Pendidikan Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 04 Juni 2018 / 11:41 WIB

MINIMAL DUA TAHUN

Menristek Minta Dosen LN Menetap di Indonesia

BOJONEGORO, KRJOGJA.com - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek) Prof. Mohamad Nasir meminta dosen luar negeri yang mengajar di Indonesia dengan jumlah sekitar 200 dosen untuk bisa menetap agar bisa memberikan hasil maksimal bagi mahasiswa.

"Kami minta dosen luar negeri yang sudah mengajar di Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia bisa menetap sekitar 2 tahun agar hasilnya bisa maksimal. Data yang ada di Indonesia sudah ada ya berkisar 150-200 dosen luar negeri yang mengajar di Indonesia," kata dia di Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu, (03/06/2018).

BACA JUGA :

Dosen Asing Bakal Dongkrak Reputasi Perguruan Tinggi

Dosen Asing di Indonesia Digaji USD5.000

Dosen Asing Bantu Penelitian di Kampus

 

 

 

 

 

 

Menurut Menteri Nasir selama ini dosen luar negeri yang mengajar di Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia tersebut hanya menetap sekitar sebulan kemudian kembali lagi ke negaranya. "Tapi kalau bisa menetap selama 2 tahun misalnya, maka hasilnya akan maksimal bagi mahasiswa yang belajar di S1,S2 juga S3," kata Nasir.

Terkait peristiwa tertangkapnya tiga terduga teroris di kampus Universitas Riau (UNRI), serta dua buah bom pipa besi dan bahan peledak, ia meminta kasus itu harus diusut tuntas. Bahkan, tidak ingin kasus terorisme dan radikalisme masuk ke kampus di Indonesia.

"Saya tidak ingin kasus radikalisme masuk kampus, jadi harus diusut tuntas termasuk pengelola universitasnya harus bertanggung jawab," ujarnya menegaskan.

Pada kesempatan memberikan kuliah umum untuk mahasiswa Institut Agama Islam Sunan Giri (IAIS) dan UNUgiri di Bojonegoro, ia menjelaskan ada tiga faktor rendahnya kualitas pendidikan yaitu kemampuan mahasiswa dalam berbahasa Inggris. Selain itu juga kemampuan menguasai matematika dan kurangnya publikasi ilmu pengetahuan dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Dia mencontohkan pada 2015 publikasi ilmu pengetahuan dari PT di Indonesia hanya sekitar 4.500 publikasi, masih kalah dibandingkan dengan Singapura dengan jumlah sekitar 8.000 publikasi.

"Dengan berbagai upaya akhirnya PT di Indonesia pada 2018 mampu mempublikasi ilmu pengetahuan dengan jumlah sekitar 9.500 publikasi, sedangkan Singapura hanya sekitar 8.000 publikasi," kata dia menjelaskan. (Ati)