DIY Editor : Ivan Aditya Kamis, 07 Juni 2018 / 13:57 WIB

Menikah Belum Terlaksana, Yeni Terserang Kanker

TATAPAN matanya tajam, tapi terlihat kosong. Berangsur badan Yeni Ning Istiati (36) terus menyusut. Kesehariannya hanya dihabiskan di atas tempat tidur. Untuk aktivitas sehari-hari harus dibantu orang lain. Termasuk saat ingin ke kamar kecil, tidak lepas dari peran keluarganya yang setia menemani.

"Kepala bagian belakang sakit sekali. Kalau untuk bangun rasanya mual. Badan juga sulit digerakkan," ucap Yeni lirih kediamannya, Gampingan WB I/726 Rt 45/10 Yogyakarta, Kamis (07/06/2018).

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Kedua orangtua Yeni, pasangan Isnomo-Eni Supenowati yang dengan setia mendampingi putri bungsunya dari tiga bersaudara tersebut tidak henti selalu memberi semangat pada gadis kelahiran 22 Februari 1982 tersebut. "Ojo mikir sing aneh-aneh. Sesuk bakale mari (Jangan berpikir macam-macam. Besok pasti sembuh)," begitu sang ibu, Eni Supenowati selalu memberi semangat pada Yeni.

Diceritakan Isnomo, sakitnya sang anak benar-benar tanpa diduga dan membuat keluarga sangat terpukul. Pasalnya, selama ini Yeni menghabiskan waktu bekerja di Tangerang. Ketika tahun 2015, ia ijin pulang untuk menikah dengan pria kekasih hatinya.

"Saat rembug sudah jadi, paling ya 2-3 bulan lagi menikah. Tapi kok tiba-tiba di payudara kiri Yeni ada benjolan. Setelah diperiksa ternyata kanker ganas. Hanya saja setelah itu langsung dilakukan operasi dan berhasil diangkat. Selang sekitar 2,5 bulan sudah bisa aktivitas normal lagi dan kembali mempersiapkan pernikahan," ungkap Eni.

Dalam kurun waktu 1,5 tahun, Yeni bisa dibilang sehat tanpa ada gangguan lagi dari kanker tersebut meski ia harus ikhlas sebelah payudaranya diambil. Tapi, tiba-tiba saja kondisinya drop. Tepatnya 30 Desember 2017, ia tidak bisa lagi berjalan. Menurut tim dokter, ada pembengkakan di batok kepala Yeni.

Karena penyebarannya sudah sampai persendian tulang, itulah yang mengakibatkan Yeni sudah menggerakkan bagian tubuhnya. Guna mengobati penyakit itu, seharusnya Yeni mendapatkan kemoterapi melalui jalur infus dengan biaya sekali pengobatan mencapai Rp 4,8 juta.

"Kalau dulu pengobatan itu ditanggung BPJS Kesehatan. Tapi sekarang tidak tercover. Jadinya kami mundur karena tidak ada biaya. Lantas sama dokter disarankan untuk kemo dengan obat yang diminum karena ditanggung BPJS meski hasilnya lebih cepat kalau pakai infus," sambungnya.

Bukan saja harus menanggung beban biaya pengobatan, Isnomo yang hanya sebagai tukang parkir dan Eni dengan keseharian buruh cuci merasa kesulitan ketika harus membawa Yeni ke rumah sakit. Padahal, paling tidak dalam sebulan ia harus 12 kali menjalani proses pengobatan. Bahkan, untuk bulan depan ia harus sebulan penuh setiap hari ke rumah sakit untuk berobat.

"Selama ini kan pakai taksi argo. Biayanya mahal. Mau pakai taksi online tidak bisa karena tidak punya handphone yang bisa aplikasi," ucap Isnomo.

Karena itulah melalui pemberitaan ini Isnomo dan Eni berharap ada dermawan yang berkenan memberikan bantuan untuk pengobatan Yeni. Paling tidak, ada yang sudi membantu dalam hal transportasi untuk membawa Yeni ke rumah sakit selain juga dalam hal pembiayaan pengobatannya.

Sementara untuk pernikahannya, Isnomo menyebut kesepakatan dengan calon besan belum dicabut. Bahkan kekasih Yeni meminta agar segera dinikahkan sehingga bisa ikut merawatnya. "Tapi saya yang tidak bisa. Saya lihat kondisi anak saya seperti itu. Padahal calonnya malah minta dinikahkan saja. Saya bilang tunggu Yeni benar-benar sehat dulu. Semoga Tuhan memberikan kesembuhan," ucap Isnomo. (Feb)