KOLOM Editor : Ivan Aditya Senin, 28 Mei 2018 / 11:40 WIB

Menghormati Merapi

SEMASA masih hidup, juru kunci Gunung Merapi Mbah Marijan melarang siapa pun berkata kasar soal Merapi. Ia pasti menegur dengan keras kepada orang yang bilang, Merapi njeblug. Sebaliknya akan dengan halus mengatakan : Merapi lagi duwe gawe (Merapi sedang punya hajat besar dan penting).

Pesan Mbah Marijan adalah eufemisme (penghalusan kata/ungkapan) yang menjadi bagian dari suba-sita(etika/tatakrama) berbahasa. Eufemisme Mbah Marijan adalah cara untuk memuliakan Merapi. Merapi tidak sebatas dipahami sebagai gunung, melainkan subjek alam yang memberi banyak manfaat dan nilai bagi kehidupan masyarakat. Untuk itu, penghormatan selayaknya diberikan kepada Merapi.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Selain itu, Merapi juga dipahami Mbah Marijan sebagai mahluk hidup layaknya manusia yang memiliki dinamika untuk menyesuaikan diri dengan hukum alam. Maka, ketika Merapi sedang erupsi, Mbah Marijan menyebutnya dengan ’sedang punya gawe’. Gawe dalam Bahasa Jawa tak sekadar bermakna ewuh layaknya orang mantu, melainkan juga bermakna kerja besar yang sangat menentukan eksistensinya. Kerja besar tersebut tidak hanya tampak pada aktivitas magmatik atau vulkanik melainkan juga terkait dengan kosmologi dan mitologi.

Orang Barat dan orang Timur memiliki perbedaan persepsi tentang alam. Bagi orang Barat, alam adalah objek yang harus dikuasai dan dieksploitasi demi kepentingannya. Termasuk gunung berapi. Orang Barat tidak punya emosi atas alam. Tidak pula mengenal tentang suba-sita bahasa dan perilaku dalam menyikapi alam. Ini tidak lepas dari paradigma yang mereka miliki seperti dirumuskan Cornelis Anthonie van Peursen dalam ‘Strategi Kebudayaan’ (1976), yakni fase mitis, ontologis dan fungsional. Bangsa Barat telah sampai ke fase fungsional, yakni memanfaatkan alam sesuai dengan fungsi dan kepentingannya.

Mereka telah melampaui fase mitis (tidak berjarak dengan alam/ada dalam mitisisme) dan fase ontologi (berjarak dengan alam). Adapun, bagi bangsa Timur, fase mitis, ontologis dan fungsional itu tidak berlangsung secara terputus-putus, melainkan berkelanjutan. Dalam menyikapi Gunung Merapi, pandangan mitis tetap saja ada misalnya dikaitkan makna spiritual, di mana ada hubungan antara Merapi, Kraton Yogyakarta dan Laut Kidul. Begitu juga pandangan ontologis dan fungsional, tetap berlaku seiring dengan perkembangan pengetahuan dan ilmu serta teknologi. Bangsa Timur memiliki pandangan yang relatif holistik (utuh) atas alam.

Dengan pandangan holistik itu, masyarakat kita memperlakukan Merapi tidak sebagai objek, melainkan subjek alam dan subjek kebudayaan yang selalu dihormati. Turunan hal itu adalah sikap arif dalam menyikapi keberadaan Merapi. Ketika Merapi sedang mengalami erupsi, maka masyarakat kita tidak melihatnya sebagai ancaman. Kata ancaman berasosiasi seolah-olah Merapi adalah musuh yang selalu memberikan penderitaan bagi manusia melalui bencana alam yang ditimbulkannya.

Merapi bukan musuh, melainkan sahabat yang telah memberikan banyak makna bagi kehidupan masyarakat. Untuk itu, istilah yang tepat digunakan adalah Merapi sedang mengalami dinamika demi menemukan keseimbangan baru berdasarkan hukum alam. Dalam pemahaman ini tidak dikenal frase bencana alam, apalagi dikaitkan dengan kutukan. Ketika Merapi ‘batuk’, hal itu mesti dipahami sebagai fenomena natural biasa terkait proses alam yang tidak pernah selesai membentuk dirinya. Manusia lah yang semestinya menyesuaikan diri melalui kemampuannya di dalam membaca gelagat dan tanda-tanda yang diberikan Merapi.

Meminjam istilah Mbah Marijan, ketika Merapi sedang duwe gawe ya masyarakat menyingkir dulu, mencari tempat-tempat yang aman. Biarkan Merapi beraktualisasi diri secara dinamis, demi menemukan keseimbangan alam. Tak perlu sumpah serapah, amarah apalagi kutuk. Kita lah yang menyesuaikan diri, bukan Merapi yang harus menyesuaikan pada kepentingan kita. Alam punya karakternya sendiri. Karakter itu tak bisa dibunuh.

Marilah kita menghormati Merapi seperti pesan yang diberikan Mbah Marijan melalui eufemismenya yang sangat cerdas.

(Indra Tranggono. Penulis adalah praktisi kebudayaan. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 28 Mei 2018)