Peristiwa Agregasi    Rabu, 11 Juli 2018 / 23:10 WIB

Nelayan Indonesia dan Asia Tenggara dalam Incaran Perbudakan di Laut

JAKARTA, KRJOGJA.com - Perbudakan di laut menjadi salah satu isu krusial yang jarang terungkap ke permukaan. Menurut Shannon Service, seorang jurnalis investigasi lepas asal Amerika Serikat (AS), hal itu dikarenakan pemantauan tentang kondisi layak kerja di lingkup maritim masih rendah.

Baca Juga: Pemerintah Minta TKI Ilegal di Malaysia Segera Pulang

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

"Para buruh di industri perikanan, terutama yang ikut menjaring ikan di laut lepas, banyak yang dipersulit aksesnya untuk kembali berkomunikasi dengan rekan dan keluarga di dara. Mereka dipaksa kerja selama berbulan-bulan dengan upah yang sangat sedikit, bahkan ada yang tidak dibayar sama sekali," ujar Service ketika ditemui dalam agenda diskusi tentang isu perbudakan di laut, yang digelar oleh @america di Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Ditambahkan oleh Service, bahwa kasus perbudakan tersebut banyak terjadi di Asia Tenggara, yang dikenal sebagai wilayah pengekspor ikan dan produk laut terbesar di dunia.

Bahkan, disebutkan pula bahwa ada warga negara Indonesia yang turut terjebak dalam pusaran perbudakan tersebut. Mereka kebanyakan berasal dari wilayah Benjinu di Maluku dan Papua Barat.

"Mereka (budak laut asal Indonesia) banyak bekerja di kapal-kapal tanpa bendera resmi, yang seringkali melakukan pencurian ikan di Segitiga Pasifik," jelas Service, sesaat setelah pemutaran cuplikan film dokumenter tentang isu perbudakan di laut, yang ia buat bersama dengan beberapa rekan pemerhati HAM lainnya.

Film dokumenter berjudul Ghost Fleet itu, diakui oleh Service, dibuat setelah ia bertemu dengan sosok wanita inspiratif asal Thailand bernama Patima pada 2012, yang mengelola lembaga swadaya untuk membantu para nelayan lepas dari perbudakan di laut.

"Dia wanita kuat, yang bekerja untuk membantu orang-orang ini (budak di laut), jadi film ini mengambil Patima sebagai sorotan utama, tentang upaya dan perjuangannya membantu para nelayan mendapatkan keadilan," kata Service.

Melalui cerita yang dihimpun Patima dari para korban perbudakan di laut, Service mendapatkan alur jaringan perdagangan manusia di perairan Asia Tenggara.

"Selain Thailand dan Indonesia, mereka juga berasal dari Kamboja dan Vietnam," katanya.(*)