DIY Editor : Danar Widiyanto Jumat, 10 Agustus 2018 / 19:55 WIB

Anggaran Desa untuk Perpustakaan Minim, Warga Ogah Baca?

SLEMAN, KRJOGJA.com - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Sleman terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan perpustakaan di tingkat desa. Meski diakui, anggaran desa untuk perpustakaan masih dibilang minim.

Beragam upaya terus dilakukan DPK Sleman guna meningkatkan kesadaran masyarakat maupun perangkat desa akan pentingnya budaya baca. Salah satunya melalui program desa rintisan gemar membaca. Dari 86 desa di Sleman, sudah terbukti 15 desa.

Kepala DPK Sleman AA Ayu Laksmidewi mengatakan, pengembangan perpustakaan desa memang tidak mudah. Dibutuhkan pendekatan dan pembinaan secara khusus. Pasalnya, kurangnya perhatian dari desa tersebut tidak semata-mata karena mereka tidak mau. Tapi, ada yang belum tahu jika desa itu bisa mengalokasikan anggaran untuk perpustakaan.

"Itu saya dapat saat bertemu langsung dengan kepala desa. Beberapa dari mereka ada yang belum tahu, jika dana desa boleh untuk pengembangan perpustakaan," ujar Ayu, Jumat (10/8/2018).

Selama ini menurut Ayu, pola pikir masyarakat tentang suatu anggaran memang masih sebatas untuk kegiatan fisik saja. Padahal tentang managerial juga tidak kalah penting.

"Dengan pendekatan dan bertemu langsung dengan perangkat desa, mereka baru paham. Dan ada yang bersedia mengalokasikan anggaran desa untuk kegiatan yang bersifat non fisik. Termasuk diantaranya untuk pengembangan perpustakaan," urainya Ayu.

Di Sleman, baru ada satu desa yang sudah menjadi desa mandiri gemar membaca. Desa Widodomartani Kecamatan Ngemplak. Pemerintah Desa (Pemdes) setempat sudah menganggarkan Rp 60 juta untuk pengembangan perpustakaan di tingkat padukuhan.

"Setiap tahun kami ada alokasi dana untuk pengembangan perpustakaan. Tahun ini anggarannya Rp 60 juta. Karena sampai sekarang masih ada tiga padukuhan yang belum memiliki perpustakaan," kata Kades Widodomartani Heruyono.(Awh)