KOLOM Editor : Danar Widiyanto Kamis, 07 Juni 2018 / 14:41 WIB

Pesan Damai Dalam Al-Qadr

MENAPAKI sepuluh hari terakhir Ramadan, setiap mukmin berpuasa dianjurkan semakin konsentrasi dalam beribadah. Ibarat orang ikut lomba lari marathon, semakin mendekati garis finis, maka dia akan semakin kencang dalam berlari, seluruh tenaganya dikeluarkan untuk mencapai garis penghabisan bahkan berazam menjadi sang pemenang.

Dalam banyak riwayat dijelaskan, di sepuluh hari terakhir ini Allah menjanjikan kebaikan yang nilainya tak terhingga, yaitu malam al-Qadr. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Qadr: 3 "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan".

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Disebut malam a-Qadr paling tidak memiliki dua makna; Pertama, menurut Ali Asshabuny, dinamakan malam al-Qadr karena kemuliaan malam tersebut mengalahkan kemuliaan malam, hari dan bulan yang lain. Di malam tersebut Allah tunjukkan keagungan, kesucian dan kelembutanNYA sebagai tanda bukti kemuliaan turunnya Alquran, sebagaimana ungakapan orang Arab fulan dzu qadrin 'adzim (fulan punya kemuliaan nan agung).

Kedua, al-Qadr bermakna ketetapan (taqdir) di mana pada malam tersebut Allah menurunkan ketetapanNYA tentang kehidupan, kematian dan rezeki. Pendapat yang kedua ini merujuk pada firman Allah dalam surat al-Dukhan: 3-4 "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Alquran) pada suatu malam yang diberkahi. Dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah".

Salam Damai Malam al-Qadr
Malam al-Qadr sebenarnya juga membawa misi malam perdamaian (salam), di mana ayat kelima dari surat al-Qadr tersebut diakhiri dengan kata "salamun" yang berarti keselamatan, perdamaian dan ketenteraman. Pesan perdamaian ini menjadi isyarat bahwa untuk mendapatkan malam al-Qadr, meski bersifat privasi akan tetapi dampak dari kemuliaan malam tersebut harus bisa dirasakan oleh banyak orang, yaitu menciptakan perdamaian dan keselamatan.

Al-Sa'dy dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata salam berarti keselamatan dari setiap kejahatan dan marabahaya yang demikian itu dikarenakan melimpahnya kebaikan dan kedamaian. Keselamatan dan perdamaian yang dimaksud pada penutup surat al-Qadr tersebut tentu tidak saja hanya berlaku pada saat malam al-Qadr, lebih dari itu pesan perdamaian tersebut harusnya mengikat pada setiap diri seorang muslim untuk selalu menebar perdaiaman dan keselamatan bagi orang-orang di sekitarnya.  

Selain itu makna dan fungsi malam al-Qadr juga terletak sejauh mana seseorang yang ingin mendapatkan kebaikan malam tersebut terus menerus menyampaikan pesan damai, dan menghindarkan diri dari hal-hal yang membuat orang lain tidak nyaman. Sebagaimana karakter mukmin sejati adalah membuat orang lain merasa aman dari ancaman kejahatan lisan dan perbuatannya, demikian Nabi Muhammad mensabdakannya.

Pesan damai di malam al-Qadr menjadi sangat urgen untuk ditransformasikan mengingat beberapa waktu yang lalu Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia sedang menghadapi ancaman terorisme. Ajaran teror atas nama apapun, terlebih atas nama agama sangat bertentangan dengan spirit salamun dalam surat al-Qadr tersebut.

Salam para Malaikat kepada para pencari malam al-Qadr tidak akan memiliki makna ta'abudi jika tidak dibarengi dengan beberapa hal berikut ini; Pertama, komitmen untuk selalu menebarkan perdamaian sebagaimana hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari "...maukah kamu kutunjukkan sesuatu, apabila kamu lakukan akan saling mencintai? Tebarkanlah salam (perdamaian) di antara kamu..."
Dalam surat an-nisa; 86 Allah berfirman "..apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas segala sesuatu". Kehidupan yang damai adalah kehidupan yang saling mencintai antaranak bangsa, menghormati hak masing-masing tanpa menegasikan yang lain dan menjaga spirit kebersamaan dalam perbedaan.

Kedua, memahami pesan sentral Alquran, yaitu perdamaian. Terdapat korelasi simbolik antara surat al-Qadr yang menjelaskan tentang turunnya Alquran dengan perdamaian. Alquran adalah sumber perdamaian, jalan menuju keselamatan dan ketenteraman serta puncak dari kebijaksanaan. Maka sungguh sangat ironis tatkala segelintir orang mengatasnamakan agama (Alquran) melakukan tindakan yang bertentangan dengan pesan sentral Alquran tersebut (perdamaian). Kata salam dalam Alquran terulang sebanyak 146 kali, yang mayoritas kata tersebut bermakna anjuran untuk menebarkan perdamaian.

Ketiga, anjuran untuk selalu berdoa mendapatkan keselamatan dan perdamaina. Hal tersebut sebagaimana kebiasaan Nabi Muhammad setelah selesai mengerjakan salat fardhu selalu membaca doa "Allahumma antassalam, wa minkassalam, wa ilaika ya'udussalam, fahayyina rabbana bissalam, wa adkhilna jannata daarassalam".

Malam al-Qadr adalah malam turunnya malaikat untuk menebar kedamaian di atas bumi Allah. Maka tugas manusia selanjutnya adalah menebarkan kedamaian di antara sesamanya sebagai ciri dia mendapatkan keberkahan di malam al-Qadr. (Dr Muhajir SPdI MSI, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)