Ragam Editor : Agus Sigit Sabtu, 26 Mei 2018 / 22:10 WIB

'Bumi Manusia' dan Kolonialisme

DIANGKATNYA karya novelis tersohor, Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Bumi Manusia” ke layar lebar oleh sutradara Hanung Bramantyo menuai beragam komentar. Meskipun masih dalam tahap persiapan dengan memperkenalkan cast list-nya pada 24 Mei 2018, banyak warganet menganggap Iqbaal Ramadhan tidak sesuai dengan karakter Minke yang akan diperankannya.

Bahkan, Hanung yang tergolong sutradara terbaik di Indonesia pun masih diragukan sanggup memfilmkan novel fenomenal tersebut. Namun, terlepas dari segala tanggapan warganet mengenai penggarapan film “Bumi Manusia”, novel dengan latar waktu akhir abad ke-19 ini menunjukkan respon atas berlangsungnya kolonialisme di Indonesia yang pada zamannya disebut dengan Hindia Belanda.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Tokoh Minke yang akan diperankan oleh Iqbaal dalam filmnya nanti tergolong memiliki karakter yang kompleks. Ia merupakan seorang putra dari bupati yang menempuh pendidikan hingga tingkatan Hogere Burger School (HBS).

Melalui sekolahnya, Minke banyak mempelajari hal baru yang membuatnya memiliki cara pandang seperti orang-orang Eropa dan lebih kritis menanggapi kehidupan di sekelilingnya. Ia juga tak lagi tunduk pada adat jawa yang diagungkan oleh keluarga bangsawannya. Dalam perjalanannya, Minke menjalin asmara dengan Annelies yang merupakan anak dari seorang gundik bernama Nyai Ontosoroh.

Pada saat itu, kedudukan gundik benar-benar dianggap rendah oleh masyarakat karena ia dijual kepada orang Eropa untuk dijadikan istri simpanan selama berada di Hindia Belanda. Meskipun dipandang rendah, Nyai Ontosoroh berhasil mendapatkan pengetahuan Eropa dari suaminya yang seorang pengusaha Belanda bernama Herman Mellema.

Dengan pengetahuan yang dimilikinya, Nyai Ontosoroh dapat mengurus perusahaan milik suaminya dan memiliki pemikiran yang jauh lebih maju daripada wanita sezamannya.

Melalui tokoh-tokoh yang dimunculkan, novel ini dengan jelas memperlihatkan adanya hukum kolonial yang bermuatan sangat rasis. Adanya hukum tersebut menekankan dengan tegas adanya garis batas yang jelas antara Eropa dan bumiputera.

Dalam tesis berjudul Kontak Budaya Pribumi dengan Kolonial dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Siti Subariyah menjelaskan bahwa bumiputera menempati posisi inferior. Dalam posisi tersebut, bumiputera dituntut untuk tunduk dan mengabdi pada pemerintah kolonial yang bertindak lebih superior.

Adanya kolonial Barat yang berlaku superior daripada bumiputera salah satunya dijelaskan oleh Edward Said dalam bukunya berjudul Orientalisme. Ia memaparkan bahwa orang-orang Barat (Eropa) selalu menganggap inferior orang Timur karena bagi mereka, Timur adalah sesuatu yang eksotis, penuh takhayul, dan tidak rasional. Oleh karena itu, Barat menganggap bahwa mereka memiliki peradaban yang jauh lebih tinggi daripada Timur.

Meskipun telah ada struktur yang membedakan atas inferior dan superior, Minke yang dikategorikan sebagai bumiputera tidak dapat sepenuhnya dianggap inferior dan mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang bumiputera kebanyakan karena dia memiliki darah bangsawan. Hal lain yang membuat Minke tidak sepenuhnya inferior adalah pendidikan Eropa yang telah mengubah pola pikirnya menjadi lebih maju diantara bumiputera lainnya.

Seperti halnya Minke yang tidak bisa dilihat dengan hitam-putih, Annelies pun memiliki kasus yang sama. Status Annelies sebagai peranakan Belanda tidak dapat diakui oleh hukum kolonial karena pernikahan kedua orang tuanya tidak dilakukan secara sah. Di sisi lain, Annelies dianggap Eropa, meskipun ia memiliki darah bumiputera.

Rumitnya status yang diberikan oleh hukum kolonial terlihat pula dalam kebijakan yang mengatur tentang harta milik orang Belanda yang bergundik. Istri sah dari Herman Mellema yang berada di Belanda dapat mengganggu gugat harta milik Nyai Ontosoroh bersama suaminya.

Padahal, dalam “Bumi Manusia” dikisahkan bahwa Nyai Ontosoroh ini mampu memiliki kekayaan lebih atas kerja kerasnya sendiri dalam mengembangkan usaha yang sebelumnya dimiliki oleh suaminya.

Kompleksitas cerita dalam “Bumi Manusia” dapat memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat mengenai suatu kasus seperti pergundikan yang jarang dijelaskan dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Bahkan, masyarakat juga akan memahami bahwa sejarah tidak dapat dilihat hanya dengan hitam-putih mengenai orang Belanda dan bumiputera saja.

Akan tetapi, masih ada tumpang tindih seperti tokoh Minke dan Annelies. Contoh lainnya dapat dilihat pada disediakaannya Forum Privilegiatum oleh pemerintah kolonial. Forum tersebut diperuntukkan bagi orang-orang seperti Minke yang berkedudukan sebagai kaum terpelajar Eropa sekaligus bangsawan.

Forum ini juga diperuntukkan bagi kalangan yang sederajat dengan orang-orang Eropa didepan pengadilan. Kalangan sederajat yang dimaksud adalah bangsawan lokal sampai keturunannya yang bergelar Raden Mas atau setarafnya.

Dengan muatan-muatan sejarah yang disajikan oleh Pram, novel “Bumi Manusia” sudah tentu tidak hanya menceritakan kisah cinta antara Minke dan Annelies saja, walaupun hal tersebut cukup menyita perhatian dari para pembacanya. Kecerdasan Minke banyak diperlihatkan dengan seringnya ia bertukar pikiran dengan sahabatnya bernama Jean Marais yang merupakan bekas prajurit asal Perancis. 

Minke yang memiliki cara pandang out of the box ini berhasil menuangkan pemikirannya dalam koran yang pada masanya dianggap sebagai media populer dan modern. Selain itu, ada tokoh lain yang merupakan kakak Annelies, Robert Mellema.

Ia berwatak antagonis dan terjerumus dalam dunia prostitusi dengan sering datang ke “rumah plesiran.” Di dalam rumah plesiran tersebut ada banyak sekali barang dan orang-orang yang berasal dari Singapura, Jepang, Cina, dan Eropa.

Dengan diceritakannya Robert Mellema dalam “Rumah Plesiran” telah menggambarkan sisi lain kolonialisme dalam sejarah Indonesia yang lebih sering menampilkan antara Belanda dengan Indonesia. Ada kalangan lain dari beberapa negara diluar orang-orang Eropa dan bumiputera yang mencari penghasilan melalui jalan prostitusi.

Secara keseluruhan, “Bumi Manusia” mengajarkan untuk tidak melihat sejarah maupun sesuatu apapun secara hitam putih. Masih ada berbagai aspek lain yang menarik dan penting untuk diketahui lebih lanjut, seperti hukum kolonial, pergundikan, dan kelompok-kelompok lain yang tinggal di Hindia Belanda.

Novel ini memiliki isi yang luar biasa bermanfaat dan poin terpenting yang disampaikan dalam Pram dalam karyanya adalah protes terhadap pemerintah kolonial untuk mempertahankan sekaligus menuntut hak yang terenggut dari adanya hukum kolonial. Sebagaimana dijelaskan oleh Siti Subariyah, Minke dan Nyai Ontosoroh yang memiliki pengetahuan Eropa telah sadar atas posisinya sebagai bumiputera yang inferior dan pantas mendapatkan haknya. 

Jadi daripada memperdebatkan apakah Iqbaal cocok menjadi Minke atau tidak, menyerap makna yang terkandung di 'Bumi Manusia' kelihatannya menjadi lebih penting sebelum menikmati filmnya.

(Tita Meydhalifah/Mahasiswi Ilmu Sejarah UGM)