KOLOM Editor : Ivan Aditya Kamis, 31 Mei 2018 / 14:10 WIB

Spirit Pancasila

PADA 73 tahun silam, berdasarkan kesadaran para pendiri bangsa, Bung Karno, pada 1 Juni 1945, mengumumkan kepada rakyat Indonesia, bahwa dasar Negara Indonesia adalah Pancasila. Peristiwa tersebut kini diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Sebagai dasar negara, dalam Pancasila terkandung spirit yang memberikan arah dan tujuan ke mana Bangsa Indonesia akan melangkah.

Pada peringatan Lahirnya Pancasila kali ini sangatlah relevan untuk merefleksikan kembali berbagai aspek yang berkaitan dengan tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mencermati problem kebangsaan yang belakangan ini bermunculan, mungkin menjadi sebuah alasan yang kuat untuk kembali menggali nilai-nilai kebangsaan kita, yang bersumber pada Pancasila. Yang perlu diperhatikan dan ditekankan adalah bagaimana rakyat atau warga negara yang di dalamnya ada individu, kelompok, golongan atau yang lain dapat berinteraksi dengan baik dalam wadah kebhinnekaan.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Banyak pendapat - hampir semua bersepakat — yang menggambarkan dinamika kebangsaan di tahun 2018 ini, adalah tahun kegaduhan. Akibatnya, sebagian masyarakat apatis terhadap nasib dan masa depan bangsa ini. Bagaimana tidak? Persoalan terorisme/radikalisme, tebar pesona pilkada, hingga pertarungan hoax hampir tidak henti menghiasi semua media dan tanpa sadar sebagian masyarakat ikut larut di dalamnya.

Melihat itu semua, sudah saatnya kita untuk kembali menengok sejauh mana spirit dan mentalitas kebangsaan kita. Memang tidak mudah untuk menumbuhkan rasa dan kegairahan berbangsa di tengahtengah keragaman dan persoalan yang begitu kompleks. Belum lagi kita tidak cukup mampu menahan gempuran nilai luar yang selaras dengan pengaruh dinamika global dewasa ini, seringkali kerangsek dan merusak tatanan nilai lama yang ada. Sehingga terjadilah dekadensi nilai yang berdampak terhadap runtuhnya nilai-nilai kebangsaan. Di sinilah perlunya langkah-langkah untuk merevitalisasi nilai-nilai kebangsaan yang bersumber dari ideologi yang kita miliki, yakni Pancasila.

Salah satu jalan ke luar yang ideal, strategis, dan rasional adalah rekonstruksi nilai-nilai kebangsaan dalam bingkai besar ke-Indonesiaan. Untuk itu dalam konteks revitalisasi terhadap komitmen kebangsaan, kesadaran bersama perlu digugah kembali bahwa eksistensi suatu bangsa/negara sesungguhnya karena adanya kesepakatan, komitmen dan spirit bersama. Proses pemanduan ini, terutama dilakukan segenap warga masyarakat melalui kontrol dan masukan kritis dan cerdas dalam rangka ‘menyelamatkan’ krisis kepercayaan terhadap ideologi Pancasila di era saat ini. Disadari bersama, bahwa Pancasila sebagai ideologi Bangsa Indonesia, telah dikepung ideologi lain.

Di sinilah perlunya membangun spirit ber-Pancasila dengan menggerakkan moral/kolektif nasional. Penyadaran kembali terhadap segala tantangan bangsa dan penegasan kembali Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara. Menjadi sebuah keharusan bahwa tahun 2018 dan tahun yang akan datang adalah momentum untuk menjadi bangsa yang optimis dan bangsa pemenang.

Bicara soal Pancasila tidak boleh hanya terhenti pada gagasan ideologis, melainkan bagaimana ideologi itu bekerja. Bagaimana sila-sila dalam Pancasila itu diterjemahkan dalam pengambilan kebijakan pemerintah dalam mengarusutamakan daulat rakyat atas nama dasar negara. Alangkah baiknya jika kita kembali melakukan permenungan mendalam akan nasib eksistensi bangsa kita ke depan. Dengan mengetahui perjalanan bangsa ini, sudah sepatutnya jika kita membuka lembar-lembar historisitas yang mampu mentrigger spirit kebangsaan.

Spirit ini harus tetap menyala di bawah kesadaran bahwa proses menjadi bangsa adalah perjalanan panjang yang tak pernah selesai. Semoga Pancasila tidak lagi dibahas jauh dipinggiran, dalam ruang-ruang sempit dan pengab. Apalagi dibajak para petualang politik yang tidak bertanggung jawab. Ini adalah tugas yang tiada akhir bagi kita semua. Selamat hari Lahir Pancasila.

(Hendro Muhaimin MA. Dosen Pancasila Universitas Jenderal Ahmad Yani Yogyakarta, Analis Kebangsaan di Institute for Research and Indonesian Studies, dan penggagas sinergibangsa.org. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 31 Mei 2018)