Hiburan Editor : Agung Purwandono Kamis, 13 September 2018 / 01:24 WIB

Sebarkan Virus Budaya, Puluhan Anak-anak ini Ajak ‘Dandan’

“KITA belajar tari, anak anak!” seru Inem di tengah kebisingan iringan musik

“Haa?? Tari apa?”

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

“Jawa lah, masak barat!”

Tangan- tangan mungil kemudian tampak gemulai melambai dengan serbet di genggaman. Rambut yang sengaja di kepang dua ikut bergoyang seirama.

“Hak. Hik. Hak. Ya!” seru puluhan anak yang tergabung dalam sanggar Artha Dance saat berjalan ke panggung pentas. Menampilkan tari Inem Dandan, mereka  dengan riang dan ekspresi lucu.

Sebelum tampil, sang pembawa acara menjelaskan tarian Inem Dandan memiliki pesan untuk menumbuhkan minat anak dalam melestarikan budaya melalui tarian. Kata “Dandan” yang dimaksudkan dalam Inem Dandan, bukan berarti dalam artian make up.

Dandan yang dimaksud adalah memiliki arti berbenah. Berbenah mulai dari anak- anak. Anak- anak harus dibenahi bagaimana cara melestarikan kesenian, serta menata masa depan. Sekaligus, mengajak bahwa belajar menari itu menyenangkan.

Baca : 

Made Dyah Agustina, Rela “Nginem” Demi Tebar Virus Positif

Dukungan Penuh Suami dan Anak, Inem Berniat Terus “Ngedan"

Di pertengahan tarian, sang tokoh “Inem” memasuki panggung dengan pakaian kebaya hitam dan make up yang nyentrik. Rupanya, sang tokoh “Inem” tersebut merupakan pelatih serta pemilik dari sanggar Artha Dance.

Namanya Made Diah Agustina (32), wanita berdarah Jawa- Bali ini memang memiliki kecintaan di bidang seni tari sejak kecil. Selain mendalami tari untuk dirinya sendiri, ia juga menyalurkan bakat dan hobinya melalui sanggar- sanggar yang ia miliki.

Dari segala macam umur muridnya di sanggar, Made mengatakan lebih senang mengajar anak- anak dibanding orang dewasa. Sebab, setiap gerakan yang keluar dari anak- anak merupakan gerakan murni tanpa paksaan. Terlentang. Tersenyum lebar. Melenggok. Melambai. Semuanya sudah memiliki karakter.

Diciptakannya tokoh  ‘Inem’  diakui oleh Made memang ia tujukan untuk menyebarkan virus  budaya kepada anak- anak dengan maksud menambah keantusiasan mereka terhadap seni tradisional. Menjadi riskan apabila anak- anak terlalu tenggelam dalam gadget dengan dunia yang bukan dunia anak sebenarnya.

Oleh sebab itu, Inem juga turut hadir dalam beberapa media sosial seperti instagram, facebook dalam nama Inem Jogja. Dengan harapan, walaupun bermain media sosial, mereka tetap bermain media sosial yang bermanfaat. “Biarlah mereka tetap menjadi anak- anak di dalam dunianya,” ucap Made saat ditemui seusai pentas Jogja International Street Performance (11/09/18).

Riasan tebal nan nyentrik tidak menumbuhkan rasa malu bagi para anak- anak yang ikut menarikan tarian Inem Dandan. Seusai pentas, mereka justru berlarian kesana-kemari sambil tersenyum lebar ke penonton yang berlalu lalang.

Tak jarang, diantara mereka turut melambaikan tangan ke para pejalan kaki. Salah satu anak yang sedari awal tidak melepas senyum cerianya, Belva (9), mengaku sangat senang bisa menjadi bagian yang turut andil dalam melestarikan budaya tari. Saat ditanya mengapa tetap ingin menari, Belva tersenyum malu-malu. “Soalnya bagus, bisa melatih hobi juga,” ujarnya.

Menggabungkan dunia modern dengan kesenian memang bukanlah hal mudah. Namun, untuk menuju kearah modern dan kekinian, bukan hal yang memalukan jika beriringan dengan  kesenian dan kebudayaan. “Kebudayaan kan kekayaan bangsa, harus dilestarikan sebelum diklaim negara orang,” tutup Made. (Rahma Ayu Nabila)