Jateng Editor : Danar Widiyanto Senin, 20 Agustus 2018 / 18:10 WIB

Mulai Fase Magmatik, Aktivitas Warga KRB III Masih Normal

BOYOLALI, KRJOGJA.com - Menyusul terdeteksinya kubah lava yang menandai fase peningkatan aktivitas magmatik Gunung Merapi, namun hal tersebut tak mempengaruhi aktivitas warga di wilayah Kecamatan Selo yang sebagian diantaranya masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III atau radius 3 km dari puncak Merapi.

"Aktivitas warga masih biasa, namun kewaspadaan tetap ditingkatkan," kata Kepala Dusun (Kadus) Stabelan, Desa Tlogolele, Senin (20/8/2018). 

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Baca Juga: Upacara Bendera 17an Merapi Dilarang, Ini Sebabnya

Menurutnya, sebagian besar warga sudah mengetahui informasi tentang perubahan fase aktivitas Merapi tersebut. Namun tak ada kepanikan. Sebab masyarakat mengandalkan arahan dari pihak yang berwenang untuk menghadapi aktivitas kebencanaan Merapi. Bila warga setap saat diinstruksikan untuk mengungsi, mereka sudah siap. 

Di wilayah Selo sendiri, ada tiga wilayah desa, yakni Klakah, Jrakah, dan Tlogolele yang masuk dalam KRB III. Pasca letusan freatik Merapi Mei lalu, sudah ada satu Tempat Penampungan Sementara (TPS) untuk pengungsian, yakni di Desa Tlogolele. Selain ruang berteduh, TPS tersebut juga dilengkapi dapur umum fasilitas dasar lainnya. 

Baca Juga: Pertumbuhan Kubah Lava Baru Lambat, Letusan Tak Eksplosif

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Bambang Sinungharjo mengatakan, sejak Merapi berstatus Waspada, pihaknya terus melakukan sosialisasi dan upaya peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana. Sesuai rekomendasi BPPTKG, dalam level Waspada, wilayah KRB III harus terus dipantau dan dipersiapkan. Pertengahan Agustus lalu, pihaknya bersama BPPTKG sudah melakukan sosialisasi terkait aktivitas Merapi. 

"Apabila status Merapi Naik ke level Siaga, mau tak mau warga di KRB III harus mengungsi," katanya. 

Pihaknya juga akan mempersiapkan gladi lapangan dan gladi posko di wilayah Selo, sehingga apabila bencana terjadi sewaktu-waktu, seluruh stake holder sudah siap. (Gal)