Ragam Editor : Agung Purwandono Selasa, 03 Juli 2018 / 00:40 WIB

Selama 20 Tahun, Dosen UGM Ini Koleksi 500 Kaus Bekas Pemain Bola

SLEMAN, KRJOGJA.com - Jersey atau kaus tim bekas pemain sepak bola di Indonesia ternyata penuh makna. Setidaknya hal itu diresapi betul oleh Dimas Wibardyanto (34), dosen Teknik Arsitektur UGM yang selama 20 tahun ini mengumpulkan tidak kurang dari 500 kaus bekas pemain bola dari seluruh Indonesia.

KRjogja.com  berbincang ringan di kediaman Dimas Wihardyanto (34), di kediamannya, Jalan Kaliurang km 5 Pogung Baru. Di dunia akademis, mungkin Dimas terlihat biasa saja selayaknya dosen muda pada umumnya. Namun, ketika mulai membicarakan kaus bekas yang dikenakan para pemain sepak bola, fakta-fakta menarik tak terduga yang bahkan belum terpikirkan muncul begitu saja. 
Baca Juga :

Messi, Ronaldo atau pemain dunia saat ini sangat mudah memberikan jersey bermain kepada fans, pabrikan besar memproduksi jumlah banyak jersey tersebut bahkan yang digunakan langsung sang pemain. Namun tidak di Indonesia di mana jersey Widodo Cahyono Putro saat berhasil menendang salto di Piala Asia yang jadi salah satu gol terbaik sepanjang masa hanya ada dua saja atau bahkan satu. 

Tak heran kemudian jersey asli pemain di Indonesia menjadi sebuah barang yang sangat sakral untuk bisa didapatkan. Inilah keunikan yang ternyata bisa menggerakkan hati Dimas untuk mengoleksi jersey pemain Indonesia hingga terkumpul 500-an buah di kediamannya. 

20 tahun sudah bapak satu putra ini menjadi kolektor jersey tim nasional dan klub-klub Indonesia. Selama itu pula pengalaman di dunia “seragam bekas” setia menemani pria yang dahulu sempat menjadi penulis lepas di akun suporter salah satu klub DIY ini. 

“Sekitar tahun 1998 saya masih SMA dan kebetulan satu kelas dengan puteri almarhum Iswadi Idris, legenda sepakbola Indonesia. Saya  suka sepakbola, melihat latihan para pemain profesional dan tertarik dengan cerita-cerita para pemain di luar lapangan. Jersey pertama yang saya dapat juga karena melihat pemain saat latihan coba lapangan sebelum bertanding di Mandala Krida,” kenangnya ketika berbincang dengan KRjogja.com Senin (2/7/2018) malam. 

Seolah mendapatkan keasyikan tersendiri saat mampu dekat dengan para pemain, Dimas pun mulai memberanikan diri meminta jersey para pemain yang ditemuinya. Para pemain PSIM yang kerap disaksikannya berlatih di Mandala Krida pun akhirnya bisa dikenalnya lebih dekat yang kemudian membuka akses mendapatkan jersey. 

“Jersey pertama, kaos latihan Persebaya milik Hartono, saya dapat di Mandala Krida. Setelah itu rasanya ada kedekatan ketika mampu berteman dan mendapatkan jersey, akhirnya membuka lebih banyak relasi karena kebetulan juga aktif menulis lepas olahraga. Kalau PSIM dulu zamannya Alip Imam, Gatot Ismawan, John Rubiyo, saya senang mengobrol dan senang punya kenalan pemain, melihat keseharian mereka di luar lapangan. Ketika itu merasakan betul sepakbola hiburan rakyat,” ungkapnya lagi. 

Pendekatan personal di mana para pemain tak melihat jersey dengan imbalan uang adalah momen mengasyikkan bagi Dimas kala itu. Tak heran kemudian koleksinya semakin bertambah karena relasi baik yang dijalin dengan para pemain. 

“Untuk memiliki jersey ternyata para pemain bukan menilai dengan uang tapi kedekatan personal. Ini kepuasan tersendiri bagi saya dan ternyata hobi mengoleksi jersey terus berjalan hingga saat ini berarti sudah sekitar 20 tahunan,” sambungnya tersenyum. 

Jersey tim-tim Yogyakarta seperti PSS, PSIM dan Persiba pun menjadi salah satu koleksi utama Dimas saat ini. Banyak cerita menarik yang didapatkannya saat mendapatkan jersey-jersey pesepakbola Indonesia. (Fxh)