Jateng Editor : Danar Widiyanto Minggu, 05 Agustus 2018 / 15:10 WIB

Tebar Semangat Nasionalisme, Bendera Merah Putih Dijamas

KARANGANYAR, KRJOGJA.com - Tokoh lintas agama dan pemuka masyarakat di Desa Girimulyo, Ngargoyoso melakukan jamasan bendera merah putih di balai desa setempat, Minggu (5/2/2018). Bendera itu akan dikibarkan di areal perkebunan teh Gunung Cilik pada 12 Agustus. 

Bendera merah putih berukuran 6X4 meter itu diambil dari rumah dinas bupati Karanganyar sekitar pukul 08.00 WIB. Usai formalitas serah terima, bendera dibawa rombongan konvoi sepeda motor ke balai Desa Girimulyo. Rombongan sekitar 300 orang terdiri dari peserta didik SMKN Ngargoyoso, sukarelawan Pejuang Social Community (PSC), Duta Wisata 2018 dan perangkat desa setempat. Aneka ragam busana yang dikenakan rombongan menandakan mereka mengusung identitas berlainan. Bermisi satu, yakni menyucikan bendera, latar belakang berlainan itu justru memberi perkuatan tekad. Sesampainya di balai desa, prosesi pun dimulai. 

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

"Bendera dikeluarkan dari kotaknya. Lalu didoakan kemudian disucikan secara simbolis dengan menuangkan air dari tujuh buah kendi. Tiap kendi, airnya diambil dari tujuh sumber berbeda," kata Kepala Desa Girimulyo, Suparno.

Tujuh sumber itu di mata air wilayah Ngargoyoso, yakni Sabukjanur, Parangijo, Senatah, Jolinthi, Kalicino, Padasombo, dan Kayuijo. Perwakilan lima agama dan tokoh masyarakat menuangkan secara bersama air tersebut. Mereka adalah Arif Dharmawan dari perwakilan agama Islam, Paulus Parwoto dari Kristen, Atmo Sentono dari Hindu dan Diyono dari Budha. 

Lebih lanjut Suparno mengatakan, kehadiran tokoh lima agama dalam jamasan diartikan perbedaan bukan menghalangi mencapai tujuan. Hal itu pula berlaku di zaman revolusi kemerdekaan. Simbolisasi tersebut diharapkan menggugah semangat nasionalisme generasi terkini. Rencananya, bendera itu akan dikibarkan di kebun teh Gunung Cilik dengan diikuti ratusan warga berkostum perjuangan dan tradisional. 

Bupati Karanganyar Juliyatmono saat menyerahkan bendera ke rombongan berpesan agar jamasan itu tidak dimaknai menyimpang ajaran agama. Masyarakat perlu cerdaa menyikapinya. 

"Ini untuk mengingat jasa para pahlawan. Nilai-nilai tersebut yang seharusnya diangkat," katanya. (Lim)