Jateng Editor : Ivan Aditya Rabu, 16 Mei 2018 / 14:57 WIB

Mantan Napi Tindak Pidana Terorisme Beberkan Cara Deradikalisasi

KARANGANYAR, KRJOGJA.com - Pemerintah didesak mengatasi permasalahan ekonomi dan kesenjagangan sosial karena itu bisa memicu tumbuhnya sel teroris. Perkembangan teknologi informasi yang pesat serta bebasnya mengakses ikut menyuburkan paham radikal fundamentalis. Hal itu dikatakan mantan narapidana kasus tindak pidana terorisme, Surono kepada peserta forum group discussion (FGD) di Tamansari Hotel, Rabu (16/05/2018).

"Orang fundamentalis dan radikal banyak. Namun untuk naik level ke teroris itu sulit. Sebab tidak semua bisa menerima paham teroris. Harus ada faktor X dan Y," kata Surono kepada peserta FGD dari tokoh agama, tokoh masyarakat yang hadir.

Berdasarkan pengalamannya, seorang pelaku teror pasti dikoordinasi kelompoknya. Mereka sebelumnya melakukan doktrin. Kuatnya pengaruh itu membuat mereka bersedia menyerahkan jiwa dan raga serta nasib keluarganya. Inilah yang disebutnya faktor X, yakni pengaruh orang lain. Sedangkan faktoy Y pada keyakinannya.

"Terorisme tidak akan bisa masuk kecuali ada pengaruh persuasif oleh kelompok itu. Dan bisa saya pastikan, merekrutnya sangat sulit. Tidak mudah orang percaya," katanya.

Dalam mempersuasi, kelompok itu mengambinghitamkan pemerintah atas masalah kemiskinan dan turunannya. "Jika semua bisa mengatasi akar permasalahan terorisme, maka bisa diatasi. Kecuali kalau TNI dan Polri sampai kewal

ahan," katanya.Sementara itu pengasuh ponpes Al-Muayyad Windan, Sukoharjo, Gus Dian Nafi mengatakan kearifan lokal butuh dibangun lebih kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekuatan persatuan terbukti menjaga keutuhan NKRI. "Adanya konflik bisa dimanfaatkan untuk mengadu domba, mengalihkan perhatian pemerintah dan sebagainya," kata Dian.

Wakapolres Karanganyar, Kompol Dyah Wahyuning Hapsari mengatakan situasi kondusif menentukan keberhasilan Pilkada serentak di Bumi Intanpari. Seperti diketahui, momentum pesta demokrasi bakal dilaksanakan Juni mendatang.

"Jangan sampai imbas aksi teror di Surabaya kemarin dijadikan alat untuk memperkeruh suasana Pilkada. Kita tetap siaga. Masyarakat diminta menyikapi bijak kabar di media sosial. Stop ujaran kebencian dan berita hoax," katanya. (Lim)