DIY Editor : Agung Purwandono Rabu, 13 Juni 2018 / 13:59 WIB

Taqy Malik Memikat Jamaah Salat Tarawih di Sleman

KRJOGJA.COM – Para jamaah salat tarawih di Masjid Suciati Saliman, Jalan Gito-Gati, Sleman terlihat sumringah dan tertawa lepas ketika mendengarkan ceramah dari hafidz muda, Taqy Malik. Gaya kekinian dengan lelucon yang dilontarkannya mampu menarik antusias para jamaah yang terdiri dari berbagai kalangan mulai dari remaja hingga tua. 

Jamaah putri yang menjalankan salat tarawih Senin (11/06/2018) harus rela menempati basement masjid yang biasanya digunakan sebagai tempat parkir. Hal ini disebabkan penuhnya lantai 3 yang memang diperuntukkan bagi jamaah putri, sedangkan lantai 1-2 dan halaman masjid telah digunakan bagi jamaah putra. 

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Salah satu jamaah putri yang juga warga setempat mengaku bahwa masjid ini sebelumnya tidak dipenuhi oleh para jamaah seperti salat tarawih yang saat ini dipimpin oleh hafidz muda, Taqy Malik. Antusias para jamaah tidak terhalangi oleh kondisi basement masjid yang masih dipenuhi debu semen dan sisa bahan bangunan yang diletakkan di berbagai sudut basement.

Bahkan, alas salat yang digunakan para jamaah pun cukup berdebu, sehingga tak jarang ada beberapa jamaah yang bersin atau batuk. 

Endy to sik Jenenge Taqi Malik

Bagi para remaja sudah tentu tidak asing lagi mendengar nama Taqy, namun kalangan bapak-bapak atau ibu-ibu, ia hanyalah dianggap anak muda biasa. Anggapan ini berubah seketika saat Taqy berceramah tentang keutamaan shalawat dan Al-Quran dengan menceritakan pengalamannya.

Baca Juga : 

Perceraian Putri Sunan Kalijaga dan Taqy Karena Alasan Kerap Cekcok

 Banyak diantara ibu-ibu yang dari barisan belakang pindah ke arah sumber suara untuk melihat sosok yang tengah digandrungi kalangan muda. “Endi to sing jenenge Taqy? Aku arep ndelok. Jarene isih enom” (Mana sih yang namanya Taqy? Saya mau melihat. Katanya masih muda), ungkap salah satu jamaah. Antusias ini terlihat pula pada bapak-bapak yang mengabadikan foto Taqy dari kejauhan dalam kamera handphone-nya.

Antusias jamaah untuk melihat Taqy lebih dekat tidak hanya disebabkan oleh usianya yang masih muda saja. Topik yang disampaikan dengan memberikan contoh dari pengalamannya menjadi menghidupkan suasana dan lebih mudah dipahami. 

Pemuda yang semula berkuliah di Universitas Al-Azhar ini mengaku bahwa membanggakan orang tua menjadi motivasi terbesarnya untuk menghafalkan Al-Quran. Ia dikirim ke pesantren dan kembali lagi ke kampungnya untuk membuktikan keberhasilannya, sekaligus menerapkan ilmu yang telah didapatkan. 

Hal ini dilakukan dengan cara menjadi imam salat di kampungnya, meskipun pada awalnya diremehkan oleh warga karena dinilai terlalu muda. Walaupun demikian, Taqy tidak patah semangat untuk membuktikan kemampuannya hingga pada akhirnya dipercaya menjadi imam salat diberbagai tempat. 

Selain itu, Taqy juga menyarankan para jamaah agar membagikan ilmu seperti hafalan ayat Al-Quran kepada orang lain. Menurutnya, saat ini berbagi kebaikan sangatlah mudah dilakukan dengan memanfaatkan media sosial. 

“Hilangkan anggapan orang yang menganggap nge-share bacaan Al-Quran atau ajakan salat adalah riya, karena niatnya adalah mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan,” ujar Taqy. (Tita Meydhalifah)