Ragam Editor : Agung Purwandono Kamis, 14 Juni 2018 / 01:35 WIB

Benarkah Batu Alien “Wajah” Ki Juru Taman?

SLEMAN, KRJOGJA.com - Tulisan KRjogja.com bersama penulis “Keluarga Tak Kasat Mata”, Bonaventura Genta tentang Merapi dan misteri Ki Juru Taman ternyata belum usai. Mitos tersebut masih terus menyisakan tanya hingga akhirnya Bonaventura Genta menceritakan akhir dari Ki Juru Taman yang ‘perjanjiannya’ dengan Mataram dianggap telah usai saat orang Jawa kehilangan Kejawaannya. 
 
Kali ini Genta mengarahkan cerita ke Batu Alien yang berada di kawasan Kepuharjo Cangkringan Sleman. Batu tersebut konon berasal dari kawah Merapi yang ikut ditumpahkan bersamaan dengan Erupsi besar tahun 2010 lalu. 
 
Warga sekitar diketahui menemukan batu yang sekilas berwajah mirip makhluk asing tersebut pada 2011 dan hingga kini masih dijadikan objek wisata sepaket dengan Lava Tour. Tak heran banyak orang yang berduyun-duyun berkunjung dengan bumbu cerita kearifan lokal dari masyarakat, tentang Merapi. 
 
Genta pun mulai menganalogikan batu tersebut dengan sosok Ki Juru Taman, sang raksasa mandraguna yang setia menjaga Yogyakarta dari efek letusan Merapi beberapa waktu kebelakang. Sebuah pernyataan mencengangkan pun muncul dari Genta yang memang sempat menulis banyak kisah mistis tanah Jawa di sosial media @kisahtanahjawa. 
 
“Kalau pernah mendengar soal batu alien, analogi saya mengatakan batu ini bisa jadi adalah kenang-kenangan terakhir dari Merapi untuk Ki Juru Taman. Karena batu ini kalau tidak salah muncul pasca erupsi 2006 atau 2010,” ungkap Genta ketika berbincang dengan KRjogja.com. 
Baca Juga : 
 
Pernyataan Genta pada KRjogja.com sepertinya mengundang banyak pertanyaan muncul apakah hal tersebut bisa dijelaskan. Dia pun menjawab dengan cukup hati-hati, karena memang hal tersebut bersifat subjektif. 
 
“Yang pasti, mirip dengan yang pernah mendatangi mimpi saya, kemudian saya klarifikasi ke rekan yang lebih mengerti, dan benar memang sosok raksasa Ki Juru Taman mirip dengan batu ‘alien’ itu. Bukan hanya saya yang bercerita tentang hal ini,” sambungnya lagi. 
 
Jika benar batu tersebut adalah kenang-kenangan untuk Ki Juru Taman, apakah betul sosok setia ‘pelindung’ Yogyakarta dari aktivitas Merapi sudah tidak ada lagi? Tampaknya, hal tersebut akan terus jadi misteri untuk menemani cerita kearifan lokal tentang sisi lain Merapi. 
 
Terpenting, manusia, kita semua harus bisa beradaptasi dengan alam dan keinginan Merapi. Hidup berdampingan dengan Merapi, berarti harus siap dengan segala resiko dan berkah yang dikeluarkannya. (Fxh)