Ekonomi Editor : Agung Purwandono Sabtu, 23 Juni 2018 / 00:25 WIB

Anak Muda Bantul Ini Produksi Jersey Sepak Bola yang Diakui Internasional

BANTUL, KRJOGJA.com - Berangkat dari hobi masa kecil, pemuda asal Bantul ini memroduksi jersey atau kostum sepak bola yang bukan hanya jadi koleksi orang di Indonesia. Predikat jersey pertama asal Indonesia yang terpampang di etalase website kolektor jersey terbesar dunia, Classic Football Shirts (CFS) sempat disandang beberapa tahun lalu. 

Dwi Mei Sulistya (28) pemuda warga Banguntapan Bantul memang terkesan biasa saja saat ditemui KRjogja.com Jumat (22/6/2018) di sebuah rumah produksi kawasan Banguntapan Bantul.  Namun siapa sangka dibalik wajah sederhananya, pemuda yang akrab disapa Sulis ini merupakan salah satu produsen apparel lokal klub sepakbola yang diakui hingga dunia internasional. 

Salah satu prestasinya adalah sebagai 100 besar jersey terbaik dunia versi goalcom 3 kali disandang sejak 2014 lalu. Salah satu diantara sedikit di Indonesia yang mampu meraihnya. 

KRjogja.com berkesempatan berbincang lebih jauh dengan pemuda pemilik brand apparel Reds ini. Brand ini pula yang sejak 2013 dikenal luas setia melekat di tubuh para pemain Persiba Bantul dengan berbagai keunikan tema yang diusung. 

Awalnya Rugi 

Obrolan pun dimulai dari awal ketertarikan Sulis hingga menjadi produsen jersey sepakbola. Ternyata, jawabannya adalah ketika di masa kecil ia kerap diajak sang ayah untuk “wisata jersey” di pasar yang ada di wilayah Solo Jawa Tengah. 

“Setiap satu bulan sekali saya selalu berburu jersey klub sepak bola bersama bapak saya di Solo, pasti saya minta pada penjualnya untuk memilihkan yang paling jarang ada di lapaknya. Paling ingat betul jersey Perugia yang Nakata," kata lulusan Advertising FISIP UAJY ini.

Kesukaannya terhadap jersey sepak bola masih sama dengan masa kecilnya. Bahkan saat ini jersy bukan hanya soal hobi tapi juga menghidupi. 

Seperti menemukan passion dalam dirinya, Sulis yang mempelajari dunia periklanan dengan segudang ide yang harus dimiliki lantas berupaya terjun ke dunia bisnis seragam sepakbola setelah lulus kuliah. Jadilah Persiba Bantul, tim asli dari brand Reds berasal menjadi klub profesional pertama yang menggunakan jasa produk Sulis. 

“Saya tertantang mendukung tim daerah yang sebenarnya saya banggakan. Jadilah pada tahun 2013 Reds memroduksi jersey resmi Persiba Bantul yang kala itu main di kompetisi Indonesia Premier League (IPL). Tapi itupun masih merugi hingga dua-tiga tahun kedepan karena penjualan jerseynya tak sebanding dengan biaya produksi,” kenangnya terkekeh. 

Baca Juga : 

Yogya Dulu Punya Turnamen Sepakbola 'Cekeran' yang Melegenda
Turnamen Bal Plastik Telurkan Banyak Pemain Profesional
Turnamen Pakualaman “Liga Champion” Bal Plastik Yogya

Fokus Pembuatan Jersey Klub Kecil

Meski begitu, di sisi lain Sulis bersama dua rekannya yang lain yakni Adhi Nugraha Kijing dan Nugroho Susanto mendapat keuntungan lantaran brand Reds menjadi dikenal secara lebih luas. Beberapa klub pun lantas tertarik bekerjasama yang lalu menaikkan penjualan pada para pecinta jersey sepakbola di seluruh dunia. 

“Kami memang menangani klub kecil yang tidak dikenal luas, tapi jersey buatan kami laku bahkan hingga ke Skotlandia dan Meksiko, lebih mahal ongkos kirimnya daripada harga jerseynya sendiri. Tapi ternyata produk kami yang asli Bantul ini diapresiasi kolektor dunia,” imbuhnya tersenyum. 

Untuk membuat usaha apparel Reds tetap hidup, Sulis yang kini fokus sendiri mengelola mengandalkan penjualan pada para kolektor di seluruh dunia. “Pasti kalau musim baru, kolektor sudah bertanya Reds pegang klub mana saja dan nanti mereka akan membeli tidak peduli meski itu hanya Persiba yang kini di Liga 3 atau bahkan Persig Gunungkidul yang di tingkat regional DIY,” sambungnya bangga. 

Untuk proses produksi, Sulis tetap mengandalkan sumber daya lokal mulai dari desainer hingga penjahit dan pemasaran. Dalam satu bulan, Reds bisa memproduksi hingga 1000 jersey apabila sedang menangani sebuah tim. 

“Ada enam orang tapi ketika musim baru ya bertambah karyawan lepas. Mencari bahan, menjahit dan packaging semua dilakukan sendiri. Di sini kepuasan sekaligus otentiknya Reds asli Bantul. Saat mendesain juga begitu, kami semua braindstorming mencari ide terbaik yang dituangkan dalam jersey,” sambungnya. (Fxh)