Hiburan Editor : Agung Purwandono Rabu, 12 September 2018 / 09:53 WIB

Ini Alasan Kenapa Madura Kuat Secara Literasi

YOGYA, KRJOGJA.com - Banyak penyair dan penulis berasal dari Madura, terlebih  mereka yang ada di Yogyakarta. Sehingga ada anggapan, orang dari pulau garam ini datang ke Yogya bukan untuk kuliah, tapi menjadi penulis atau penyair.

Madura, menjadi tamu kehormatan dalam pergelaran Kampung Buku Jogja yang berlangsung 10-13 September 2018 di PKKH UGM.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Madura dianggap sebagai tonggak sejarah dan kekuatan sastra literasi. Pasalnya banyak penyair dan penulis yang berasal dari Madura, terlebih mereka yang berada di Yogyakarta. Berbeda dengan yang lain, Madura selalu menonjolkan ciri khas dan kedaerahan yang mereka miliki, seperti bahasa dan adat.

"Orang Madura yang ke Jogja rata-rata bukan mau kuliah," ungkap Alfarizi (22). Pemuda yang sedang menempuh kuliah di UIN Sunan Kalijaga ini menambahkan bahwa Yogyakarta merupakan tempat lahir banyak penulis dan juga memiliki budaya literasi yang sangat kuat.

Baca : 

Bidan Cantik Ini Bikin Perpustakaan Keliling
Sepatu Penggerak Angkle Kaki Karya Anak UGM

Pernah berada di sebuah pesantren, penulis dan penyair Madura mendapatkan ilmu pertama kali dari sana. Keberadaan ragam komunitas seni, sastra, karya ilmiah, dan teater membuat dara kepenulisan Madura lebih kuat dibandingkan penulis asli Yogyakarta.

Banyaknya orang Madura yang berada di Yogyakarta, dapat dengan mudah untuk berkolaborasi bersama. Undangan yang disampaikan oleh Kampung Buku Jogja diterima dengan baik dan membawakan banyak penerbit, penyair, penulis, bahkan komunitas untuk ikut ambil bagian.

Tak ketinggalan, mereka mempersiapkan pembicara, ornamen pameran, dan marchendise hanya dalan waktu sebulan. Mengabarkan pada daerah mereka dan juga mengalami kewalahan dalam penyebaran poster dan undangan.

Belum lagi ketika merasakan sulitnya mencari pembicara yang tepat dan harus mencari buku Madura untuk dipamerkan. Pasalnya beberapa penerbit ada yang sudah gulung tikar, sehingga mau tak mau mereka mencari dari arsip, bahkan hingga ke kota-kota lain sekitar Yogyakarta.

Pemilihan Muhammad Fudoli Zaini sebagai tokoh yang diusung karena kurangnya pengetahuan masyarakat Madura sendiri pada penulis tersebut. Padahal karya yang dihasilkan amatlah luar biasa menginggat ia seorang cerpenis dengan aliran sufisme yang telah menerima banyak penghargaan dan beasiswa.

"Kita sempet beberapa kali miskomunikasi," ungkap Alfarizi sembari terkekeh. Hal tersebut ternyata malah mengakrabkan persaudaraan mereka sebagai sesama orang Madura dengan prinsip kesederhanaan yang diusung Kampung Buku Jogja.

Pemilihan Madura yang sebenarnya sudah digagas sejak satu tahun yang lalu membuat acara yang dipadatkan dalam waktu khusus satu hari saja terasa kurang. "Masih banyak yang sebenarnya bisa dibahas," ungkap Ade Ma'ruf, penggagas Kampung Buku Jogja.

Keinginan yang banyak untuk membahas Madura, ternyata tak sejalan dengan sulitnya mengumpulkan banyak orang Madura dalam satu kegiatan bersama. Akhirnya keputusan untuk Madura diambil poin-poin penting dengan harapan masyarakat Yogyakarta tahu peran Madura dalam literasi Indonesia. (Brigitta Adelia)