KOLOM Editor : Ivan Aditya Senin, 04 Juni 2018 / 10:29 WIB

Via Vallen, Duta Bahasa Jawa Zaman Now

SIAPA yang tak mengenal Via Vallen? Tak ada kaum muda atau generasi milenial Indonesia yang tak mengenalnya. Tidak hanya publik musik dangdut yang mengenalnya. Penggemar genre musik lain, pasti juga mengenal nama penyanyi cantik dari Jatim ini. Bahkan sebagian besar generasi dewasa / tua juga mengenalnya. Paling tidak pernah mendengar suaranya, baik lewat layar kaca, radio-radio swasta niaga, maupun sumber informasi lain, seperti Youtube.

Via Vallen termasuk penyanyi dangdut yang dalam kurun waktu 2-3 tahun belakangan ini sedang naik daun. Lagu-lagunya, yang kebanyakan berbahasa Jawa gado-gado, sampai saat ini menguasai blantika musik di tanah air, khususnya di wilayah Jateng, Jatim, DIY, serta kantong-kantong masyarakat Jawa di seluruh penjuru Nusantara dan dunia. Melalui lagu Sayang, Pikir Keri, Lali Rasane Tresna, Bojoku Galak, Kanca Mesra, Separo Nyawa, Ditinggal Rabi, Aku Cah Kerja, Kimcil Kepolen, Suket Teki, suara merdu Via Vallen menguasai ruang publik di banyak tempat.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Campursari, Congdut, Popdut

Dalam blantika musik yang berlirik Bahasa Jawa, Via Vallen adalah sebuah fenomena tersendiri. Keberadaannya masih satu garis dengan musik modern berlirik Bahasa Jawa yang ada sebelumnya, sejak Waldjinah, Koes Plus, Is Haryanto, Anik Sunyahni, Nurhana, Manthous, hingga Didi Kempot. Waldjinah dikenal melalui musik Langgam Jawa, Anik Sunyahni, Nurhana, Manthous dan Didi Kempot dengan campursarinya. Pasca Manthous, Didi Kempot menggelorakan congdut, alias keroncong dangdut. Sesudah itu, tampil Eny Sagita, Via Vallen dan Nella Kharisma dengan popdut atau pop dangdut.

Di antara era Didi Kempot dan Via Vallen ada kelompok musik hiphopdut NDX-AKA dari Yogya yang juga fenomenal. Tetapi popularitasnya agak tertutupi oleh hingar bingarnya popdut Eny Sagita, Via Vallen dan Nella Kharisma. Bahkan harus diakui, lagu-lagu ciptaan NDXAKA-lah yang ikut menghantar popularitas Via Vallen dan kawan-kawan melalui genre popdut.

Berbeda dengan keberadaan pendekar-pendekar campursari, Via Vallen dan kawan-kawan, berkembang melalui pentas keliling. Popular berkat dukungan kelompok-kelompok pencintanya di berbagai kota, juga berkat dukungan media sosial, baik Instagram, Facebook maupun Twitter. Pentas-pentas Via Vallen selalu dipenuhi kelompok-kelompok pencintanya. Dari segi medium persebaran, bila era Waljinah sampai Didi Kempot didominasi kaset pita dan CD/VCD bajakan, era Via Vallen persebaran lagu-lagunya didominasi flashdisk dan Youtube. Youtube lagu ‘Sayang’ Via Vallen, misalnya, saat ini telah ditonton 152 juta orang.

Mempopulerkan Bahasa Jawa

Kehadiran penyanyi yang penampilannya seperti artis K-Pop tanpa goyangan sensual, dalam blantika music yang berlirik Bahasa Jawa, tidaklah sama dengan maestro campursari. Bila publik musik campursari hanya terbatas pada kelompok etnis Jawa, tidak demikian halnya publik musik Via Vallen. Publik musik Via Vallen bersifat lintasetnis. Melalui lagulagu berbahasa Jawa gado-gado yang dinyanyikan, mampu menembus batas-batas etnis. Guna mempermudah pemahaman lagunya, muncul versi lagu-lagunya dalam berbagai bahasa daerah. Seperti Sunda, Batak, Minang dan lainnya. Terkadang lagu itu ditampilkan secara kolaboratif, dengan menggunakan Bahasa Jawa dan bahasa daerah lain.

Kehadiran Via Vallen cukup fenomenal. Lagu-lagu berbahasa Jawa gado-gado (yang dalam ilmu bahasa / linguistic dikenal dengan istilah ‘campurkode’ atau mencampuradukkan dua bahasa yang berbeda dalam suatu lagu, dan Bahasa Jawa tetap dominan), menjadikan penyanyi tersebut berperan signifikan dalam mempopulerkan Bahasa Jawa. Dengan demikian ia layak diberi predikat Duta Bahasa Jawa Zaman Now.

Biarlah Balai Bahasa DIY, Jateng, dan Jatim, setiap tahun menyelenggarakan pemilihan Duta Bahasa. Duta Bahasa yang dipilih Balai Bahasa pastilah generasi muda terpelajar yang penguasaan bahasa Indonesianya, dan Jawa, baik dan benar. Tetapi juga tidak ada salahnya, masyarakat Jawa, menobatkan Via Vallen sebagai Duta Bahasa Jawa Zaman Now.

Sebab bukan rahasia lagi, Bahasa Jawa yang ada di masyarakat Jawa Zaman Now, khususnya di perkotaan dan di luar pulau Jawa, adalah Bahasa Jawa gado-gado.

(Sarworo Soeprapto. Peminat masalah social dan kebudayaan. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, 4 Juni 2018)