Ragam Editor : Agung Purwandono Rabu, 20 Juni 2018 / 00:06 WIB

Yogya Dulu Punya Turnamen Sepakbola 'Cekeran' yang Melegenda

YOGYA, KRJOGJA.com - Tahun 80-an hingga akhir 90-an ada turnamen sepak bola yang digilai masyarakat Yogyakarta. Pemainnya tak memakai sepatu alias cekeran, sebagian besar dimainkan anak-anak usia maksimal 12 tahun. 

Sepak bola 'bal plastik' atau bola plastik pernah menjadi keseharian anak-anak di tahun 80-an hingga 90-an di Yogyakarta. Mereka menghabiskan waktu bermain di sore hari untuk  bermain sepak bola plastik. 

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Di manapun ada tanah kosong, gawang dengan sandal yang disusun dan lebarnya dihitung menggunakan langkah kaki, mungkin jadi sebuah romantisme untuk diingat saat ini. 

Turnamen Bola Plastik, Guyub Antar Kampung

KRjogja.com ingin membahas romantisme sepakbola di Yogyakarta periode tahun 90-an hingga awal milenium baru (2000), cukup pas dengan euforia saat ini di mana hampir semua orang membicarakan Piala Dunia Rusia 2018. Namun, kali ini bukan sepakbola profesional dengan klub macam PSIM, PSS atau Perkesa Mataram, tapi sisi lain meriahnya turnamen anak-anak “bal plastik” saat itu. 

Nama-nama seperti Ajag (Anak Jagalan), Jurgent (Juru Gentong Gedongkuning), Okinawa, SAS (Sitisewu), Reno Muda (Pakualaman), Orchid, Gapuro Milano, Sepur (Lempuyangan), Bodem (Bocah Demangan) dan banyak lagi lainnya. Nama klub yang sebenarnya dimiliki kampung tersebut jadi elit dan sering kali terlibat dalam perebutan juara turnamen di Yogyakarta. 

Ada Batasan Tinggi Badan Maksimal 155 Cm

Membahas turnamen “bal plastik” yang artinya menggunakan bola plastik memang tidak akan cukup dalam sekali tulisan saja. Pasalnya, turnamen yang diadakan di banyak lokasi Yogyakarta dengan pemain anak-anak usia maksimal 12 tahun dan tinggi badan tak lebih dari 155 cm ini begitu menarik untuk ditelusuri kembali karena sudah tak lagi eksis. 

KRjogja.com pun menyempatkan mengobrol dengan narasumber yang dahulu aktif mengikuti ajang turnamen bal plastik baik sebagai pemain maupun pelatih di wilayah Yogyakarta, Yosep Antonius Joko Purwanto warga Jagalan. Obrolan pun dimulai dari awal mula dimulainya turnamen sepakbola yang ternyata melibatkan kampung-kampung di seantero wilayah Yogyakarta. 

Joko yang sempat juga aktif sebagai pemain menceritakan awal mula turnamen bola plastik ternyata ada sejak tahun 1985-an. Saat itu menurut Joko, turnamen sepak bola mulai diikuti kampung-kampung yang ada di wilayah DIY dan mulai terasa genderangnya. 

“Dari tahun 1985 itu kebetulan saya masih ikut main ikut kampung saya di Jagalan, namanya Jalesa kependekan Jagalan Ledoksari. Saat itu sepengetahuan saya mulai bermunculan turnamen-turnaman bola plastik yang dimainkan dengan ‘cekeran’ (telanjang kaki) di beberapa lokasi dan sangat ramai,” ungkapnya ketika berbincang dengan KRjogja.com Selasa (19/6/2018). 

Dalam turnamen bal plastik ini, uniknya setiap tim harus menaati peraturan dari usia pemain maupun tinggi badan maksimal. Luas lapangan juga hanya seperempat lapangan sepakbola normal dengan pemain enam lawan enam termasuk penjaga gawang. 

“Kalau yang masuk umur misalnya di bawah 12 tahun tapi tingginya lebih dari 155 cm ya tidak bisa ikut main, tidak lolos screening karena pakai maksimal tinggi badan. Itu yang membuat menarik jadi anak-anak tidak bisa mencuri umur juga karena peraturannya,” sambung Joko. 

Di Turnamen Bal Plastik Juga ada Transfer Pemain

Waktu berganti menurut Joko turnamen bola plastik di wilayah DIY terus berkembang pesat. Tim-tim yang notabene antar kampung mulai berusaha meraih juara dengan serius berlatih bahkan melakukan ‘transfer’ pemain yang sebenarnya tanpa uang besar layaknya profesional saat ini. 

“Mulai 90-an baru muncul turnamen seperti di Prawirodirjan, itu pinggir Code lapangannya benar-benar harus dibendung dulu sebelum turnamen. Tapi seru sekali, pesertanya semakin banyak dan sempat bertahan hingga beberapa lama rutin setahun sekali, mulai juga mengambil pemain yang rata-rata dari Sekolah Sepak Bola (SSB),” sambung Joko. 

Baca Juga : 

Yogya Dulu Punya Turnamen Sepakbola 'Cekeran' yang Melegenda
Turnamen Bal Plastik Telurkan Banyak Pemain Profesional
Turnamen Pakualaman “Liga Champion” Bal Plastik Yogya

Pada periode 90-an tersebut menurut Joko turnamen bal plastik di wilayah DIY menemui masa keemasan. Setiap tahun paling tidak ada tujuh hingga delapan turnamen yang terus bergiliran diadakan dari kampung penyelenggara satu ke yang lainnya termasuk di Lapangan Sewandanan Pakualaman. 

“Jadi kalau pemain saat itu yang usianya 11-12 tahun bisa seperti profesional setahun main dari turnamen satu ke yang lainnya, karena memang penikmatnya luar biasa semakin banyak. Kampung-kampung membuat tim dan mengelola dengan serius, guyub antar warga kampung untuk jadi juara, termasuk di Jagalan yang membuat klub Ajag kependekan Anak Jagalan,” kisahnya. 

Turnamen bal plastik sendiri saat ini sudah tak lagi ditemukan karena tergerusnya lahan yang biasanya dijadikan sebagai lapangan pertandingan. Pun begitu, masuknya cabang futsal membuat arah permainan si kulit bundar berubah ke lapangan-lapangan yang bersekat jaring tersebut. 

“Terakhir sekitar tahun 2003 termasuk di Pakualaman dan Suryoputran, setelah itu tidak ada lagi sampai sekarang. Padahal ketika ikut turnamen misalnya di Jagalan masyarakatnya bisa guyub, berpartisipasi bahkan ibu-ibu ikut memasak menyiapkan makan. Sayang sekali memang, hanya tinggal cerita,” pungkas Joko. (Fxh)