DIY Editor : Ivan Aditya Kamis, 14 Juni 2018 / 02:53 WIB

Ceramah Idul Fitri Jangan Bawa Politik Pratis

YOGYA, KRJOGJA.com - Tanggal 15 Juni 2018 umat Muslim akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah. Ibadah Sholat Id pun begitu dinantikan untuk merayakan kemenangan usai berpuasa melawan hawa nafsu selama sebulan.

Momen tersebut tentu saja menjadi hal yang luar biasa dan tidak ingin dilewatkan Umat Muslim termasuk di DIY. Sesi ceramah agama Idul Fitri pun begitu dinantikan untuk didengarkan yang diharapkan menyegarkan jiwa masing-masing umat.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Wakil Ketua Majelis Dakwah Indonesia DIY, Cholid Mahmud mengharapkan tidak adanya penceramah yang melakukan politik praktis pada momen ceramah sholat Idul Fitri. Menurut dia, meski berpolitik menjadi salah satu hal yang disampaikan dalam Al Quran namun para penceramah tak boleh terlibat dalam politik praktis dan menyampaikannya saat ceramah.

“Kalau politik praktis, menyebut nama orang atau pihak tertentu itu, jangan lah. Tapi kalau mengingatkan agar umat berpolitik itu boleh, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga sudah mengatakan itu bagian dari Islam,” ungkap Cholid di Yogyakarta, Rabu (13/06/2018).

Apabila mengarah ke politik praktis, menurut Cholid makna khotbah tidak akan mengena pada umat. Pasalnya, masyarakat berhak dan bebas memiliki pemikiran politik praktis masing-masing dalam hal ini memilih kelompok atau figur wakil politik.

"Masyarakat tidak mendapat kemaslahatannya, jadi mending tidak usah disampaikan. Tapi saya kira menurut pandangan pribadi tidak akan ada ceramah yang memuat ujaran kebencian atau politik praktis khususnya di DIY,” ungkapnya.

Cholid sendiri menyampaikan kepercayaan bawasanya di wilayah DIY pada khususnya, penceramah sudah memahami betul hal tersebut dan tidak akan terjebak dalam ujaran kebencian ataupun hal negatif lainnya. “Pada dasarnya semua ceramah itu baik, tidak ada yang berniat buruk atau malah melakukan ujaran kebencian. Kalau membangun kesadaran masyarakat untuk kritis dan memilih orang yang baik, itu tidak apa-apa,” sambung pria yang juga anggota DPD RI ini. (Fxh)