Ragam Editor : Agung Purwandono Sabtu, 21 Juli 2018 / 11:57 WIB

Made Dyah Agustina, Rela “Nginem” Demi Tebar Virus Positif

BANTUL, KRJOGJA.com - Berangkat dari keluarga miskin membuat sosok Made Dyah Agustina begitu tertempa mentalnya. Berbagai kesulitan pun telah berhasil dilewati hingga kini menyandang gelar Strata 2 Manajemen Pertunjukkan di ISI Yogyakarta. 

Menjadi dosen dengan status dan penghasilan jelas sudah didapatkan Made beberapa tahun terakhir. Tiga sanggar dengan total murid lebih dari 300 anak pun telah berhasil dikelolanya selama ini. 

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Namun, ternyata di sisi lain hatinya masih ada sesuatu yang membuat gundah. Perasaannya tidak tenang karena ada hal yang mengganjal dan kerap kali mengganggu tidur di malam hari. 

“Saya merasa kehidupan sudah jauh lebih baik dari masa kecil dulu, bapak saya hanya jual balon di Alun-Alun Utara dan bullying sudah jadi makanan sehari-hari sejak dulu karena orangtua saya tidak punya. Saya sekarang bisa mapan, punya anak dua dan suami luar biasa yang kerja mapan. Tapi ada sesuatu yang mengganjal saya, ada dorongan berbuat sesuatu yang tidak lagi berorientasi Rupiah,” ungkap Made saat berbincang dengan KRjogja.com Sabtu (21/7/2018). 

Baca Juga :

Kusnandar, Driver Gojek yang Selalu Bawa Selang untuk Tolong Orang

Lama berkiprah di dunia seni tari dan mendapatkan banyak hasil positif dari karya yang dihasilkan membuat Made memiliki keinginan untuk berbuat sesuatu bagi Yogyakarta. Betapa tidak, selama ini Made merasakan pahit getir hingga manisnya hidup di Yogyakarta meski sebenarnya sang ayah berasal dari Bali. 

Keputusan keluar sebagai pengajar di Jurusan Seni Tari Universitas Sanata Dharma pun akhirnya diambil Made. Ia ingin lebih serius mengajar anak-anak di tiga sanggar yang dikelolanya dan memperbanyak kegiatan berorientasi sosial. 

“Januari 2018, mulailah muncul ide memunculkan sosok Inem di kehidupan nyata, karena selama ini sosok tersebut hanya ada di panggung dan karya saya saja. Kemudian saya berpikir akan melakukan apa, hingga akhirnya muncullah ide jalan-jalan sambil mengajak orang lain berbuat baik,” sambungnya tersenyum. 

Berdandan dengan riasan “Edan-Edanan” mengenakan pakaian jawa dengan kesan seadanya, Made lantas berjalan-jalan di kawasan strategis seperti Malioboro. Di lokasi tersebut, Inem mengajak masyarakat yang sebagian merupakan pendatang untuk menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya. 

Gaya unik, menarik, nyeleneh dan bahkan terkesan nyinyir seperti sosok perempuan genit menjadi perhatian orang yang berada di sekitar Malioboro. Namun, di sisi lain kehadirannya sempat mendapatkan anggapan miring karena dianggap pengganggu dan pesaing para pengamen jalanan. 

“Saya sempat bawa pengawal di awal-awal ‘nginem’ di Malioboro karena kebetulan suami saya polisi, untuk menjelaskan saja bahwa saya bukan mengamen tapi kegiatan sosial yang tidak berorientasi uang. Di momen itu saya ajak orang di Malioboro untuk membuang sampah di tempatnya, atau memungut sampah yang dilihat berserakan. Saya ingin ajak masyarakat mengubah mentalnya,” ungkapnya saat ditemui di kediaman yang juga sanggar sederhana miliknya. (Fxh)