bantul menjadi salah satu penghambat terbentuknya gumuk pasir. Mesti  dilakukan penanataan tumbuhan di kawasan pantai selatan Bantul agar mampu membentuk gumuk baru. Sejauh ini sangat jarang vegatasi asli tumbuh disekitar gumuk pasir.  Merujuk Data Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP)  zona inti gumuk pasir sejauh ini hanya menyisakan 141 hektare. 

“Salah satu tumbuhan penghambat terbentuknya gumuk pasir di Parangtritis ialah  banyaknya pohon camara diselatan dekat pantai,” ujar Koordinator Pengelola PGSP, Nicky Setyawan, SSi usai audiensi dengan Bupati Bantul, Drs H Suharsono, Kamis (13/9/2018). Audiensi Badan Informasi Geospasial (BIG) Parangtritis Geomaritime Science Park terkait rencana pengambangan dan pelestarian gumuk pasir pantai selatan Bantul juga diikuti Prof Dr Muh Aris Marfai, SSi, MSc. (Dekan Fakultas Geografi UGM), Dr Sigit Heru Murti BS, SSi, MSi. (Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset dan Sumber Daya Manusia), Dr Dyah Rahmawati Hizbaron, SSi MT MSc. (Wakil Dekan Bidang Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerja Sama), Dr Ir Wiwin Ambarwulan MSc ( Kepala Pusat Penelitian, Promosi dan Kerjasama, BIG), Sri Lestari M.AGR (Kepala Bidang promosi dan Kerjasama). 

Nicky Setyawan mengatakan, mestinya vegatasi yang tidak sesuai  dengan kawasan gumuk pasir bisa dikurangi. Tumbuhnya pohon disepanjang pantai selatan Bantul itu memang menghambat pembentukan gumuk pasir. Kondisi itu diperburuk dengan adanya kendaraan yang kerap masuk di kawasan zona inti gumuk pasir. Meski begitu PGSP terus mendorong agar jangan sampai kendaraan melintasi zona inti.Menghadapi tantangan berat dalam menjaga kelestarian gumuk pasir, PGSP sangat berharap partisipasi dari masyarakat. Sementara dalam acara Sand Dunes Museum in Harmony  yang digelar Jumat 28 September 2018 di PGSP itu, diadakan sejumlah kegiatan diantaranya open house museum, jalan sehat gumuk pasir, talk show serta ruang rindu gumuk pasir. 

Sementara Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Muh Aris Marfai mengatakan,  diharapkan tedapat lorong angin di sepanjang Pantai Parangtritis. Sehingga proses pembetukan gumuk pasir secara alami akan terus terjadi. "Dari riset yang sudah kami lakukan, secara detail pergerakan pasir itu ada yang disebut dengan lorong angin," ujarnya. Artinya  lorong  angin di sisi selatan gumuk mesti tetap ada sebagai ruang agar angin dari pantai masuk ke utara dengan membawa material pasir untuk pembentukan gumuk pasir. Sehingga lorong angin harus ada supaya gumuk bisa hidup. Terlebih sekarang ini sudah tidak bisa ditemukan gumuk pasir aktif lagi di Indonesia, kecuali di Parangtritis.(Roy)

Tulis Komentar Anda