Membongkar Resistensi

KEBUDAYAAN adalah situs perjuangan (situs kontestasi). Dalam konteks tersebut, kebudayaan berjalan dalam satu konstruksi dominasi dan hegemoni tertentu. Namun, tidak ada dominasi atau hegemoni yang sempurna. Selalu terdapat resistensi (perlawanan) dalam perjalanan budaya tersebut. Karena mereka yang terdominasi (dan terhegemoni) akan selalu memberikan perlawanan. Persaingan dimungkinkan karena terjadinya perbedaan pengalaman hidup, perbedaan ideologisasi.

Persoalannya, bagaimana bentuk dan sifat resistensi (perlawanan) dalam kebudayaan kita. Terdapat banyak cara dalam melakukan resistensi. Hal yang paling umum adalah berbagai bentuk demonstrasi, baik dalam pengertian mengkiritisi satu kelompok sosial tertentu sambil mendukung kelompok sosial yang lain. Hal yang juga banyak dilakukan adalah dalam orasi dan debat publik. Tak kalah banyaknya adalah resistensi dalam kesenian dan kesusastraan.

Perlu dipahami bahwa resistensi mengenal skala dan ruang (zonasi). Ruang terbesar tentu saja ruang global. Setelah itu ruang antarnegara, internal negara, provinsi, kabupaten dan kota dan seterusnya. Terdapat ruang-ruang lain yang bersifat internal, seperti organisasi massa atau politik, ruang kelembagaan, ruang profesional, komunitas-komunitas dan sebagainya. Dalam perspektif Bourdieu disebut sebagai arena-arena kebudayaan.

Lima Sifat

Perlu dibongkar lebih jauh sifat resistensi itu sendiri. Berdasarkan pengamatan, paling tidak terdapat lima sifat resistensi, yakni resistensi ideologis, setengah hati, manipulatif, narsis dan otentik. Sifat resistensi tersebut bisa terjadi dalam segala ruang dan lapisan yang berbeda. Namun, pembicaraan berikut lebih dalam ruang internal negara.

Resistensi ideologis sesuatu yang sering terjadi. Resistensi tersebut lebih dalam konteks persaingan kekuasaan. Kuasa ideologi dominan akan selalu diganggu dan mendapat perlawanan dari kelompok ideologi alternatif. Dominasi dan hegemoni ideologi nasional, misalnya, selalu mendapat perlawanan dari ideologi berbasis agama, atau berbasis kultur dan ras tertentu. Demikian sebaliknya.

Resistensi setengah hati adalah resistensi kelompok yang menikmati kekuasaan, tetapi tidak ikut berkuasa. Kelas menengah yang relatif mapan, para profesional, pedagang, biasanya masuk dalam kategori ini. Mereka bersikap resistensif dalam skala terbatas dan untung-untungan. Jika terjadi perubahan politik, mereka mungkin diuntungkan mungkin juga tidak. Halhal yang mereka lawan, juga dalam cara, termasuk hal-hal yang aman-aman saja. Resistensi ini biasanya tidak mengganggu kekuasaan dominan.

Resistensi manipulatif adalah resistensi yang mencoba memutarbalikkan logika kekuasaan. Resistensi memanfaatkan (dan mengatasnamakan) mereka yang terdominasi dan terhegemoni. Namun, di balik itu mereka mengincar kekuasaan, atau paling tidak berpretensi menjadi bagian dari kekuasaan. Banyak orang kampus dan para intelektual, bahkan budayawan, dalam posisi ini. Biasanya, yang paling nyaring adalah mereka yang belum kebagian nikmatnya kue kekuasaan. (Mungkin termasuk saya).

Sementara itu, resistensi narsis lebih sebagai satu ajang perlawanan yang bersifat pamer. Mereka seolah-olah melakukan perlawanan, tetapi bukan secara serius melakukan perlawanan itu sendiri. Dalam konteks ini mereka justru menikmati resistensinya sendiri dalam bentuk berbagai sikap kritis. Kenikmatan lain yang mereka dapatkan adalah semacam popularitas yang meningkatkan harga sosial dan harga ekonomi mereka. Sangat mungkin resistensi manipulatif dan narsis bertumpang tindih.

Resistensi yang otentik adalah resistensi yang dilakukan oleh mereka yang tertindas yakni petani, buruh, pengangguran yang tidak memiliki akses apapun terhadap kekuasaan. Dalam sejarah politik Indonesia adalah mereka yang pernah demonstrasi, seperti pepe dan sebagainya. Mungkin resistensi mereka berhasil mungkin tidak. Setelah mereka demonstrasi mereka pulang ke posisinya masing-masing dan tidak berpretensi mengambil alih kekuasaan.

Wong Cilik

Namun, justru para wong cilik itu pulalah yang paling mudah dikelola dan dihegemoni (ditipu). Mereka melakukan resistensi, tetapi ada pihak-pihak yang mengatur, ngompori, untuk tujuan kekuasaan. Dalam sejarah budaya politik kita, kasus ini yang banyak terjadi. Kalau toh para wong cilik ini melakukan perlawanan yang otentik, pasti skala mereka terbatas dan bersifat spontan. Hal itu terjadi karena mereka betul-betul sudah tidak tahan dengan penderitaan yang mereka alami.

Berdasarkan di atas, kita menjadi tahu kirakira posisi resistensif kita di mana. Tentu untuk menjadi jujur pun sekarang ini sulit, karena kita juga perlu bersiasat dalam menjalani kehidupan. Karena kalau kita tidak pintar bersiasat, sangat mungkin kita terlindas oleh rezim kekuasaan yang belum tentu berpihak pada kehidupan yang jujur.

(Dr Aprinus Salam. Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 8 Juni 2018)

Tulis Komentar Anda