SETELAH DILAKUKAN VERIFIKASI

186 SKTM Dicabut, 27 Didiskualifikasi

Kepala BP2MK Wilayah V Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Gunawan yang didampingi Kasie SMA, dan Kasie SMK saat memberikan keterangan.(Foto:Driyanto)

PURWOKERTO, KRJOGJA.com - Setelah diakukan verifikasi oleh pihak sekalolah, sebanyak 186 pengguna Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PBDB) SMA tahun 2018 di Banyumas dicabut oleh pendaftarnya, dan 27 SKTM dinyatakan diskualifikasi, karena tidak sesuai kriteria keluarga tidak mampu. 

Kepala Balai Pengendali Pendidikan Menengah dan Khusus (BP2MK) Wilayah V Dinas Pendidikan dan  Kebudayaan Jawa Tengah, Gunawan yang didampingi Kasie SMA Yuniarso, Kamis (12/7/2018) di kantornya di Purwokerto menjelaskan, jumlah pendaftar peserta didik baru SMA Negeri di Banyumas sebanyak 6.170 sedang daya tampung yang ada sebanyak 5.327.

Baca Juga: Indonesia Masuk Daftar UNESCO Global Geoprak, Apa Untungnya?

"Dari pendaftar didik baru, sebanyak 6.170 yang menggunakan SKTM  sebanyak 1.590.Kemudian setelah diverifikasi sebanyak 27 SKTM diskualifikasi setelah diakukan verifikasi, dan 186 SKTM dicabut oleh pendaftar," kata Gunawan. Meski begitu ada dua SMA Negeri yang masih tidak memenuhi daya tampung yakni SMA Sumpiuh kurang 51, dan SMA Negeri Patikraja sebanyak 37. 

Selanjutanyan untuk pendaftar peserta didik baru di SMK Negeri di Banyumas  sebanyak 5.130 dengan daya tampung yang ada sebanyak 4.255. Dari pendaftar sebanyak itu yang menggunakan SKTM  sebanyak 2.823, Kartu Indonesia Pintar (KIP) 695, dan pendaftar reguler 1.612. Kemudian pendaftar yang mencabut SKTM 123. 

Baca Juga: Spesial, Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018 Ternyata Cukup Lama

Dengan demikian pendaftar yang menggunakan SKTM dan KIP mencapai 2.857 atau 76.1 persen.Untuk dayang tampung SMK ada dua SMK di Banyumas tidak memenuhi kuota karena kurang minatnya pendaftar yakni SMK Negeri Kalibagor, dan SMK Banyumas.

Gunawan, menambahkan secara umum PBDB di Banyumas berjalan lancar, meski sempat ramai karena penggunakan SKTM, namun setelah ada verifikasi oleh pihak sekolah akhirnya bisa diatasi."Ini merupakan proses pembelajaran bagi kita semua," kata Gunawan.(Dri)

Tulis Komentar Anda