KOLOM Editor : Ivan Aditya Rabu, 13 Juni 2018 / 23:15 WIB

Menyoal Kembali Kekerasan Berujung Kematian

PUBLIK Yogya kembali tersentak kaget dengan kejadian kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Kejadian yang sangat sadis karena korban mengalami sabetan senjata tajam ketika berada di dalam boncengan motor kawannya. Ironisnya korban baru saja pulang dari kegiatan sosial di waktu dini hari di salah satu jantung kota Yogya, dekat dengan kampus Gadjah Mada. Korban sempat dilarikan ke salah satu rumah sakit namun jiwanya tidak tertolong.

Pertanyaan tiada guna seperti kenapa harus ke luar dini hari untuk kegiatan sosial? Kenapa penegak hukum dalam hal ini tidak jeli melihat potensi kekerasan di jalanan? Kenapa ada pelaku kekerasan senjata tajam (sajam) tanpa alasan dan pelbagai pertanyaan bermunculan. Karena semua setuju, penghukuman melalui penjara sekalipun menangkal aksi kejam ini.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Berita paling akhir terungkap, pelakunya seorang pemuda berasal dari salah satu kawasan padat penduduk di Yogyakarta. Kemudian yang muncul dalam pikiran ada apakah gerangan dengan situasi ini? Apakah ada hubungannya dengan problem kesenjangan ekonomi di kota ini? Apakah institusi agama sudah tidak bisa menembus lagi relung-relung hati paling dalam? Atau apakah lembaga pendidikan gagal meningkatkan kecerdasan emosional sehingga gagap di ruang sosial kemasyarakatan?

Mengurai Problem

Bila melihat dari berbagai aspek, tidak bisa dipastikan bahwa kasus ini terjadi karena satu sebab saja. Faktornya akan sangat beragam. Bisa disebabkan faktor kesenjangan ekonomi yang terjadi, antara yang kaya dan sangat miskin. Kemiskinan secara sosiologi dijelaskan dari dua sebab karena faktor kultural dan faktor struktural. Sisi kultural disebabkan karena aspek dari dalam seperti kemalasan, kebodohan, tidak bisa maju dan akhirnya menjadi miskin. Sedang dari sisi struktural, miskinnya seseorang bersumber karena ada hambatan struktur yang terjadi. Seperti akses bekerja yang tidak ada, mahalnya biaya pendidikan sehingga menutup peluang untuk memiliki pendidikan baik.

Dari aspek psiko-sosial, bisa terjadi karena adanya seperti kecemburuan sosial yang terjadi. Merasa tidak adil dengan kehidupan ini sehingga siapapun dijadikan lawan. Kegagalan mengelola problem individual yang sangat sering terjadi di dunia remaja atau pemuda. Ketidakjelasan nasib dan masa depan, serta ketidakjelasan siapa yang dijadikan panutan, karena remaja atau pemuda sangat sering membutuhkan panutan sebagai simbol yang akan dijadikan patronnya (role model) dan tekanan sebaya (peer pressure). Sehingga menjadi kegalauan individu dan mempengaruh kegalauan kelompok. Maka kawan ‘seperjuangan’ dijadikan teman berkongsi untuk melakukan kejahatan. Berani semu karena punya kawan yang bisa dijadikan kongsi, ini adalah salah satu karakter remaja atau pemuda.

Pada kondisi tidak stabil, nilai yang dibawa oleh lembaga keluarga, lembaga agama, atau lembaga pendidikan sekalipun tidak mampu menembus problem mendasar. Karena kelompok pelaku kekerasan sudah dalam dunia yang beda. Problem individual bercampur dengan masalah sosial ekonomi yang silang sengkarut. Para pelaku mengalami kesadaran yang absurd, sehingga memunculkan perilaku yang aneh, janggal dan nir nilai (tanpa nilai). Mengalami amnesia nilai hidup.

Penutup

Pencegahan yang perlu dilakukan dari berbagai aspek, karena sumber masalah mendasar berawal dari berbagai sumber. Dari sisi penegakan hukum upaya pencegahan seperti patroli secara berkala di jam-jam rawan kekerasan dan masuk ke dalam jaringan sosial potensi kerawanan sosial sangat diperlukan. Keluarga dan lembaga pendidikan wajib bahu membahu dalam intervensi nilai ke dalam individu. Bahwa pintar tidak hanya masalah menjawab soal di ujian namun, juga pintar secara sosial yakni mampu mengambil pilihan yang baik dalam problem hidup yang senantiasa dihadapi.

Lembaga agama sebagai penjaga nilai perlu memikirkan pendekatan inovatif sehingga bisa masuk ke ruang paling dalam di masyarakat. Selain itu diperlukan skema pertumbuhan ekonomi yang berpihak kepada masyarakat. Sehingga diharapkan terjadi lingkungan yang kondusif.

(Henri Puteranto SSos MSi. Konsultan program UNALA dan Alumni Magister Manajemen Pembangunan Sosial (MMPS) Departemen Sosiologi, FISIP UI. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 13 Juni 2018)