Gaya Hidup Agregasi    Rabu, 13 Juni 2018 / 09:51 WIB

Tinggal di Desa Jadi Tempat Paling Sehat di Dunia?

KITA cenderung berpikir bahwa hidup di kota lebih tidak sehat dibandingkan di desa. Apakah benar demikian? Dari puncak gunung hingga ke lautan, BBC Future berusaha mencari tahu.

Kebanyakan dari kita pasti mengira bahwa pindah dari kota ke desa akan membuat hidup lebih bahagia, dan bahkan lebih sehat. Namun, hasil penelitian tidak sepenuhnya sejalan dengan pemikiran tersebut.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

"Yang berusaha kami lakukan adalah mendapatkan bukti apakah kondisi lingkungan memengaruhi kesehatan dan kebahagiaan seseorang," kata Mathew White, seorang psikolog lingkungan dari Universitas Exeter.

White dan peneliti lainnya menemukan bahwa ternyata banyak faktor penentu lingkungan mempengaruhi kondisi seseorang. Di antaranya adalah latar belakang kehidupan orang tersebut, kualitas dan lamanya paparan, serta apa saja aktivitas yang dilakukan.

Namun, ini tidak berarti seluruh warga kota sebaiknya pindah ke desa. Warga kota memang cenderung lebih mudah terpapar asma, alergi dan depresi. Meskipun begitu, orang kota cenderung tidak mengalami obesitas dan berisiko lebih rendah untuk melakukan bunuh diri dan mati ditabrak karena kecelakaan.

Orang kota juga cenderung lebih bahagia di masa tua dan hidup lebih lama. Meskipun kita kerap mengaitkan kota dengan polusi, kriminalitas dan stres, tetapi desa juga punya masalahnya sendiri. Sebut saja penyakit-penyakit yang dibawa oleh serangga.

Tidak hanya itu, desa juga sering menerima imbas dari berbagai hal yang dilakukan kota. Di India, sebanyak 1,1 juta orang tewas karena polusi udara pada tahun 2015. Dan 75% korbannya adalah orang yang tinggal di desa. Pasalnya, udara terbawa mengalir ke desa


Lalu bagaimana dengan ide tinggal di pegunungan? Memang, partikel polusi lebih rendah konsentrasinya di tempat yang lebih tinggi. Namun, pindah tinggal ke tempat yang lebih tinggi dari polusi, punya masalahnya sendiri.

Meskipun mereka yang tinggal di ketinggian lebih tinggi dari 2.500 meter, punya peluang yang lebih kecil untuk terkena penyakit jantung, stroke dan kanker, mereka berpotensi lebih besar untuk menderita penyakit paru-paru kronis dan inspeksi saluran pernafasan.

Karena itu, lebih baik untuk hidup di ketinggian sedang, yaitu sekitar 1.500 sampai 2.500 meter di atas permukaan laut.

Di sisi lain, ada juga argumen bahwa kita sebaiknya tinggal di pinggir laut, atau setidaknya dekat dengan sumber air. Faktanya, mereka yang tinggal di dekat laut di Inggris, lebih jarang menggunakan asuransi kesehatan dibandingkan mereka yang tinggal di tengah kota.

Secara evolusi, ini menurut White karena manusia cenderung melihat laut sebagai simbol keberagaman sumber bahan makanan. Selain itu di pantai juga bisa melakukan berbagai aktivitas olahraga, sembari menyerap vitamin D.

Selain itu, tinggal di pinggir laut juga punya keuntungan psikologis. Pada riset yang dilakukan Kampus Pearson pada tahun 2016 di Selandia Baru, terungkap bahwa warga yang hidup dengan memandangi lautan memiliki tingkat stres yang lebih rendah.

Untuk setiap tambahan 10% lautan biru yang dilihat, skala stres Kessler-nya juga akan menurun sebesar sepertiga.

Dari sana, mereka menyimpulkan bahwa "tempat hidup terbaik, jika terkait laut, adalah yang memiliki pemandangan laut hingga 20 sampai 30%. Tingkaat stres akan berkurang secara optimal." (*)