Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Kamis, 12 Juli 2018 / 21:33 WIB

Anomali Cuaca, Kualitas Tembakau Tak Maksimal

BOYOLALI, KRJOGJA.com - Anomali cuaca belakangan ini membuat sejumlah petani tembakau jenis rajangan yang banyak ditanam di wilayah lereng pegunungan Merapi-Merbabu pesimis kualitas panenan tembakau prima. Sejak mulai musim tanam Mei kemarin, pertumbuhan tembakau kurang bagus dibanding musim tanam sebelumnya. 

"Biasanya mulai tanam tembakau pada bulan Maret, namun saya dan banyak petani tembakau lainnya baru menanam bulan Mei kemarin, jadi memang terlambat menanam," kata Slamet Muslih (49), salah satu petani tembakau di Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Kamis (12/7). 

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

BACA JUGA :

Jualan Tembakau Gorila Lewat Instagram, Mahasiswa Disel

Pahami Iklim Agar Tanam Tembakau Sukses

 

Perihal keterlambatan menanam tersebut, katanya, karena anomali cuaca yang membuat petani ragu. Pada Maret-April kemarin, intensitas hujan masih tinggi sehingga belum menunjukkan tanda yang baik untuk memulai musim tanam. 

Intensitas hujan baru menurun di bulai Mei, sebab tembakau membutuhkan sedikit hujan saat awal masa tanam, karenanya ditanam saat peralihan musim. 

"Cuacanya kurang bagus untuk tembakau. Padahal petani tembakau hanya menggunakan ilmu titen saja untuk membaca cuaca, sehingga kalau ada perubahan iklim seperti sekarang banyak yang kelabakan," ungkap petani tembakau Parno (62). (Gal)