Gaya Hidup Editor : Danar Widiyanto Jumat, 13 Juli 2018 / 07:10 WIB

Tak Ada Pengguna Indonesia Jadi Korban Cambridge Analytica, Ini Kata Facebook

SKANDAL penyalahgunaan data pengguna Facebook yang dilakukan oleh firma analisis Cambridge Analytica memasuki babak baru. Facebook baru-baru ini mengungkap temuan baru dari hasil investigasi.

Informasi ini diketahui langsung Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangerapan dalam keterangannya, setelah sebelumnya Facebook mengirimkan surat pemberitahuan.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Adapun isi dalam surat itu, perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu memastikan tak ada pengguna asal Indonesia yang menjadi korban penyalahgunaan data oleh Cambridge Analytica.

"Dalam investigasi awal, Facebook menyebut tak ada pengguna asal Indonesia yang datanya diambil oleh Cambridge Analytica," tutur Semuel kepada Tekno Liputan6.com, Selasa (10/7/2018).

Selain itu, raksasa media sosial itu juga memperbarui data jumlah pengguna yang disalahgunakan. Menurut Semuel, data pengguna Facebook yang disalahgunakan seluruhnya ada di Amerika Serikat.

"Sebelumnya, disebutkan ada 87 juta pengguna Facebook yang terdampak, tapi dari laporan terkini, hanya ada 30 juta pengguna dan seluruhnya berada di Amerika Serikat," tuturnya menjelaskan.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Semuel, Facebook memastikan tak ada kebocoran data pengguna. Media sosial itu menegaskan tak ada sistem keamanan yang dibobol oleh Cambridge Analytica maupun rekanannya.

"Facebook menyebut akses data oleh aplikasi itu terbatas pada informasi yang disetujui pengunduh aplikasi untuk dibagikan, sesuai dengan pengaturan privasi mereka sendiri," ujarnya.

Karenanya, pria yang akrab dipanggil Semmy tersebut menuturkan, batasan data yang dapat dibagi itu sebenarnya tergantung pada masing-masing individu pengguna.

"Jadi, memang di media sosial itu seluruhnya ada di kita (pengguna), termasuk soal pengaturan privasi. Jadi, ada yang membuka datanya, ada pula yang membatasinya," tuturnya menjelaskan.

Kendati demikian, ia memastikan pihaknya masih terus melakukan pengawasan, mengingat investigasi masih dilakukan. Ia pun menegaskan pada penyedia layanan di Indonesia harus mematuhi aturan, terutama soal privasi data.(*)