Pesta Sewu Kupat, Bupati Kudus Pamitan

Bupati Kudus secara simbolis memotong gunungan kupat dan lepet dan menyerahkan ke tokoh setempat. (Foto : M Thoriq)

KUDUS, KRJOGJA.com - Sekitar lima ribu pengunjung memadati tempat berlangsungnya  pesta syawalan Parade Sewu Kupat Kanjeng Sunan Muria di kawasan wisata Taman Ria Desa Colo Kecamatan Dawe Kudus, Jumat (22/06/2018). Tradisi yang berlangsung sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri (8 Syawal 1439 H), sekaligus menandai puncak arus balik lebaran tahun ini, khususnya bagi warga Kudus yang bekerja di luar daerah.

Prosesi budaya Sewu Kupat yang menggambarkan sejarah dan kearifan lokal itu, juga diramaikan pameran produk dan kuliner masyarakat setempat. Kegiatan tersebut menghabiskan dana sekitar Rp 100 juta, bantuan APBD dan swadaya masyarakat.

“Tradisi Sewu Kupat ini tidak boleh dikultuskan tetapi perlu dilestarikan sekaligus dikembangkan sebagai potensi wisata. Siapa pun bupatinya, tradisi budaya yang memiliki nilai kearifan lokal ini tidak boleh hilang,” pinta Bupati Kudus Musthofa, yang sudah kali ke- 11 ini hadir di kegiatan itu.

Ajang ini sekaligus dimanfaatkan Musthofa untuk pamitan sebelum purnatugas 14 Agustus 2018 mendatang, setelah dua periode menjabatjabatan atau 10 tahun memimpin Kudus. Hadir dalam kegiatan kali ini Ketua DPRD dan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat, para penggagas kegiatan sewu kupat, tokoh masyarakat dan agama, muspika dan seluruh kepala desa di Kecamatan Dawe.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Yuli Kasiyanto mengatakan, tradisi tahunan ini dimulai sejak pagi dengan pengumpulan kupat, lepet serta ampyangan (hasil bumi) yang dibentuk dalam sebuah gunungan. Setelah itu dilakukan doa bersama di Balai Desa Colo. Sebanyak  18 buah gunungan kupat dan lepet kemudian diarak dari makam Walisongo Sunan Muria menuju Taman Ria sepanjang 1,5 kilometer, sebelum dijadikan rebutan pengunjung.

Kegiatan ini diiringi gending tembang Kidung Muria karya seniman Komunitas Aji Saka. Kepala Desa Colo Kecamatan Dawe Kudus, Joni Awang Istihadi menambahkan, kegiatan sewu kupat diselenggarakan warga desa, dan Pemkab Kudus hanya menjadi fasilitator.

Parade Sewu Kupat melengkapi kegiatan wisata religius tempat ziarah makan Sunan Muria atau Umar Said- salah satu tokoh walisongo yang diperkirakan lahir abad ke-15. Untuk sampai di makam puncak Gunung Muria- sekitar 1.600 di atas permukaan laut (dpl), pengunjung harus berjalan melewati 950 anak tangga atau jalan alternatif melalui kelokan dan tanjakan tajam. Dari Kota Kudus berjarak 18 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. (Trq)

Tulis Komentar Anda