KOLOM Editor : Ivan Aditya Senin, 25 Juni 2018 / 10:29 WIB

Kuasa VAR di Piala Dunia

PENGGUNAAN Video Assistance Referee (VAR) dalam penyelenggaraan pertandingan Piala Dunia 2018 mendatangkan perspektif baru dalam sepak bola. Keputusan wasit yang kontroversial tereleminasi dengan adanya VAR, sekaligus para pemain tidak bisa lagi bermain-main dengan aturan pertandingan. Pelanggaran yang dilakukan pesepakbola di lapangan hijau yang kerap luput dari pandangan wasit, kini terawasi VAR. Para pesepakbola terdisiplinkan dalam normalisasi pertandingan sepak bola dengan keberadaan VAR.

VAR bahkan menjadi pesona baru dalam Piala Dunia dengan menyedot perhatian publik dan media massa. Beberapa pertandingan Piala Dunia 2018 ditentukan oleh keputusan wasit didasarkan pertimbangan VAR. Seperti keputusan memberi pinalti untuk Prancis melawan Australia, pemberian pinalti untuk Mesir dalam pertandingan melawan tuan rumah Rusia. Juga pinalti untuk Australia melawan Denmark dan menganulir gol yang dilesakkan Iran dalam pertandingan melawan Spanyol.

Relasi Kuasa

Keberadaan VAR dalam penyelenggaraan pertandingan Piala Dunia bisa dilihat dalam pendekatan relasi kuasa yang diperkenalkan Michael Foucault. Dalam karya berjudul Discipline and Punish : The Birh of Prison (1977) disebutkan tentang panopticon yang menjadi metafora bagi masyarakat ‘disiplin’ di era modernitas dan kecenderungannya yang menyebar dalam mengawasi dan menormalisasi.

Istilah panopticon yang digunakan Foucault merujuk pada sebuah model arsitektur penjara yang dikembangkan Jeremy Bentham. Karena model arsitekturnya dapat secara absolut bisa diawasi oleh pengawasnya tanpa para tahanan tahu bahwa mereka sedang diawasi. Model bangunan panopticon memungkinkan adanya pengawasan kontinyu secara diskontinyu dari segelintir pengawas kepada banyak orang yang berada di dalamnya. Di sinilah terjadi relasi kuasa antara pengawas dan yang diawasi, maka kuasa bukan lagi sekadar institusi tapi bagaimana praktiknya dijalankan.

Bagi Foucault, dalam masyarakat modern yang terpenting bukan lagi model bangunan arsitektur panopticon, namun bagaimana relasi kuasa beroperasi dalam masyarakat modern. Dalam konteks penggunaan VAR, apa yang disebutkan oleh Foucault tentang relasi kuasa menjadi menarik menjadi sebuah perspektif.

Keberadaan VAR bisa disepadankan dengan panopticon yang memungkinkan adanya pengawasan wasit dibantu dengan tim yang beranggotakan petugas operasional di Pusat Penyiaran Internasional di Kota Moscow. Tim ini terdiri dari satu orang petugas VAR dengan tiga orang asisten. Ditambah empat orang lain yang berposisi sebagai petugas operasional siaran ulang untuk pemilihan dan penyediaan potongan video insiden yang terjadi di lapangan dengan sudut pandang terbaik. VAR yang berasal dari gambar beberapa kamera yang dipasang di stadion juga memungkinkan adanya pengawasan terhadap semua detail kejadian yang terjadi di atas lapangan hijau.

Dalam relasi kuasa yang terjadi dalam sistem panopticon, instrumen kedua adalah normalisasi penilaian moral dan pemberian hukuman pada pelanggar moral. Selain dipenjarakan dalam bangunan arsitektur panopticon, orangorang yang menyimpang dan melanggar aturan dipertontonkan kepada publik. Rekaman video dari VAR bekerja dengan cara yang serupa. Para pemain yang ketahuan melanggar aturan pertandingan sepak bola terekam dalam bentuk rekaman video.

Rekaman video ini diputar secara berulangulang kepada publik melalui stasiun televisi. Lebih dari sekadar diputar dalam tayangan ulang pertandingan, rekaman video diberitakan dalam berbagai program berita televisi dan diviralkan melalui media sosial.

Maradona Jika VAR diterapkan dimasa lalu, mungkin pemain Argentina, Diego Maradona tidak dipuja sebagai pahlawan, namun akan dihukum sebagai pecundang. Pukulan kecilnya membuat bola melewati kiper Inggris, Peter Shilton dalam pertandingan perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Protes pemain Inggris tidak berguna kala itu karena belum ada VAR. Alih-alih dihukum, Argentina justru merayakan gol yang dicetak secara kontroversial ini. Media massa justru mengglorifikasi gol kontroversial yang dicetak Diego Maradona sebagai gol tangan Tuhan dalam berbagai tayangan ulang.

Glorifikasi ini tidak bakal terjadi jika saat itu VAR telah diterapkan dan Diego Maradona dihukum karena aksinya. Jika sudah ada VAR, tayangan ulang gol Diego Maradona bukannya dibingkai dalam glorifikasi, namun dibingkai sebagai pelanggaran moral yang dipertontonkan kepada publik sebagai bentuk normalisasi kuasa.

(Fajar Junaedi. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, penulis buku Merayakan Sepak bola. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 25 Juni 2018)