Terima Sertifikat Setelah 20 Tahun Digadaikan Kades

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com - Inspektorat Kabupaten Temanggung mengembalikan enam sertifikat tanah milik warga Desa Tegalsari, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung setelah digadaikan oknum kepala desa setempat sekitar 20 tahun lalu pada seorang pengusaha.

Seorang warga, ahli waris pemilik sertifikat Sugini (46) mengatakan ayahnya, Pawiro Rejo pada 1999 lalu akan memecah dua sertifikat tanah menjadi tiga sertifikat baru. Sehingga nantinya untuk dirinya dan saudaranya. Sertifikat lalu diserahkan pada Kades Tegalsari dan dijanjikan selesai dalam enam bulan.

"Selang enam bulan tidak juga rampung," katanya, usai menerima sertifikat tanah di kantor Kecamatan Kedu, Kamis (10/08/2018).

Dia mengatakan kades tersebut, kembali menjanjikan untuk menyelesaikan proses pemecahan sertifikat itu jika menang dalam pilkades untuk periode kedua. Tetapi sampai selesai masa kerja tetap saja belum selesai, ayahnya, Pawiro Rejo juga sudah meninggal.

"Pada proses pemecahan, yang disebutnya pemutihan itu, kami ditarik biaya 1,5 juta. Kami bersyukur Inspektorat Kabupaten Temanggung bisa mengembalikan sertifikat, mesti tidak jadi dipecah," katanya.

Kepala Inspektorat Kabupaten Temanggung Cuk Sugiyarso mengatakan sebenarnya ada tujuh sertifikat yang digadaikan oleh mantan Kades Tegalsari tersebut, namun karena satu sertifikat sudah terbit sertifikat baru maka yang dikembalikan enam sertifikat. "Inspektorat Kabupaten Temanggung menangani kasus tersebut setelah mendapat tugas dari Inspektorat Provinsi atas nama Gubernur Jawa Tengah," katanya.

Dia mengemukakan pihaknya membentuk tim untuk menelusuri keberadaan tujuh sertifikat tanah milik warga Tegalsari tersebut dan ternyata digadaikan oknum kades waktu itu kepada pasangan suami istri Raharjo-Sumiyati warga Kota Magelang. Semula tim pesimistis dapat mengembalikan sertifikat tanah tersebut, tetapi berkat kegigihan tim sertifikat dapat kembali kepada para ahli waris. "Kami pendekatan pada suami istri Raharjo - Sumiyati, akhirnya mereka mau menyerahkan sertifikat itu," katanya.

Dia mengatakan setelah sertifikat tersebut dibawa tim Inspektorat lantas diserahkan pada warga melalui Camat Kedu dan Kades Tegalsari. Anggota tim Inspektorat yang menangani kasus sertifikat tersebut Sri Hariyanto mengatakan pihak yang memberikan pinjaman, yakni Raharjo dan Sumiyati sebenarnya juga tertipu dalam kasus tersebut.

Jadi jelasnya, pada warga, kades saat itu memungut uang untuk biaya pengurusan tanah dan harus menyerahkan sertifikat, lantas sertifikat itu digadaikan pada suami istri Raharjo-Sumiyati, uangnya untuk keperluan pribadi.

Pada saat menggadaikan sertifikat mantan Kades Tegalsari, Eko mengaku bahwa sertifikat tersebut warisan dari orang tuanya, tetapi begitu dijelaskan sertifikat tersebut milik warga, mereka juga kaget. "Karena kasihan pada warga sertifikat yang sudah puluhan tahun disimpannya tersebut diserahkan kepada tim Inspektorat," katanya.

Dia mengatakan hingga sertifikat tersebut diserahkan, tanggungan uang yang belum dibayar Eko hampir Rp 900 juta dan dari pihak mantan Kades Tegalsari tersebut berjanji akan membayar utang gadai tersebut pada 20 Januari 2019. (Osy)

Tulis Komentar Anda