Pertandingan Antariklan

PESTA akbar sepakbola dunia dirayakan dalam sebentuk pergelaran Piala Dunia 2018. Berlangsung di Rusia sejak medio Juni hingga 15 Juli 2018. Seluruh media massa cetak dan elektronik memberitakan pergelaran Piala Dunia 2018. Tak ketinggalan warganet yang bermukim di jagat maya juga berpartisipasi aktif lewat jejaring medsos.

Banyaknya pemberitaan perhelatan Piala Dunia 2018 menyebabkan topik pembicaraan di ruang publik dan ruang patembayatan sosial pun didominasi pembicaraan sepakbola. Pendeknya, permainan para tokoh pengocek bola menjadi buah bibir pecandu bola. Hebatnya, berita tentang pertandingan Piala Dunia 2018 mampu meredam tren nyinyirisme warganet di medsos. Keberadaannya berhasil menggeser statistik berita politik pilkada dan pilpres yang sedang mengharubiru Indonesia.

Perhelatan Piala Dunia 2018 tidak bisa dipisahkan dengan stasiun televisi, radio, surat kabar mau pun portal berita dotcom. Mereka berlomba menyajikan dan menyiarkan setiap penyelenggaraan Piala Dunia 2018. Mereka mendesain sedemikian rupa penampakan visual perwajahan halaman dengan tayangan berbagai artikel, analisis pertandingan, foto dan ilustrasi menawan.

Sedangkan stasiun televisi, radio dan portal berita dotcom berupaya menayangkan pertandingan sepakbola Piala Dunia 2018 secara langsung. Mereka menghadirkan komentator pertandingan dengan reputasi kelas wahid. Terpenting, meski harus membayar mahal, mereka berupaya dan berlomba mendapatkan hak siar. Sebab dengan memperoleh monopoli hak siar, mereka dapat mengeruk keuntungan berlipat ganda dari perolehan iklan yang terpasang selama satu bulan tayangan acara tersebut.

Maka tidak dapat dipungkiri penyelenggaraan Piala Dunia 2018 ini sebenarnya bukan pertandingan sepakbola antarnegara di dunia, melainkan pertandingan antariklan merek produk barang dan jasa di seluruh dunia. Hal itu dapat dilihat berbagai macam iklan yang dipasang di sekeliling stadion saat pertandingan sepakbola itu berlangsung.

Siapakah diuntungkan? Tentu yang paling diuntungkan dalam pertandingan sepakbola Piala Dunia 2018 para produsen barang dan jasa. Mereka sengaja menempatkan iklannya di seputar stadion tempat pertandingan berlangsung. Mereka juga memasang desain iklan lainnya di media massa cetak, televisi dan ruang publik.

Atas penetrasi iklan di seluruh frekuensi tayangan pertandingan sepakbola Piala Dunia 2018, dapat dibayangkan betapa mudah dan familiarnya berbagai macam merek produk barang dan jasa menancap dalam benak penonton. Mereka berhasil melakukan aksi gendam visual kepada konsumen loyal atau calon konsumen potensial.

Penyelenggaraan Piala Dunia 2018 semakin menguatkan tengara sepakbola menjadi window display pertandingan antarmerek dagang dunia yang dimiliki jejaring kapitalisme global. Mitos bobrok dan berkibarnya sebuah klub sepakbola. Mitos cemerlang dan meredupnya karier pemain bola, pelatih dan wasit tidak dapat dilepaskan dari cengkeraman pemilik modal yang berafiliasi dengan jejaring kapitalisme global. Atas hal tersebut, sepakbola kemudian dijadikan salah satu instrumen bagi suatu tindakan strategis bertujuan komersial.

Profesionalisme dalam olahraga sepakbola pun menggandeng mitos seputar keharusan untuk memenuhi semuanya dalam takaran uang. Sebab timbangan profesional di dalam ranah olahraga senantiasa bergantung dari harga jual beli pemain dalam kumparan triadik pelatih, manajer dan penyandang dana.

Atas nama profesionalisme tersebut, dukungan dana atau sponsor pertandingan yang bersumber dari perolehan iklan merek produk barang dan jasa menjadi kebutuhan pokok di balik gemerlapnya penyelenggaraan Piala Dunia 2018. Akibatnya, olahraga sepakbola tidak dapat lagi membebaskan diri dari muatan nilai komersialisme yang ditebarkan merek produk barang dan jasa yang dikelola jaringan kapitalisme global.

Selain menebar teror komersialisme, tontonan pertandingan sepakbola Piala Dunia 2018 menjadi candu dunia. Ia sukses menjalankan aksi gendam visual bagi pecandu bola. Dalam perspektif budaya visual, Gendam visual tersebut dapat menyebabkan pecandu bola kehilangan akal sehatnya. Ia mendadak bersalin kepribadian menjadi anak kecil yang merengek tidak sabar menanti datangnya pertandingan bola.

(Dr Sumbo Tinarbuko. Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 23 Juni 2018)

Tulis Komentar Anda