BBJ dan KBI Ajak Masyarakat Berinvestasi di Perdagangan Berjangka

Agung Rihayanto Ak, MM

SLEMAN, KRJOGJA.com - Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) mengajak masyarakat menginvestasikan dana di perdagangan berjangka yang dikelola kantor pialang nasional. Hal ini guna menggenjot jumlah investor dan dana pengelolaan investor.

"BBJ mencatat selama enam bulan terakhir jumlah transaksi mencapai 700 ribuan lot kontrak berjangka. Jumlah transaksi di Indonesia masih terbilang kecil. Bandingkan dengan Malaysia yang menadi pusat transaksi komoditas berjangka terbesar khususnya CPO yang mencapai 50 ribu lot kontrak berjangka dalam sehari atau sebulan mencapai 1 juta lot," kata Kepala Divisi Investasi BBJ Lukas Louw di sela media workshop Peran PT Bursa Berjangka Jakarta dan PT Kliring Berjangka Indonesia dala Industri Perdagangab Berjangka Komoditi di Gedung Rifan Financindo Berjangka, Sabtu (11/08/2018).

Lukas menjelaskan investasi di perdagangan berjangka masih belum menjadi pilihan masyarakat dibandingkan bursa saham atau simpanan di perbankan. Unsur risiko dan spekuasi masih menjadi salah satu alasannya, meskipun BBJ kerap melakukan sosialisasi tentang peran di perdagangan komoditas berjangka.

"Masih butuh kerja keras agar BBJ besar seperti  Chicago yang menjadi pusat perdagangan berjangka terbesar dunia dengan jumlah transaksi mencapai 10 juta lott per harinya. Padahal industri perdagangan berjangka ini memiliki kelebihan diantaranya tidak membutuhkan modal besar, harga komoditi transparan dan bisa dipantau para pialang sampai investor," paparnya.

Hal serupa diungkapkan Direktur PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) Agung Rihayanto Ak, MM. Perseroan yang berfungsi sebagai penjamin dalam industri perdagangan berjangka ini mengajak masyarakat untuk ikut berinvestasi dan bertansaksi di Indonesia.

"Waspadai broker ilegal yang menjadi perpanjangan tangan perusahaan pialang asing di Indonesia. Mereka mengincar investor lokal namun membawa dana masyarakat dan bertransaksi di luar negeri. Kondisi ini akan merugikan keuangan negara," kata Agung.

Agung menjelaskan bila perdagangan berjangka dilakukan oleh perusahaan (pialang) asing, negara tidak akan memperoleh pajak dan menutup kesempatan terbukanya lapangan pekerjaan. Namun, hal terpenting masyarakat perlu belajar dulu sebelum terjun dalam investasi di perdagangan komoditas berjangka ini.

"Di beberapa perusahaan (pialang) edukasi terhadap nasabah kurang diperhatikan. Investor akan merasa rugi karena investasinya tergerus. Padahal, industri perdagangan berjangka memiliki risiko tinggi," tandasnya.

Agung sendiri mengakui jumlah transaski perdagangan berjangka masih minim dan tercatat selama 260 masa transaksi rata-rata mencapai 25.500 lot per hari. Jumlah ini masih kalah dengan Thailand atau Myanmar yang otoritas perdagangannya tergolong masih baru dibandingkan Indonesia.

"KBI sebagai BUMN memiliki modal dasar hingga Rp 300 miliar dan saat ini memiliki dana penjaminan yang disetor para pialang mencapai Rp 1,2 triliun. Kami siap mengembangkan industri ini dan mengimbau kontrak yang dibuat lebih fleksibel agar mudah menyelesaikan bila terjadi masalah," pungkasnya. (Tom)

Tulis Komentar Anda