Gaya Hidup Editor : Danar Widiyanto Senin, 02 Juli 2018 / 04:30 WIB

Terorisme Meningkat di Dunia Maya, Perlawanan Kian Rumit

SEKERTARIS Jenderal PBB Antonio Guterres pada Kamis 28 Juni 2018 mengatakan, garis depan melawan terorisme meningkat di dunia maya, sehingga aksi perlawanan dan anti-terorisme jadi makin rumit.

Saat berpidato dalam konferensi tingkat-tinggi pertama PBB mengenai kontra-terorisme, pemimpin PBB itu mengatakan, "Teroris mengeksploitasi media sosial, mengenkripsi komunikasi dan jejaring gelap untuk menyebarkan propaganda, merekrut pengikut baru dan mengkoordinasikan serangan."

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

"Terorisme dan fanatisme yang melibatkan kekerasan merusak keamanan dan perdamaian internasional. Keduanya memecah-belah masyarakat, menambah parah konflik, dan merusaka kestabilan seluruh wilayah. Keduanya menghambat upaya kita untuk mendorong dan melindungi hak asasi manusia dan menjadi penghalang bagi pembangunan yang berkelanjutan," kata Sekretaris Jenderal PBB tersebut.

"Tantangan rumit global ini telah mencapai tingkat yang tak pernah terjadi sebelumnya," tambah Guterres.

Guterres menambahkan, "Itu memepngaruhi setiap negara hari ini."

Ketika berbicara mengenai perkembangan lain, ia mengatakan pelaku teror yang muncul di dalam negeri juga "menguji kemampuan lembaga intelijen dan keamanan dalam negeri".

Telah terjadi pergeseran, dari serangan siber yang tak terlalu canggih terhadap sasaran yang lebih empuk, ke serangan yang lebih sulit dan canggih untuk dideteksi dan dicegah, katanya.

"Karena ancaman dari terorisme terus merebak, kita harus menyesuaikan diri dan mengambil pelajaran dari apa yang berhasil dan apa yang tidak," kata pemimpin PBB tersebut.

Ditambahkannya, "Reaksi kita harus setangkas dan banyak cara seperi ancaman."

Saat merujuk kepada strategis kontra-terorisme PBB, ia mengatakan Strategi Kontra-Terorisme Global PBB dan resolusi yang berkaitan menyediakan kerangka kerja yang menyeluruh.

Kajian mengenai strategi itu pada Juni, di bawah pengawasan presiden Sidang Majelis Umum dan wakil tetap Finlandia dan Jordania "telah memberi kita kesempatan untuk mempertimbangkan di mana kita perlu memusatkan upaya kita", katanya.

"Prioritas utama ialah kita harus bekerjasama," ia menegaskan. Ia menambahkan, "sifat trans-nasional terorisme berarti kita memerlukan kerja sama banyak pihak".

"Kita harus memperkuat kemampuan lembaga dan susunan kontra-terorisme kita," katanya.(*)