Ini Fakta Anak Muda yang Mudik Naik Sepeda Bekasi – Gunungkidul

Sandi saat dalam perjalanana Bekasi - Gunungkidul. (Istimewa)

SANDI Setiawan sempat ramai di media sosial beberapa hari lalu karena kegiatan mudiknya yang tidak biasa. Ia menjadi perbincangan netizen karena kenekatannya meyusuri ratusan kilometer menggunakan sepeda dari Bekasi menuju kampung halamannya Gunungkidul selama 4 hari, 8-12 Juni 2018.

Baca : Ramai di Sosmed, Pria Asal Gunungkidul Ini Mudik Menggunakan Sepeda dari Bekasi

Anak muda yang akrab dipanggil Sandi ini mengundang banyak perhatian masyarakat karena penasaran akan kisah mudiknya. Berikut fakta dan cerita tentang Sandi yang dituturkan kepada KRJogja.com belum lama ini di rumahnya.

Mudik Naik Sepeda Sejak 2016

Sandi sudah merantau ke Bekasi sejak 2005. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta. Sudah menjadi rutinitas bagi dirinya, setiap lebaran pulang untuk bertemu keluarga.

Sandi mengaku, dahulu saat pertama kali mudik pada tahun 2006 ia hanya sekali saja naik angkutan umum yaitu bis. Tahun-tahun selanjutnya hingga 2015 ia mengendarai motor. Kemudian dari tahun 2016 sampai 2018 ia mudik naik sepeda. Jadi, mudik dengan sepeda sudah ia lakukan sebanyak tiga kali.

Ditemui di rumahnya Sambirejo, Semin, Gunungkidul, Sandi yang kini berusia 31 menyampaikan bahwa banyak perhitungan dan persiapan yang harus ia lakukan. Bahkan Sandi sudah mulai memperhitungkan jarak dan waktu tempuh dengan speedometer motornya pada saat mudik pada tahun 2015.

Berhari-hari Merakit Sepeda

Seminggu sebelum mudik ketiganya ini, menjadi waktu yang sibuk bagi Sandi untuk merakit sepedanya. Ia membuat rincian apa saja yang perlu dipersiapkan baik dirinya maupun sepedanya.

Berhari-hari dengan dibantu tukang di bengkel sepeda, Sandi merakit sepedanya agar tetap aman dan nyaman untuk dikendarai dengan jarak kurang lebih 608 km dengan jalanan yang beraspal.

Proses penyeteman ia mulai dari ban sepedanya. Ia menggunakan ban khusus untuk melaju di jalan beraspal. Kemudian ia memasang aki dan juga aksesoris seperti lampu LED, klakson, alarm, tulisan, dan juga bendera.

Aksesoris yang Sandi pasang ini, bukan hanya sekedar fantasi saja tapi terdapat fungsinya juga. Contohnya lampu LED yang menerangi sepedanya saat perjalanan malam, sehingga dirinya dan sepedanya terlihat oleh  pengendara lain.

Setelah sepedanya jadi, ia mulai mempersiapkan diri dengan mengemas beberapa barang bawaan diantaranya baju ganti, alat mandi, berbagai jenis kunci bengkel, dan air minum. Ia sengaja tak membawa banyak barang seperti pemudik lainnya, mengingat dirinya hanya mudik dengan sepeda yang ruangnya sangat terbatas.

Sandi kemudian mendandani dirinya dengan peralatan yang menunjang keselamatannya. Mulai dari helm, jaket, sampai kneepad. Setelah dirinya siap ia mulai berangkat dari Bekasi pada tanggal 8 Juni 2018 pukul 18.30 WIB.

Pilih Susuri Jalan Pantura

Perjalanan menuju Gunungkidul ditempuh Sandi melalui jalur utara yaitu melewati Jalur Pantai Utara (Pantura) alasannya karena jalannya lebar dengan dua jalur dan relatif aman. Ia tidak memilih jalur selatan yang sering pemudik lain lewati karena jalanannya yang sempit.

Menginap di Rumah Warga  Atau Emperan Ruko

Dalam perjalanannya sandi memiliki jadwal dan juga target demi sampai rumah dengan selamat dan tepat waktu. Ia membagi waktunya menjadi 17 jam perjalanan dengan waktu pejalanan efektif pada malam hari dan 7 jam istirahat di siang hari. Sandi memilih perjalanan malam karena cuaca siang hari yang panas akan menyebabkan dirinya cepat kelelahan, sehingga perjalanan tidak efektif.

Selama 17 jam perjalanan perhari Sandi menarget dirinya harus mendapatkan kurang lebih 44 km perhari dengan kecepatan yang stabil. Sandi benar-benar mengatur kecepatannya agar tidak mudah lelah dengan diikuti mengatur speedometer pada sepeda.

Ia menyesuaikan medan yang ia lalui untuk mempermudah dirinya mengayuh sepeda. Sandi juga harus berhenti setiap satu jam sekali untuk istirahat dan minum dengan waktu sekitar 10 menit.

Setelah 17 jam perjalanan, ia mencari tempat istirahat di rumah-rumah warga. Ia memilih beristirahat di rumah warga karena menurutnya lebih aman dari pada di tempat umum. Sambutan warga yang hangat terhadap dirinya juga membuatnya senang singgah di rumah warga. Namun tak jarang juga ia singgah di ruko-ruko pinggir jalan jika kesulitan menemukan rumah.

Saat waktu istirahat 7 jam tersebut Sandi melakukan aktivitas mandi, mencuci baju, dan mengisi daya aki sepedanya dan juga smartphone-nya. Kemudian ia tidur sambil menunggu jemuran dan juga daya aki dan telepon pintarnya penuh. Setelah itu lanjut lagi mengayuh sepeda.

Kisah selanjutnya : Mudik Bersepeda Bekasi ke Gunungkidul, Sandi Punya Pengalaman Seram

Tulis Komentar Anda