Jateng Editor : Ivan Aditya Jumat, 10 Agustus 2018 / 23:45 WIB

79 Bacaleg Dipastikan Gugur

PURWOKERTO, KRJOGJA.com - Sebanyak 79 dari 583 bakal calon legislatif (bacaleg) DPRD Kabupaten Banyumas dinyatakan gugur dan dipastikan tidak masuk dalam Daftar Calon Sementara (DCS). Ketua KPU Banyumas, Unggul Warsiadi menjelaskan, sebenarnya menurut hitungan ada 77 bacaleg yang tidak memenuhi syarat (TMS), namun kenyataannya yang hilang lebih dari itu.

"Ada dua bacaleg memenuhi syarat (MS) tetapi karena partai yang mengusungnya tidak memenuhi kuota 30 persen perempuan di dapil tersebut, sehingga secara otomatis bacaleg yang ada di dalamnya gugur,” kata Unggul kepada KRJOGJA.com, Jumat (10/08/2018).

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Ia menjelaskan dalam berita acara hasil perbaikan (BA-HP) dokumen perbaikan syarat calon anggota DPRD Kabupaten Banyumas ada 77 bacaleg yang TMS terdiri dari 44 bacaleg laki-laki dan perempuan 33 bacaleg. Partai yang tidak ada TMS, yakni PKB, Gerindra, PDIP, Golkar, PKS, Perindo, PAN, dan Partai Demokrat.

Sedang partai yang TMS terbanyak secara berurutan di antaranya PKPI sebanyak 27 bacaleg dinyatakan TMS dari 37 yang didaftarkan. Kemudian PBB 15 bacaleg TMS dari 20 bacaleg, PPP ada 10 yang TMS dari 46 bacaleg yang didaftarkan, kemudian Garuda ada 7 dari 10 bacaleg, Berkarya ada 6 dari 26 bacaleg, Nasdem ada 5 dari 50 bacaleg, PSI ada 4 dari 18, dan Partai Hanura ada 3 yang TMS dari 8 bacaleg yang didaftarkan.

Komisioner KPU Banyumas, Ikhda Aniroh menambahkan, untuk dua bacaleg  yang MS, terpaksa harus gugur yakni dari Partai Garuda 1 orang yang berada di daerah pemilihan (dapil) 1 dan PSI dapil 3. Keduanya tidak memenuhi kuota perempuan 30 persen. Untuk Partai Garuda berada di dapil 1, sedangkan untuk PSI di dapil 3.

Misalnya dalam satu dapil, ada dua orang dengan caleg perempuan gugur maka caleg yang lainnya juga gugurk. Meski begitu setelah penetapan DCS, partai yang bersangkutan masih bisa melakukan pergantian dengan tiga syarat.

Pertama, ada bacaleg yang meninggal dunia, lalu karena ada laporan dari masyarakat yang bisa mengakibatkan TMS. Kemudian ada bacaleg perempuan yang mengundurkan diri. (Dri)