10 September, Kolaborasi Penari Yogya dan Jepang di TBY

Bimo Dance Theatre Yogya dan Dinyos Dance Company Jepang berlatih untuk pertunjukan yang berlangsung Senin besok.

PERTUNJUKAN tari kontemporer berjudul ‘The Garden of the Sun’ karya kolaborasi koreografer Yogya Bimo Wiwohatmo bersama Takashi Watanabe (Jepang), didukung sejumlah penari Yogya dan Jepang akan berlangsung Senin 9 September di Taman Budaya Yogyakarta. Tari kontemporer gelaran Bimo Dance Theatre (BDT) dan Dinyos Dance Company Jepang ini, dihelat dalam rangka 60 tahun memperingati sister-city Yogyakarta-Kyoto. 


Pementasan akan digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), gratis, terbuka untuk umum. ‘The Garden of the Sun’ , juga bakal digelar di Jepang, 22-23 November 2018 mendatang. 

Berpijak dari kisah Sang Surya. Ide berawal dari kesamaan, Jepang memiliki budaya pemujaan pada Dewa Matahari, sedang dalam pewayangan Jawa pun mengenal Bethara Surya (Dewa Surya). Pentas tari yang naskahnya ditulis oleh Bambang Paningron ini, secara koreografis ditata oleh Bimo Wiwohatmo (Yogyakarta) dan Takashi Watanabe (Jepang). 

Penari BDT seluruhnya laki-laki, yakni Anter Asmorotedjo (merangkap asisten koreografer), Pulung Jati, Eka Lutfi, Hendy Hardiawan, serta Putra Jalu. Sedang penari Dinyos seluruhnya adalah perempuan, sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang sama dalam kolaborasi pertama sepuluh tahun lalu. 

Mereka adalah Kai Bella, Kodoi Kunie, Nakakita Mei, Yamamoto Rei, Okuno Sachie. Musik tari merupakan kolaborasi Bagus Mazasupa dan Izumi Nagano. Penata artistik Shino Mici, penata lampu Masaru Soga, dan pimpinan panggung Iqbal Tuwasikal yang dibantu oleh Ian Muteex.     

Berawal dari pertemuan Bimo dan Watanabe pada tahun 2007. Kala itu Bimo melihat pertunjukan Dinyos di Jepang. Lantas ia pun berkesempatan untuk bertemu dan berbincang dengan sang koreografer, Watanabe. Selama ini Dinyos menjelajahi Eropa dan Amerika, sedang kawasan Asia justru belum pernah dikunjungi dalam kepentingan kreatif. 

Perbincangan mereka berdua pun melahirkan inisiasi untuk menciptakan karya bersama. Satu tahun berikutnya lahirlah karya kolaborasi BDT dan Dinyos, bersamaan dengan peringatan 50 tahun sister-city Yogyakarta dan Kyoto. Kini tepat tahun ke-10 setelah kolaborasi pertama mereka. Pementasan kali ini terselenggara berkat kerjasama Jaran Production, UPT Taman Budaya Yogyakarta, dan Pendhapa Art Space.

Bimo menyampaikan bahwa bahasa memang tak dipungkiri menjadi salah satu kendala. Komunikasi antarnegara dalam kolaborasi kali ini pun banyak dilakukan secara online melalui email maupun fitur komunikasi lainnya. 

Meski demikian, tak menjadi masalah besar sebab komunikasi dalam tari bersifat lebih universal melalui gerak tubuh. “Kolaborasi ini seperti dialog atas metode juga teknik gerak yang dimiliki oleh masing-masing penari,” kata Bimo. (Cil)

Tulis Komentar Anda