KOLOM Editor : Agung Purwandono Jumat, 20 Juli 2018 / 13:35 WIB

PAMERAN KOSTUM FILM RETNO DAMAYANTI

Sejarah Tak Pernah Telanjang

DALAM adegan film The Devil Wears Prada, dimana tokoh utamanya diperankan oleh Anne Hathaway, ada sebuah adegan yang memperlihatkan tentang bagaimana penampilan si tokoh yang pada mulanya dianggap memiliki selera berbusana buruk, padahal ia bekerja di sebuah majalah fesyen ternama. Kemudian tokoh tersebut menjadi tampil sangat modis, dan akhirnya, penampilan barunya diceritakan mengubah pandangan orang-orang di tempatnya bekerja yang semula meremehkan si tokoh utama.   

Melalui film tersebut, kita akan menangkap, bagaimana selembar pakaian atau busana mampu menjadi sebuah identitas sekaligus menggambarkan status sosial seseorang dalam strata masyarakat. Bahkan menurut Indra Citraninda Noerhadi (2012) sebetulnya bangsa kita juga sudah mengenal tata cara berbusana yang menunjukkan perbedaan kelas sosial sejak berabad-abad lalu seperti yang tercetak dalam relief Karmawibhangga di candi Borobudur.

Berbicara mengenai film dan busana atau kostum sendiri, kita akan mengenal sebuah istilah penata kostum atau penata busana. Busana/kostum dalam film merupakan sebuah elemen artistik yang penting. Apalagi jika film berlatar sejarah, kostum bahkan menjadi bagian dari representasi visual sejarah dalam film tersebut. Maka seorang penata kostum dalam film, juga harus memiliki kemampuan untuk melakukan riset serta kreatifitas untuk menginterpretasikannya ke dalam desain kostum.

Di Indonesia sendiri, profesi penata kostum dalam film belumlah sepopuler sutradara, ataupun penata kamera misalnya. Bahkan pameran khusus mengenai kostum-kostum dalam film Indonesia hampir sangat langka kita temukan atau bahkan nyaris tidak ada.

Baca Juga : 

Namun, beruntunglah bagi mereka yang bermukim di Yogyakarta. Salah satu penata kostum film yang telah mengantongi banyak penghargaan nasional seperti Piala Citra dan Piala Maya untuk penata kostum terbaik dari film Habibie dan Ainun, Soekarno hingga Guru Bangsa Tjokroaminoto, yakni Retno Damayanti tengah menggelar pameran kostumnya.

Pameran kostum film ini bertajuk Sejarah Tak Pernah Telanjang yang berlangsung di Sangkring Art Space, Nitiprayan. Memulai kariernya dari teater kemudian menjadi penata kostum film pada tahun 2006 di film Opera Jawa besutan Garin Nugroho, sebelumnya, Retno juga pernah menggelar pameran kostum dalam skala kecil, yakni saat perhelatan Film and Art Celebration (FILARTC) di Taman Ismail Marzuki pada 2015 lalu.

Pameran kostum film yang dikuratori oleh Kris Budiman ini, menampilkan belasan koleksi kostum utama yang dipilih dari film-film berlatar sejarah, dan berfokus pada abad ke-19/20, dimana mba Nok panggilan akrab Retno Damayanti menjadi penata kostumnya. Kostum yang dipamerkan antara lain dari film Guru Bangsa Tjokroaminoto dan Nyai (Sutradara Garin Nugroho) serta Kartini dan Sultan Agung (Sutradara Hanung Bramantyo).

Adapun sebagai kurator pameran, Kris Budiman mengungkapkan bahwa fokus yang dipilih adalah peralihan abad ke-19/20 (Kartini, Tjokro, dan Nyai) karena dianggap sebagai kurun waktu yang kritis, dimana pada masa tersebut merupakan masa peralihan yang dramatis dengan perubahan sosial politik yang luar biasa. Kris sendiri juga melihat bahwa fenomena hibridisasi pakaian pada masa Tjokro, Nyai, dan Kartini ternyata bisa ditarik lebih jauh lagi hingga ke awal abad ke-17, yakni era Sultan Agung.

Dalam pameran kostum film Sejarah Tak Pernah Telanjang ini, bagi saya pribadi,  judul tersebut tepat mewakili apa yang dihadirkan dalam pameran tersebut. Kita akan melihat bagaimana seorang Retno Damayanti mencurahkan kreatifitasnya sebagai penata kostum untuk menafsir dan membaca sebuah zaman sebagai bagian dari sejarah, yang menjadi latar waktu dalam kostum film yang digarapnya.

Kita bisa menyaksikan, tafsiran mba Nok melalui pemilihan bahan, potongan baju, warna hingga corak batik yang dikenakan, serta padu padannya. Tentu saja tafsiran ini adalah perpaduan dari riset dan kreatifitasnya.

Misalnya, pada kostum kebaya panjang Ratu Batang era tahun 1600-an ditafsirkan dengan warna kuning kunyit dari kain yang menkilat dan bordir gemerlap mewah, menghadirkan sosok ratu yang anggun dan bersinar. Kemudian kita akan melihat kebaya putih yang dipakai tokoh Kartini era 1800-an.

Memiliki potongan yang sangat ikonik di dunia fesyen tanah air sehingga memunculkan istilah “Kebaya Kartini”. Ditampilkan dengan panjang kebaya lebih pendek dibandingkan kebaya Ratu Batang, dengan pilihan kain bordir putih sederhana, namun tampak anggun dan ningrat.

Lalu kita juga akan melihat kreatifitas mba Nok, menafsirkan tokoh Nyai dalam kostum kebaya pendek yang dipakai tokoh. Alih-alih dihadirkan terus menggunakan kostum kebaya putih, justru ada tafsiran kebaya Nyai dihadirkan dalam balutan warna merah. Barangkali ingatan mengenai kostum para Nyai berkebaya putih sendiri cukup lekat.

Salah satunya dirujuk dari novel Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer, pada baris kalimat halaman 32, ketika tokoh Minke berjumpa dengan sosok Nyai Ontosoroh pertama kali,  berbunyi seperti ini: “Dan segera kemudian muncul seorang wanita Pribumi, berkain, berkebaya putih dihiasi renda-renda mahal…”.

Disinilah bagi saya, salah satu letak kreatifitas Retno Damayanti menghadirkan kostum tokoh Nyai berwarna merah. Selain itu, warna merah yang dipilih bagi saya pribadi juga sekaligus menebalkan kepercayaan penonton pada karakter Nyai yang tangguh dan berani.

Secara visual, perpaduan kebaya merah ini sangat apik dikombinasikan dengan sarung batik dengan warna kombinasi merah dan hijau tua dengan hiasan tumpal kuning muda. Mengenai kombinasi antara sarung dan kebaya sebagai pakaian para Nyai, ada sebuah catatan pendek yang tertuang dalam buku tulisan Djoko Soekiman (2014).

Tentunya tidak hanya kebaya, kita juga bisa melihat secara dekat kostum-kostum yang mewakili kaum adam di era tersebut, dari Sosro Kartono, hingga Tjokroaminoto. Jika meminjam istilah Kris Budiman, kita bisa menyaksikan langsung bagaimana hibridisasi antara perpaduan jas dengan kain batik misalnya, pada kostum-kostum tersebut.

Selain itu juga ada kostum-kostum Belanda serta aksesoris-aksesoris sebagai bagian pelengkap kostum yang ikut dipamerkan. Dan yang tidak kalah menarik, juga ada sudut yang memajang foto-foto dari adegan-adegan film terkait, dimana kostum tersebut diterapkan.

Serta tentunya sudut audio visual yang menyajikan cuplikan film Sultan Agung, sehingga kita sekaligus melihat bagaimana unsur kostum berperan langsung mendukung visual dalam cuplikan film tersebut. Pameran kostum Sejarah Tak Pernah Telanjang sendiri akan berlangsung hingga tanggal 24 Juli 2018 mendatang.  (Annisa Hertami, penulis adalah seorang pejalan, pencerita, pekerja seni dan Diajeng Jogja 2014)