DIY Editor : Agus Sigit Kamis, 12 Juli 2018 / 05:48 WIB

Guru BK Jangan Hanya Tangani Anak Nakal!

SLEMAN, krjogja.com, Peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) pada sekolah-sekolah di Indonesia kerap tereduksi dalam praktik di lapangan. Dalam pandangan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN), BK hanya bertugas mengawasi anak nakal alih-alih memberi bimbingan dan panduan (counsel) secara menyeluruh sesuai dengan nama julukannya.

Isu tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ABKIN yang digelar di Hotel Grand Keisha Yogyakarta pada 10-11 Juli 2018. Ketua Dewan Pembina ABKIN Prof. Sunaryo Kartadinata menekankan pentingnya reorientasi BK agar profesi tersebut tak sekedar dipandang sebagai security bahkan keranjang sampah sekolah.

"Guru BK selama ini diposisikan sebagai security sekolah, tugasnya mengawasi anak nakal atau yang menunggak SPP. Mereka nantinya dibuang kepada guru BK seakan menjadi keranjang sampah. Itu konsep yang keliru, guru BK tidak selayaknya dan jangan hanya bertugas menangani anak nakal," ujar Sunaryo dalam Konferensi Pers di sela-sela Rakernas ABKIN.

Reorientasi BK tersebut dalam pandangan ABKIN, selayaknya dilakukan dengan cara mengubah pendekatan yang selama ini berlangsung di sekolah. Menugaskan BK hanya untuk menangani anak nakal, berarti menempatkannya dalam upaya represif. 

Senada dengan pendapat tersebut, Plt Dirjen GTK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad mengungapkan bahwa BK selama ini bertugas layaknya pemadam kebakaran. Padahal, api berupa kenakalan anak di sekolah tersebut dapat dicegah dengan cara menanamkan pendidikan karakter secara komprehensif.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 111 tahun 2014, diungkapkan oleh Hamid telah menginisiasi perubahan paradigma tersebut. Aksi-aksi preventif berupa pencegahan dan pemeragaan keteladanan atas karakter unggul, dalam pandangan Hamid harus menjadi fokus BK alih-alih menangani kasus per kasus kenakalan yang terjadi di sekolah. Karena, penanganan yang tak menyeluruh akan mengakibatkan kembali munculnya masalah serupa di kemudian hari.

"Tidak akan selesai kalau begitu, sehingga yang paling penting Guru BK tidak boleh hanya menangani anak bermasalah. Kita lebih banyak arahkan untuk peningkatan potensi anak dan menjadikannya mandiri kedepan," pungkas Hamid. (Mg-21)