Ragam Editor : Agung Purwandono Minggu, 10 Juni 2018 / 02:43 WIB

Ki Juru Taman, Merapi dan Perjanjian yang Telah Berakhir

YOGYA, KRJOGJA.com - Runtuhnya Geger Boyo di awal bulan Juni 2006, tepatnya Minggu 4 Juni membuat luncuran awan panas Merapi langsung melaju ke arah hulu Sungai Gendol. Material vulkanik yang merupakan kubah lava Merapi tahun 1911 tersebut tak lagi bisa jadi pelindung alami wilayah selatan dan tenggara (Yogyakarta).

Setidaknya begitulah analisa ilmiah yang dikeluarkan otoritas terkait tahun 2006 lalu, saat masyarakat Yogyakarta dikejutkan dengan bergejolaknya Merapi dan gempa besar yang berpusat di Bantul, 27 Mei 2006. Ribuan warga meninggal dunia kala itu, karena gempa yang bahkan hanya terjadi 57 detik saja, Yogyakarta berduka. 

Kembali ke sisi lain, apa yang sebenarnya terjadi saat Geger Boyo benar-benar luluh lantah tidak bersisa. Apakah Ki Juru Taman yang sebelumnya diceritakan mendiami kubah lava tersebut sudah selesai menjalankan misinya menjaga anak cucu Mataram dan pergi begitu saja? 

Kembali Bonaventura Genta, penulis 'Kisah Keluarga Tak Kasat Mata'   yang beberapa waktu terakhir juga melakukan penelusuran ke Merapi menceritakan sebuah kisah pada KRjogja.com. Hampir mirip dengan cerita lama masyarakat yang mempercayai kisah sisi lain Merapi lainnya, Genta mengungkap bahwa hilangnya Geger Boyo sekaligus menjadi waktu bagi Ki Juru Taman untuk pergi dari Merapi. 

“Sejarah mengatakan, perjanjian di masa lalu bahwa Ki Juru Taman akan berhenti menjaga Merapi saat Wong Jawa Wis Ilang Jawane. Geger Boyo runtuh maka hilang pula rumah beliau yang dipercaya menjaga,” ungkapnya. 

Hal tersebut kemudian kembali dikaitkan Genta dengan kejadian erupsi Merapi yang pada 2006 dan 2010 mengarah ke Yogyakarta. “Mitos bahwa Desa Kinahrejo tidak akan terkena awan panas pun akhirnya terbantahkan oleh Merapi,” sambungnya lagi. 

Baca Juga : 

Penulis 'Keluarga Tak Kasat Mata' Ceritakan 'Pesta' di Merapi
Ki Juru Taman, 'Geger Boyo' dan Sosok Penjaga Yogya dari Letusan Merapi

Lalu apakah sebenarnya memang orang Jawa sudah kehilangan identitas Kejawaannya? Tampaknya masyarakat harus kembali bertanya pada diri sendiri dan mengintrospeksi. 

Beberapa waktu ke belakang muncul kabar bahwa penguasa Mataram kembali melakukan perjanjian dengan Ki Juru Taman. Namun begitu, Genta tak berani lagi menjelaskan lebih dalam bagaimana kelanjutan kisah sisi lain Merapi yang kadang sulit diterima nalar tersebut. 

“Mungkin kita perlu juga menghargai kehidupan di sisi yang lain, namun ke manakah saat ini Ki Juru Taman. Saya tidak bisa menjawabnya, tapi beliaulah yang dahulu mengatur lalu lintas aktivitas Merapi agar tidak sampai Yogyakarta,” pungkasnya. (Fxh)