KOLOM Editor : Danar Widiyanto Kamis, 07 Juni 2018 / 15:30 WIB

Pendidikan Anak pada Era Milenial

RAMADAN, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Al Baqarah ; 185).
Di dalam Alquran banyak yang membahas tentang posisi anak. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. (Q.S al-Kahfi ; 46). Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan.(Q.S al-Anfal ; 28). Dua ayat ini menggambarkan posisi anak dalam kehidupan dunia ini di mana harta dan anak adalah hiasan kehidupan dunia. Jika hiasan itu baik maka kita akan sangat senang dan bangga, tetapi sebaliknya, jika hiasan hidup itu tidak baik kita akan merasa sedih malu dan sebagainya.  

Pada surat Al Anfal ditegaskan, anak dan harta sebagai cobaan, maka harus dapat menerima cobaan Allah dengan sebaik mungkin. Dalam surat An-Nisa : 9, Allah berfirman "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka" ayat ini menegaskan bahwa manusia harus mempersiapkan anak keturunan yang kuat.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Kini muncul era milenial. Milenial juga dikenal sebagai Generasi Y adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. (https://id.wikipedia.org). Generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital.

Generasi milenial merupakan generasi yang terbesar saat ini, berpendidikan, paham teknologi, sadar tentang banyak isu, dan berjiwa usaha. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, untuk mempersiapkan generasi milenial menghadapi tantangan ke depan, diperlukan pendidikan karakter. Selain itu, diperlukan juga memberi kemampuan adaptasi serta memiliki pondasi yang kuat sehingga setiap mengalami perubahan tidak akan kehilangan arah.

Islam telah jelas mengajarkan tentang karakter yang harus dimiliki seseorang. Dalam Alquran surat Ashofat : 100 mengajarkan tentang permohonan kita kepada Allah agar dianugerahkan anak keturunan yang saleh, surat Ibrahim 40 mengajarkan permohonan kepada Allah agar anak cucu kita tetap mendirikan salat, karena anak shaleh akan menjadi sedekah jariyah bagi orangtuanya sebagaimana sabda rasulullah : "Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya." (HR Muslim).

Dalam surat Al Furqon 74 : kita memohon kepada Allah agar dianugerahkan keluarga dan keturunan yang menyenangkan hati serta agar dapat menjadi imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Metoda Pengajaran yang selama ini dituntunkan pada pendidik untuk dapat membangun karakter positip adalah : 1). Memberikan keteladanan, 2). Memfasilitasi, 3). Praktek, 4). Mendorong kreatifitas dan, 6). Sportif.

Dasar pendidikan karakter adalah sama, tetapi metoda dan media harus disesuaikan dengan perubahan zaman. Pepatah yang sangat terkenal "Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka, bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian". Artinya, ilmu pengetahuan dan teknologi itu berkembang sangat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya menyesuaikan dengan kondisi sekarang dan kehidupan masa depan.

Generasi milenial yang bercirikan teknologi perlu kita apresiasi. Para pendidik dan pengajar harus dapat mengisi konten teknologi dunia maya internet dengan konten yang dapat menguatkan karakter positif bagi generasi milenial. Teknologi informasi sebenarnya bebas nilai, tergantung siapa yang mengisi teknologi tersebut. Generasi X dan sebelumnya semestinya tidak menolak teknologi informasi, karena suatu keniscayaan yang harus kita hadapi dan kita sikapi. (Gita Danu Pranata, Ketua PW Muhammadiyah DIY)