Jateng Editor : Agus Sigit Jumat, 10 Agustus 2018 / 15:34 WIB

Indonesia Minta Dukungan Luar Negeri

Gamelan Diusulkan Jadi Warisan Budaya Dunia

SOLO, KRjogja.com - Pemerintah Indonesia meminta dukungan komunitas gamelan di seluruh penjuru dunia untuk memuluskan jalan, agar musik tradisional yang kini dalam proses pengusulan ke 'United Nations Educational Scientific and Cultural Organization' (Unesco) ini, dapat ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. Hingga saat ini, seni musik gamelan telah berkembang dan menyebar ke berbagai negara manca dengan jumlah grup mencapai ratusan.

Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendi, saat membuka International Gamelan Festival (IGF) di Beteng Vasternburg, Kamis (9/8) malam mengungkapkan, usulan gamelan sebagai warisan budaya dunia, dikirim ke Sekretariat Unesco dalam waktu dekat. Tentunya, hal itu sangat memerlukan dukungan pegiat gamelan baik di manca negara maupun dalam negeri, hingga pada saatnya nanti gamelan dapat masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan dari Indonesia, seperti halnya khasanah seni lain, seperti keris, wayang, batik, dan sebagainya.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Sebagai salah satu jenis musik tua yang masih hidup dan berpengaruh luas, tambah Muhadjir, gamelan telah menyebar di berbagai penjuru nusantara dan manca negara, serta mengalami perkembangan proses penciptaan karya yang luar biasa. Bahkan, salah satu gending Jawa bertajuk 'Ketawang Puspowarno' karya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkoenagoro IV, pada tahun 1977 dibawa badan penerbangan antariksa Amerika Serikat (Nasa) ke luar angkasa mewakili salah satu peradaban manusia di jagad raya.

Pada hari pertama IGF yang diikuti 19 kelompok karawitan dari berbagai negara manca serta 47 grup terpilih dari berbagai daerah di Indonesia, gending 'Ketawang Puspowarno' juga dimainkan, sebagai penanda keagungan seni gamelan yang kini mendunia. Muhadjir memberi apresiasi tersendiri terhadap pegiat gamelan dari manca negara dalam event IGF yang diproyeksikan sebagai ruang mudik kultural sekaligus merayakan keberagaman antarbudaya.

Dalam perhelatan yang akan berlangsung selama sepekan hingga Kamis (16/8) depan ini, tak kurang dari 265 pengembang gamelan di luar negeri serta 950 pegiat gamelan nusantara, serta sekitar 2.000 anggota kelompok dan sanggar-sanggar dari kawasan Solo Raya, saling bersilaturahmi lewat karya masing-masing. Dia menilai, spirit gamelan, menurutnya, telah beresonansi menembus batas-batas disiplin ilmu, wilayah geografis, maupun kelompok sosial, bahkan sangat strategis sebagai media diplomasi budaya yang dapat meningkatkan dan mempererat hubungan antarbangsa.

Sementara, sesaat setelah Mendikbud membuka IGF, tiga maestro gamelan, masing-masing Rahayu Supanggah (Solo), I Wayan Gde Yudane (Bali), dan Taufik Adam (Jakarta), menyuguhkan komposisi baru dalam bentuk orkestrasi klasik. Mereka saling mengeksplorasi gamelan dalam perpaduan budaya nusantara, seperti Jawa, Bali, Sumatera, Indonesia Timur dan lain-lain, sebagai simbol pembacaan identitas dan bertemu leluhur dan saling berkisah perjalanan baru. Mereka berpandangan, karya gamelan klasik sungguh menjadi sumber sejarah penting bagi wilayah budaya setempat serta berpengaruh pada perjalanan gamelan di tataran nusantara maupun manca negara hingga saat ini. (Hut)