Pengelolaan Risiko Tepat Ubah Investasi Buntung Menjadi Untung

istimewa

SIMPANLAH ‘telur-telur’ emas mu ke dalam keranjang yang tepat. Kalau bisa jangan di satu keranjang saja. Semakin banyak aset atau telur emas yang dihasilkan, semakin bertambah banyak pula keranjang investasi yang dimiliki seseorang. Begitulah kira-kira prinsip dasar dalam berinvestasi. Tidak mengherankan bila semakin banyak jenis investasi yang ditawarkan dan disesuaikan dengan kebutuhan.  

Bahkan, pilihannya semakin beragam seperti investasi secara tradisional seperti menyimpan emas, membeli tanah atau mengkoleksi property sampai bermain saham di pasar modal dan valuta asing di pasar uang. Ada pula yang  menginvestasikan kelebihan dana di kontrak perdagangan berjangka.  Bursa berjangka telah ada di masa lampau sebelum ada kemajuan teknologi seperti saat ini. Keresahan dan keprihatinan petani terhadap fluktuasi harga komoditas yang tajam telah memunculkan pusat perdagangan berjangka dan kontrak berjangka komoditas. Dalam sejarah perdagangan berjangka modern, terbentuknya pasar berjangka secara resmi adalah pada tahun 1840 di pusat utama petani biji gandum, Chicago. 

Bursa tersebut bernama Chicago Board of Trade (CBOT), namun kontrak berjangka yang pertama untuk komoditas jagung baru dibuat pada tahun 1851. Selama 26 tahun kemudian muncullah bursa bernama Chicago Produce Exchange, tapi diubah namanya menjadi Chicago Mercantile Exchange (CME) pada tahun 1898. Dengan melakukan merger dengan Chicago Board of Trade (CBOT), Chicago Mercantile Exchange (CME) saat ini berubah menjadi bursa berjangka terkenal karena memiliki jumlah kontrak berjangka terbesar dibandingkan dengan bursa berjangka lainnya. Beberapa instrumen keuangan seperti mata uang, saham, dan komoditas aktif diperdagangkan pada CME ini.

Di Indonesia sendiri, perkembangan kontrak perdagangan berjangka terjadi dimana pemasaran hasil produk sumber daya alam seperti kopi, kayu lapis, lada, coklat, emas dan timah masih bertumpu pada perdagangan di pasar fisik (pasar spot).  Aturan mainnya masih sebatas bahwa suatu transaksi dianggap selesai jika sudah ada serah terima barang secara fisik pada waktu  tertentu. Sampai akhir tahun 1991, tiga asosiasi bersedia memperdagangkan komoditinya di bursa, yaitu Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Tahun 1992, pemerintah memutuskan untuk memberi keleluasaan khusus bagi swasta mendirikan bursa. Federasi Asosiasi Minyak Nabati Indonesia (FAMNI) yang merupakan gabungan dari AEKI, AIMMI, dan GAPKI diangkat dengan keputusan menteri, mengumpulkan uang untuk memfasilitasi konsultan dari Australia dan Malaysia guna membuat studi kelayakan, rencana usaha hingga rancangan tata tertib bursa.

Pemerintah juga mengusahakan adanya undang-undang perdagangan berjangka di Indonesia. Hasilnya, Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 1997 disahkan sebagai cikal bakal pendirian bursa. Namun, krisis ekonomi tahun 1998 mempengaruhi perkembangan bursa di Indonesia. Pada 27 Januari 1999, gerakan pendirian bursa dimulai lagi, termasuk gerak agresif dari AEKI dan FAMNI. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) sebagai pengawas perdagangan berjangka mengharuskan bursa yang didirikan harus sah menurut undang-undang. Sebelum pertemuan pembentukan perseroan bursa pada 19 Agustus 1999, AEKI dan FAMNI berhasil mengumpulkan 29 perusahaan tidak terafiliasi. Kemudian pada 11 Juli 2000, permohonan izin usaha suatu bursa berjangka diserahkan kepada Bappebti.   Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) secara resmi mendapat izin dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan pada 21 November 2000 dan melakukan perdagangan pertama kali pada 15 Desember 2000 dengan produk kopi robusta dan olein. Kemudian pada 1 Februari 2002 komoditi emas mulai diperdagangkan.

Kepala Divisi BBJ Lukas Low dalam media workshop yang digelar di Yogyakarta belum lama ini menjelaskan kontrak berjangka merupakan kontrak standar antara dua pihak untuk membeli (posisi long) atau menjual (posisi short ) suatu aset dengan harga tertentu (delivery price) untuk penyerahan dimasa depan melalui bursa yang terorganisasi. Aset yang diperdagangkan bisa berupa komoditas ataupun aset keuangan. 

Adapun manfaat dan kegunaaan utama bursa berjangka sebagai sarana untuk pengelolaan risiko (risk management) melalui aktivitas lindung nilai atau biasa disebut hedging. Hedging sendiri digunakan untuk faktor yang sulit diprediksi seperti perubahan musim ekstrim, bencana alam dan ketidakpastian lainnya sehingga produsen mengalami kerugian. Termasuk fluktuasi harga yang memberi imbas negatif terhadap para pelaku pasar. Bursa juga dapat memberikan fasilitas bagi produsen untuk menjual komoditasnya dengan harga yang sudah dipastikan saat ini, yaitu sebelum panen, dan akan menyerahkan hasil komoditasnya itu di waktu yang akan datang. Selain itu, kontrak berjangka juga membuat produsen bisa mendapatkan jaminan harga karena tidak akan terpengaruh dengan kenaikan atau penurunan harga di pasar. Bursa juga bermanfaat sebagai Price Maker atau sarana pembentukan harga yang adil dan wajar. 

Hal ini bisa terjadi karena transaksi dan perdagangan di bursa berjangka hanya dilakukan oleh anggota bursa berjangka. Sedangkan, proses perdagangan serta transaksi pada bursa berjangka sesuai mekanisme pasar, yakni permintaan dan penawaran secara transparan.  Umumnya investor atau spekulator akan menjual kontrak berjangka ketika harga diperkirakan akan tinggi dan membelinya lagi saat harga rendah. Komoditas yang utamanya dijadikan sebagai kontrak berjangka adalah jenis komoditas pertanian, logam mulia, minyak, dan industri hulu. Dalam kontrak berjangka, spesifikasi produk sudah ditetapkan dengan jelas yakni hal-hal yang berhubungan dengan waktu pengiriman/penyerahan, kuantitas, dan kualitas. Kondisi ini selanjutnya dapat mendorong terwujudnya kemudahan transaksi dan pasar yang likuid. Berinvestasi di Bursa Berjangka memiliki potensi profit tertinggi dibandingkan semua jenis investasi di pasar uang dan pasar modal. Hal ini dimungkinkan karena ada 'Two ways opportunity', baik pada posisi Buy – Sell atau posisi Sell – Buy, nasabah sama – sama memiliki kesempatan untuk memperoleh profit. 


Kelebihan lain adalah nasabah dapat berinvestasi langsung (direct investment) dan memonitor secara langsung risiko apa saja yang akan dihadapi ke depannya. Termasuk, kapan dia mau transaksi dan kapan mau berhenti. "Kita dapat meraih keuntungan dengan cara menjual saat harga tinggi dan membelinya saat harga rendah. Transaksi ini dimulai dengan membuka kontrak jual (Open Sell), kemudian menutup posisi dengan kontrak beli (Close Buy)," jelas Lucas Low.

Kendati demikian, risiko investasi Bursa Berjangka juga relatif lebih besar dibandingkan Bursa Efek. Setiap investasi pasti punya risiko, prinsipnya High risk high return. Jadi return-nya juga menjanjikan lebih besar. Bisa positif mau pun negatif. Calon nasabah perlu mencermati berbagai aspek transaksi perdagangan berjangka. Misalnya ada tahap pra transaksi, calon nasabah harus memahami simulasi transaksi yang wajib diberikan oleh pialang (demo account). Termasuk peluang dan risiko yang ada dalam perdagangan berjangka, serta harus membiasakan diri dengan sistem (platform) perdagangan yang akan digunakan dalam transaksi riil. Calon investor juga diharapkan tidak terlalu emosional dalam menyikapi perubahan pasar dan harga yang terkadang berlangsung cepat. Sikap emosional yang cenderung tergesa-gesa, bahkan tanpa berkonsultasi dengan para pialang membawa dampak buruk terhadap investasinya. Agar tidak mengalami kerugian, sebaiknya calon nasabah memilih perusahaan pialang resmi anggota JFX di situs www.jfx.co.id. Hal lain yang perlu diketahui calon investor adalah industri ini penuh regulasi, baik dari pemerintah maupun internal BBJ dengan para anggotanya (pialang). 

Hal ini sangat penting untuk menjamin kepercayaan karena nasabah tidak berhubungan dengan perusahaan (BBJ), namun dengan anggota bursa. Agar performa serta kontrak berjangka yang diperdagangkan pada bursa berjangka terpenuhi, terdapat lembaga penjamin bernama Lembaga Kliring Berjangka. Lembaga ini memiliki peran penting dan berfungsi untuk menjamin perdagangan. "Lembaga Kliring juga melakukan pengelolaan risiko dengan melakukan beberapa cara, diantaranya mengadakan pembinaan serta pengawasan kondisi keuangan anggota Lembaga Kliring Berjangka," kata Direktur PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) Agung Rihayanto Akt, MM. 

Menurut Agung dalam usahanya untuk menjamin transaksi anggota berjangka, Lembaga tersebut mengenakan margin. Lembaga kliring akan melakukan kalkulasi yang disebut mark to market. "Kalkulasi tersebut menghitung setiap posisi pembukaan dan penutupan di akhir perdagangan. Lembaga kliring akan mendebet rekening yang kekurangan margin dan mengkredit rekening dengan kelebihan margin."

Maraknya praktik investasi ilegal berkedok bursa komoditi di Indonesia menjadi biang kerok penyebab rusaknya citra positif dan menghambat perkembangan perdagangan berjangka komoditi (PBK) domestik. Bursa ini belum menjadi pilihan investasi karena tergerusnya kepercayaan masyarakat sehingga perusahaan pialang kesulitan mendapatkan investor potensial. Banyaknya perusahaan yang menawarkan investasi bodong komoditas berjangka tidak terlepas dari karakter masyarakat Indonesia yang mudah tergiur dengan tawaran imbal hasil investasi tinggi. Kondisi itu dimanfaatkan oleh sejumlah pihak termasuk perusahaan ilegal pialang berjangka. Pemahaman masyarakat yang kurang dan enggan untuk menggali lebih dalam mengenai kontrak perdagangan berjangka membuat masyarakat menyerahkan investasinya kepada marketing perusahaan pialang berjangka. 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini telah dihentikan operasional sekitar 48 perusahaan yang melakukan praktik investasi ilegal. Bahkan di antaranya menggunakan nama ‘futures’ atau ‘berjangka’ yang menjadi ciri khas perusahaan yang bermain di bursa komoditi. Padahal, perusahaan ilegal tersebut nyatanya tak menawarkan investasi di bursa berjangka komoditi.  Kini, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappbebti) bersama OJK, Kepolisian dan sejumlah pihak lainnya telah membentuk Satgas Waspada Investasi Ilegal yang akan mengejar sejumlah perusahaan yang menawarkan produk investasi bodong. Kendala lain adalah sosialisasi yang minim dilakukan. Idealnya, sosialisasi kontrak perdagangan berjangka dilakukan terus menerus dan bisa saja melalui komunitas. Ditambah, masyarakat juga diajak untuk mencoba langsung kontrak perdagangan berjangka lewat virtual account. Hal lain yang menghambat pertumbuhan bursa komoditi dalam negeri seperti kurang memadainya infrastruktur pasar perdagangan fisik. Lalu, pemerintah kurang memberikan dukungan terhadap bursa komoditi, dibandingkan dukungan yang diberikan kepada pada bursa saham. 

Buktinya, setiap awal tahun presiden selalu datang membuka perdagangan perdana bursa saham di gedung BEI  (Bursa Efek Indonesia), bahkan Indeks Saham Gabungan (IHSG) dijadikan salah satu rujukan dalam menyusun kebijakan ekonomi. Padahal IHSG tidak mencerminkan kondisi rill perekonomian. Keberpihakan pemerintah terhadap pasar komoditi merupakan salah satu kunci berkembanganya pasar komoditi Indonesia untuk dapat menjadi penentu dan referensi harga international.

Agung juga mengingatkan agar masyarakat melakukan transaksi oleh pialang lokal dan bukan pialang asing yang terkadang ‘menipu’ masyarakat. Menurutnya, apabila perdagangan berjangka dilakukan oleh perusahaan (pialang) asing, negara tidak akan memperoleh pajak dan menutup kesempatan terbukanya lapangan pekerjaan. Karena itu, yang harus dilakukan, calon nasabah perlu belajar dulu sebelum terjun dalam investasi di perdagangan komoditas berjangka ini. "Di beberapa perusahaan (pialang) edukasi terhadap nasabah kurang diperhatikan. Investor akan merasa rugi karena investasinya tergerus. Padahal, industri perdagangan berjangka memiliki risiko tinggi," tandasnya.

Agung  mengakui jumlah transaksi perdagangan berjangka masih minim dan tercatat selama masa transaksi rata-rata mencapai 25.500 lot per hari. Jumlah ini masih kalah dengan Thailand atau Myanmar yang otoritas perdagangannya tergolong masih baru dibandingkan Indonesia. "KBI sebagai BUMN memiliki modal dasar hingga Rp 300 miliar dan saat ini memiliki dana penjaminan yang disetor para pialang mencapai Rp 1,2 triliun. Kami siap mengembangkan industri ini dan mengimbau kontrak yang dibuat lebih fleksibel agar mudah menyelesaikan bila terjadi masalah," pungkasnya.

Selama hampir 18 tahun berdiri, bursa komoditi Indonesia belum berkembang sebagaimana diharapkan yakni menjadi sarana pembentukan harga dan sumber referensi utama harga komoditi internasional. Sejauh ini baru tercatat sekitar 64 perusahaan pialang yang bermain di bursa komoditi berjangka Indonesia. Jumlah ini tentu sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk maupun besarnya produksi komoditi yang dihasilkan Indonesia. Padahal, pertumbuhan transaksi perdagangan berjangka (futures trading) di Bursa Berjangka sepanjang kuartal I/2018 mengalami pertumbuhan sebesar 49,26% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2018, Bursa Berjangka Jakarta menargetkan transaksi perdagangan berjangka paling sedikit mencapai 5 juta lot. Dengan demikian rata-rata sehari terdapat transaksi sebanyak 19.000 lot. Sedangkan kuartal I/2018 tumbuh 49,26% dibandingkan kuartal I/2017. 

Salah satu sentimen pendorong dari kenaikan pertumbuhan transaksi perdagangan berjangka di sepanjang kuartal I/2018 yaitu didominasi oleh fluktuasi harga emas loco in London khususnya di Februari. Ditambah faktor nilai tukar rupiah cenderung melemah memberi korelasi harga komoditas, emas dan beberapa harga komoditi seperti cacao, kopi, oil Kondisi ini menunjukkan salah satu karakter bisnis perdagangan berjangka, semakin fluktuatif dan volatifitas maka pasar semakin bergairah. Pada Februari ke Maret 2018 terdapat pertumbuhan transaksi perdagangan berjangka sebanyak 16,8%. Sedangkan dari Maret ke April 2018 jumlah pertumbuhan transaksinya terus bertambah hingga 20% sehingga optimistis hingga akhir 2018 telah mencapai target yang ditetapkan. 

Karena itu, guna mendongkrak pertumbuhan industri Perdagangan Berjangka Komoditas (PBK), Bursa Berjangka Jakarta terus mendorong perkembangan seluruh pialang, termasuk PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) yang hadir di Yogyakarta Agustus 2018.  Selama ini RFB sudah ada di Jakarta, Semarang, Solo, Surabaya, Bandung, Medan, Palembang, dan Pekanbaru. Berdasarkan informasi yang diperoleh kinerja keuangan PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) selama ini semakin moncer karena berhasil mencetak pertumbuhan hingga 60% melebihi target sebesar 1 juta lot. Hingga akhir Juni 2018, total volume transaksi perseroan mencapai 615,513 lot atau naik signifikan 148,86% dibandingkan posisi yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar 247,322 lot. Volume transaksi bilateral menjadi penopang rapor biru enam bulan pertama ini. Total transaksi bilateral atau Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) di periode yang sama mencapai 434,957 lot. 

Selanjutnya transaksi multilateral sebesar 180,556 lot. Namun, secara pertumbuhan transaksi multilateral mengalami peningkatan tajam sebesar 585,07% dari semester pertama tahun lalu sebesar 26,356 lot. Sedangkan, transaksi bilateral naik 96,83% dari 220,976 lot di tahun lalu. Dengan seluruh pencapaian ini, RFB berhasil menjadi Perusahaan Pialang Berjangka Terbaik atau menempati peringkat pertama dalam urutan Top 5 Pialang Berjangka JFX (Jakarta Future Exchanges). Kinerja RFB lain yang tak kalah positif adalah kenaikan jumlah nasabah baru. Total nasabah baru RFB menembus angka 1311 nasabah atau naik 27,16% dibandingkan semester pertama tahun 2017. Kondisi ini menunjukkan kepercayaan masyarakat yang semakin meningkat kepada RFB sebagai perusahaan pialang berjangka profesional dan berintegritas.

Chief Bussiness Officer (CBO) PT RFB, Teddy Prasetya disela jumpa media usai pembukaan cabang baru PT RFB di Malioboro City, Sleman Yogyakarta, Senin (6/8/2018) mengatakan perseroan menginvestasikan Rp10 miliar untuk pengembangan bisnis dan pembukaan cabang barunya di Yogyakarta. Investasi tersebut sebagai keseriusan menjadi perusahaan pialang berjangka terdepan. Adapun langkah RFB memilih Yogyakarta sebagai lokasi ekspansi lantaran Kota Gudeg ini adalah salah satu kota dengan wilayah agraris yang luas serta memiliki pertumbuhan ekonomi pesat. Bahkan menurut catatan Bursa Efek Indonesia, Yogyakarta memiliki lebih dari 35.900 investor potensial. "RFB tertarik untuk melakukan ekspansi, karena para pelaku pasar modal adalah salah satu target market dari investasi komoditas berjangka," kata Teddy.  

Ungkapan itu benar adanya yang ditunjukkan oleh data resmi Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta (BPS DIY) bahwa perekonomian DIY yang diukur dari nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2018 mencapai Rp31,4 triliun dan atas dasar harga konstan (010) mencapai Rp23,83 triliun. Pertumbuhan ekonomi DIY triwulan II-2018 terhadap triwulan II-2017 tumbuh 5,90 persen (y-on-y) jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan periode yang sama 2017 sebesar 5,21 persen.  Hasil ini bila dibandingkan triwulan I-2018, perekonomian DIY tumbuh 0,63 persen (q-to-q).  Selama semester I 2018 perekonomian DIY tumbuh sebesar 5,64 persen (c-to-c), jauh lebih tinggi dibanding semester I 2017 yang tumbuh 5,18 persen. Andil sektoral terbesar pertumbuhan ekonomi DIY triwulan II-2018 (y-on-y) diberikan oleh lapangan usaha konstruksi yaitu sebesar 0,99 persen, diikuti oleh informasi dan komunikasi sebesar 0,69 persen, dan industri pengolahan sebesar 0,66 persen.   Adapun pertumbuhan ekonomi terhadap triwulan sebelumnya (q-to-q) penyumbang terbesar adalah lapangan usaha konstruksi sebesar 0,75 persen. Andil pertumbuhan terbesar berikutnya adalah administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib, dan diikuti oleh perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor. 

Jumlah investor pasar modal di DIY sendiri juga menunjukkan angka menggembirakan dan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat hingga Mei 2018 jumlah investor pasar modal di DIY mencapai 35.922 orang atau lebih dari 10 persen total penduduk daerah setempat. Pertumbuhan jumlah investor pasar modal di DIY setiap tahun cukup signifikan. Pada 2017 jumlah investor pasar modal masih mencapai 29.338 investor, dengan demikian ada tambahan 6.584 investor baru pada tahun 2018. Sedangkan pertama buka kantor perwakilan BEI di DIY pada 2009 jumlah investor saat itu hanya 900-an investor. BEI DIY juga mencatat untuk transaksi pasar modal selama lima bulan mulai Januari hingga Mei 2018 rata-rata mencapai Rp649 miliar.

Optimistis juga ditunjukkan oleh Kepala Cabang RFB Yogyakarta Dewi Diananingrum meski tetap mengutamakan edukasi kepada calon investor sebelum melakukan transaksi di bursa berjangka. Pemahaman juga diberikan bagi masyarakat yang ingin menjadi agen atau sekadar mengetahui seluk beluk komoditas berjangka. Karena itu, perseroan sudah menyiapkan ruangan khusus beserta pelatih bersertifikat untuk memberi penjelasan keseluruhan bursa berjangka, termasuk risiko investasi yang bisa terjadi agar masyarakat tidak mengalami kerugian terlebih merasa ditipu oleh para pialang. Pentingnya edukasi yang dipilih, menyebabkan perseroan tidak mematok target tinggi calon investor hingga akhir tahun 2018 ini. "Di awal operasional, Kami mengincar 300 nasabah dengan minimal investasi Rp 100 juta. Jadi, total pengelolaan investasi para nasabah baru ini sekitar Rp 30 miliar. Selama ini, pemahaman masyarakat Yogyakarta tentang industri komoditas berjangka ini cukup tinggi," katanya di sela media workshop, Sabtu (11/08/2018).

Dewi mengatakan PT RFB menawarkan 8 komoditas perdagangan diantaranya emas, bursa saham (Nikkei dan Hongkong), serta valuta asing. Namun, yang terbesar adalah perdagangan emas dalam mata uang rupiah dan dollar AS. Perdagangan berjangka komoditas emas sangat diminati investor RFB di Yogyakarta karena emas dianggap sebagai aset safe haven yang aman dari krisis, baik gejolak finansial maupun sosial-politik. Logam mulia ini juga digunakan sebagai standar keuangan, cadangan devisa dan alat pembayaran yang paling utama di beberapa negara. Tak mengherankan masyarakat memburu emas fisik berbentuk batangan, koin hingga aneka perhiasan. 

Alasan lainnya investor perdagangan berjangka juga masih mendapatkan nilai lebih tersendiri meski tak memegang fisik emas tersebut secara perorangan. Bahkan, seroang investor tidak perlu pusing untuk menyimpan emas secara fisik. Selain itu, para investor bisa melakukan kontrak berjangka komoditas emas ini tanpa harus mengeluarkan modal besar sebagaimana bila membeli emas secara nyata di toko emas atau lainnya. Mereka pun masih bisa meraih untung di tengah pergerakan harga sedang turun atau pun naik. 

Kelebihan lainnya adalah harga kontrak berjangka emas sangat transparan dan mendapat penjaminan dari Lembaga Kliring berjangka dan tingkat transaksinya paling likuid di pasar bursa komoditas. Fasilitas online trading dan real time price yang diberikan perusahaan pialang berjangka  sangat membantu investor dalam melakukan kegiatan ini. Adapun kontrak berjangka foreign Exchange (Valuta Asing) memperdagangkan mata uang negara lain di seluruh dunia seperti Dollar AS, Poundsterling Inggris dan Yen Jepang. Perdagangan mata uang ini dilakukan oleh banyak pihak baik negara, perusahaan korporasi dan individu. Transaksinya digunakan untuk tujuan cadangan devisa, perdagangan internasional, hedging atau juga untuk mengambil keuntungan dari perbedaan harga. 

Semua pihak dapat terlibat dan melakukan transaksi dengan modal yang jauh lebih kecil. Transaksi berjangka ini juga diminati karena likuiditasnya sangat tinggi, transaksi jual-beli terlaksana dalam hitungan detik dan menjual mata uang dapat dilakukan lebih dulu tanpa harus membeli sebelumnya (short sell). Keuntungan lainnya adalah  pasar buka selama hampir 24 jam setiap hari kerja kecuali hari Sabtu dan Minggu, penyimpanan posisi jual-beli tidak dibatasi waktu.

Potensi lainnya adalah sebagian masyarakat Yogyakarta sudah memahami pola investasi komoditas berjangka dimana sebelum kantor RFB dibangun, sudah mampu menggaet 30 investor yang sebagian besar kalangan pengusaha dan berkelebihan dana. Keberadaan masyarakat ‘tajir’ dan ini tersebar merata, meski mereka tetap berpenampilan sederhana. Karena itu, semua potensi yang ada hendaknya dimaksimalkan. Perseroan (RFB) pasti telah memiliki strategi dan kemampuan agar dapat memenuhi semua target bisnisnya. Lebih dari itu, harapan agar masyarakat lebih aware terhadap keberadaaan industri PBK di masa depan juga bisa terpenuhi. Semoga ! (tomi sujatmiko)

 

 

Tulis Komentar Anda