Pendidikan Editor : Danar Widiyanto Kamis, 13 September 2018 / 04:10 WIB

Jangan Boros! Guru Harus Sisihkan Tunjangan

SOLO, KRJOGJA.com - Pemerintah seharusnya ikut mengatur pemanfaatan dana tunjangan profesi guru. Pengaturan alokasi ini penting agar tunjangan yang diterima tidak seluruhnya untuk memenuhi kebutuhan konsumtif. Tapi minimal ada 5-10 persen dibelanjakan untuk menunjang peningkatan profesinya.

Sejumlah bupati/walikota sudah ada yang membuat ketentuan pengaturan alokasi penggunaan tunjangan profesi guru. "Namun sampai sekarang masih sangat sedikit kabupaten/kota yang mewajibkan guru menyisihkan sebagian kecil tunjangan sertifikasi untuk pengembangan kompetensi profesinya," jelas Dr Nurkolis di sela kegiatan Pelatihan Fasilitator Daerah dan LPTK Program Pelita Pendidikan Tanoto Foundation Provinsi Jawa Tengah dan Kalimantan Timur, di Best Western Hotel, Rabu (12/9/2018).

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Menurut koordinator Program Pelita Pendidikan Tanoto Foundation Provinsi Jawa Tengah ini, tunjangan profesi guru untuk meningkatkan kompetensinya. Bukan untuk membeli rumah atau mobil. Karena sesuai skema Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) kompetensi harus selalu ditingkatkan. Apalagi nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) masih rendah.

Dalam RPJM pemerintah mematok pada 2019 ingin 80 persen guru di Indonesia harus meraih nilai 80. Tapi sekarang masih jauh dari yang diharapkan sekitar 63. Artinya kompetensi guru masih harus digenjot, salah satunya yang bersangkutan harus berjuang sekuat tenaga. Untuk mendukung peningkatan kompetensi mereka harus membelanjakan sebagian tunjangannya untuk membeli buku, laptop dan akses internet.

Menurut Nurkolis dari pusat memang tidak ada aturan mengenai kewajiban bagi guru penerima tunjangan profesi agar mengalokasikan sebagian tunjangan untuk pengembangan kompetensi profesi. Namun secara umum, tunjangan profesi seharusnya dialokasikan untuk meningkatkan profesionalisme, bukan kepentingan lain.

Pelatihan Program Pelita Pendidikan bertujuan merubah pola pengajaran di sekolah dasar. Pola pengajaran yang terjadi selama ini terpusat pada guru dan bukan siswa.  Mayoritas guru mengajar tanpa membuat persiapan maupun perencanaan pembelajaran sehingga ketika mengajar, guru lebih aktif dan membuat siswa cenderung pasif.(Qom)