Padusan dan Penghargaan pada Alam

BULAN Ramadan menjadi bulan suci yang dinanti bagi umat muslim di dunia, tak terkecuali di Jawa. Memasuki bulan itu kemarin, masyarakat Jawa melangsungkan berbagai ritus mulai dari nyadran, kenduri hingga padusan.

Padusan berasal dari kata adus yang berarti mandi. Namun makna padusan tidak serta merta dapat disamakan dengan mandi. Setiap orang saban hari mandi, membasahi diri dengan air, namun belum tentu dapat dikategorikan sebagai padusan. Padusan memiliki niat dan upaya dalam melangsungkan hajat seperti puasa Ramadan. Padusan tak semata mengisahkan sebuah ritual penyucian diri, namun juga jejak hidup tradisi, kohesi sosial dan penghargaan terhadap alam. Padusan berarti membasahi tubuh (mandi) di tempat-tempat yang memiliki sumber air dan beberapa di antaranya bahkan dianggap sakral serta keramat seperti sungai, sendang, kali dan pantai.

Makna

Selain itu, dari kata padusan berkembang berbagai makna dan nilai. Padusan adalah sarana dalam mendekatkan manusia dengan alam sekitar. Mereka kembali menziarahi mata air (sendang) serta aliran air (sungai, pantai dan kali) untuk melihat sekaligus merasakan peran alam yang telah memberi berkah dan rahmat dalam kehidupan. Dengan adanya tradisi padusan seolah ada tanggung jawab besar dalam merawat dan menjaga lingkungan. Jika rusak dan airnya keruh, tradisi padusan tak dapat dilakukan. Padusan adalah tolok ukur dalam melihat sejauh mana manusia berdialog dengan alam. Hilangnya tradisi padusan berarti besar kemungkinan jika alam telah rusak, sumber air telah keruh tercermar berbagai bahan kimia dan limbah pabrik. Ritual padusan kemudian dilangsungkan di kolam renang buatan manusia. Makna padusanpun hilang.

Dalam jejak sejarahnya, upaya merendam diri dalam air menjadi salah satu bagian dari babak penting sejarah hidup manusia Jawa. Agar terkabulnya sebuah keinginan dan cita-cita, manusia Jawa biasanya melakukan tapa ngeli, bertapa menceburkan diri dan mengikuti aliran air. Selain itu, ritual kungkum (berendam di air pada tempat yang dianggap keramat) juga menjadi pilihan yang tak terlewatkan. Kisah raja-raja di Jawa juga melangsungkan ritual itu demi menyatukan jiwa dengan alam (sang pencipta).

Padusan lebih mengedepankan semangat dalam menyambut hajat besar. Dengan sucinya diri, diharapkan manusia mampu menjalani hajat besar tersebut dengan iklas dan lancar. Hajat itu adalah bulan Ramadhan. Kata dan makna padusan lahir dari pemikiran lokal manusia Jawa untuk mengkontekstualisasikan perayaan Ramadan atau bulan puasa dengan kelangsungan hidup alam. Sebelum manusia menjalani ibadah puasa, nilai padusan mengingatkan dan sekaligus menyibak pesan: sudahkan kita menghargai dan merawat alam? Puasa dengan demikian bukan hanya bulan suci bagi manusia namun juga bagi alam raya. Arti padusan bukan semata peristiwa yang mengisahkan ritual membasahi tubuh namun juga membasahi pikiran, sarat makna dan nilai.

Menelisik Jejak

Padusan adalah sebuah ikhtiar dalam meraih kesempurnaan ibadah puasa. Air yang langsung bersumber dari alam dianggap sebagai bagian dari syarat kesucian diri. Mensucikan diri dengan disertai lantunan bait-bait doa adalah sebuah jalinan hidup antara manusia, alam (air) dan Tuhan (doa). Oleh karena itu, bagi orang Jawa ritus padusan tak semata dikategorikan sebagai sebuah selebrasi atau perayaan penyambut bulan Ramadan. Lebih dari itu, padusan juga berarti upaya dalam menelisik jejak-jejak masa lalu. Padusan adalah tradisi turun-temurun. Melangsungkan padusan berarti menghargai pemikiran lokal yang berusia lampau. Manusia Jawa akan terhubung dengan mitos-mitos masa lampau lewat padusan. Menyemai kearifan lokal, juga menjembatani keinginan yang akan datang.

Dengan demikian, padusan adalah katalisator bagi manusia Jawa, menghubungkan jejak masa lampu di masa kini untuk keperluan di masa mendatang. Tempat-tempat tradisi padusan seperti sendang dan kali, biasanya dilekatkan dengan bumbu-bumbu mistis yang transenden. Tempat-tempat itu dianggap sakral, wingit dan wigati. Upaya memberi stereotip tersebut bagi nenek moyang kita bukannya tanpa maksud dan tujuan. Stereotip transenden itu diperlukan agar kejernihan dan kelestarian alam tetap terjaga. Dengan adanya mitos hantu penunggu sendang, seseorang tidak berani berani merusak apalagi berbuat asusila di dekatnya.

(Aris Setiawan. Esais tinggal di Solo. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 17 Mei 2018)

Tulis Komentar Anda