Jateng Editor : Danar Widiyanto Kamis, 13 September 2018 / 18:31 WIB

Jangan Jadi 'Manja', Mensos Dorong KPM untuk Mandiri

SOLO, KRJOGJA.com - Menteri Sosial, Agus Gumiwang Kartasasmita mengisyaratkan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bantuan sosial, baik Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) maupun Program Keluarga Harapan (PKH), berkomitmen untuk mandiri dan keluar dari lingkaran kemiskinan dengan membuka usaha baru. Banyak peluang yang dapat dimanfaatkan KPM bantuan sosial untuk membuka usaha dalam skala kecil, namun mesti dilandasi spirit untuk hidup mandiri.

Menjawab wartawan, usai menyerahkan BPNT dan PKH, di halaman Kantor Kecamatan Jebres, Kamis (13/9/2018), Agus Gumiwang Kartasasmita yang baru dilantik menjadi Mensos tiga pekan lalu menggambarkan, kendati Solo hanya berpenduduk 500 ribu jiwa, namun pada siang hari populasi warga yang beraktivitas mencapai 2 juta hingga 3 juta jiwa. Itu artinya, dinamika kota sangat intensif, sekaligus menjadi pasar bagi warga kota untuk memulai ataupun mengembangkan usaha dalam bidang apapun.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Layanan penyaluran bantuan sosial, memang terus disempurnakan. Bahkan penyaluran BPNT bagi KPM di Solo, diantarkan sampai ke rumah masing-masing menggunakan armada motor roda tiga bantuan Bank BNI, selain pula bisa berbelanja langsung ke warong elektronik (e-Warong) yang tersebar di seluruh penjuru kota. Hanya saja, dia berharap perbaikan layanan tersebut tak menjadikan KPM manja, sebaliknya terdorong untuk mandiri. Dalam hal ini peran kalangan pendamping menjadi penting, terutama memberi pemahaman kepada KPM agar dapat keluar dari mata rantai kemiskinan.

Karenanya, Mensos Agus Gumiwang menilai perlu perubahan silabus tenaga pendamping KPM agar memiliki kemampuan untuk menumbuhkan spirit KPM untuk mandiri, diantaranya menemukan peluang serta jenis usaha yang dapat dirintis. Sudah banyak KPM yang semula bergantung pada bantuan sosial PKH maupun BPNT, sekarang mampu hidup mandiri dengan membuka usaha dalam skala kecil. "Mereka rata-rata memperoleh penghasilan sekitar Rp 2 juta per bulan," ujarnya sembari berharap, cerita sukses tersebut dapat menginspirasi warga Solo melakukan halk serupa.

Di sisi lian, Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan dan Jaminan Sosial, Kemensos, Harry Hikmat, menambahkan, Kota Solo masuk dalam program BPNT sejak Tahun 2017 dengan jumlah peserta 28.384 KPM, dengan jumlah bantuan sebesar Rp 37,4 miliar selama satu tahun. Selain itu, pada tahun 2018 ini, Kemensos juga menyalurkan bantuan sosial disabilitas dan bantuan lanjut usia, dengan nilai sekitar Rp 67,5 miliar per tahun.

Sedangkan realisasi BPNT hingga bulan Agustus mencapai 75,57 persen. Ada sedikit kendala dalam proses penyaluran, jelasnya, terkait aturan waktu pencairan yang ditetapkan mulai pada tanggal 25 setiap bulan. Itu artinya, masa pencairan hanya sekitar 5 hari hingga batas akhir bulan. Karenanya dia berhara, penetapan tanggal pencairan tersebut dapat dimajukan setidaknya mulai tanggal 10, sehingga tersedia waktu cukup panjang.(Hut)