Puasa, Terorisme dan Pemilu

PUASA tahun ini akan benar-benar menjadi ujian bagi segenap warga Muslim di seluruh tanah air. Mengapa? Sebab puasa kali ini akan dilakukan dan bahkan diawali oleh situasi sosial-politik yang kian memanas menjelang pemilu. Selain terdapat pilkada di beberapa daerah juga akan dilaksanakannya pemilu presiden (pilpres).

Jauh-jauh hari sebelum puasa tiba, kita bahkan dihadapkan pada kondisi masalah-masalah sosial-politik yang kian tidak fair. Sejumlah friksi terjadi, yang melibatkan antarpendukung masing-masing capres. Friksifriksi tersebut bahkan seringkali mengarah kepada tindakan-tindakan destruktif yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Situasi yang demikian menjadi semakin memanas karena pertentangan demi pertentangan antarkedua kubu tidak hanya massif dilakukan di dunia sosial media. Namun hal itu juga dilakukan secara terbuka di ruang-ruang publik. Muncul dan terjadi kasus intimidasi di Tugu Monas Jakarta beberapa waktu lalu. Kerusuhan saat peringatan Hari Buruh di Yogyakarta dan lainnya.

Dan kejadian terbaru adalah peristiwa peledakan bom di Surabaya, Sidoarjo yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Sebuah keprihatinan mendalam yang pantas diungkap akan terjadinya kekejian terhadap kemanusiaan. Terkuak harapan mendalam agar pihak keamanan dapat mengungkap pelaku di balik semua kejadian itu. Serta tidak ada lagi kejadian-kejadian serupa yang mengiris-iris rasa kemanusiaan kita. Rangkaian peristiwa demi peristiwa sosial yang ‘memilukan’ itu tentu sangat relevan kita jadikan sebagai bahan refleksi menjelang datangnya bulan puasa ini.

Aktualisasi Ketakwaan

Dalam literatur kepustakaan Islam dikatakan bahwa, tujuan utama dilaksanakannya ibadah puasa tidak lain adalah terwujudnya aktualisasi ketakwaan manusia dalam berbagai dimensi kehidupannya. Puasa tidak hanya mendorong pelakunya untuk semakin asketis secara spiritual-individual, melainkan juga asketis secara sosial-kolektif.

Ibadah puasa itu sendiri mengandung dua nilai etik yang perlu benar-benar kita hayati, baik pada saat menjalankan, sebelum maupun sesudahnya. Pertama, puasa memberikan kesempatan yang cukup bagi para pelakunya untuk melakukan proses latihan pengendalian diri dari kemungkinan melakukan tindakan-tindakan destruktif dalam kehidupan ini.

Lewat kemampuannya mengendalikan diri dari berbuat hal-hal destruktif inilah manusia dapat beranjak dari sisi kebinatangannya menjadi makhluk yang theomorfis, khalifah Tuhan di bumi. Dengan menyandang statusnya sebagai makhluk yang theomorfis tersebut manusia dapat menjadi cermin dari nama dan sifat-sifat Tuhan yang Maha Pengasih, dan Maha Santun.

Sayyed Hossein Nasr (2001) mengemukakan bahwa dalam diri manusia ada sesuatu yang ‘menyerupai’ Tuhan yang harus selalu dijaga dan dirawat selamanya. Sesuatu yang suci itu adalah ruh, yang dengannya manusia bisa selalu memiliki motivasi-motivasi kebaikan, memiliki cara pandang terhadap kehidupan kemanusiaan dengan penuh santun dan belas kasih sebagaimana Tuhan sendiri bersifat demikian.

Namun, sesuatu yang suci berupa ruh itu selamanya tidak akan dapat memunculkan motivasi kebaikan manakala kita selalu mengotorinya dengan nafsu, amarah, kebencian, permusuhan, fitnah dan iri hati. Untuk itulah kita diperintahkan berpuasa agar mampu mengendalikan diri dari melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengotori ruh dan batin kita sehingga sifat-sifat Tuhan bisa tercermin dalam perilaku dan sikap hidup kita sehari-hari.

Kedua, puasa dalam tingkatan yang lebih puncak adalah latihan menahan dan mengendalikan diri di tangah kecenderungan atau dorongan melampiaskan. Dalam konteks inilah kita dapat memahami relevansi dari sebuah hadis Nabi SAW yang menyatakan bahwa tidak sempurna puasa seseorang manakala tidak dapat menahan diri dari melakukan tindakan-tindakan destruktif (maksiat) dengan segala pemaknaannya.

Naluri destruktif, merusak, menyakiti dan meneror adalah dorongan-dorongan paling rendah karena bersumber dari isi kebinatangan manusia. Untuk itulah Tuhan mewajibkan kita berpuasa agar kita terbebas dari naluri rendahan demikian sehingga dalam perkembangannya kita akan meraih kualitas takwa.

Mahkota ketakwaan ini tentu hanya pantas disandang oleh manusia yang benar-benar memiliki predikat sebagai seorang Muslim sejati. Yakni pribadi-pribadi yang mampu menjadi pelindung dan penyelamat bagi manusia-manusia lainnya tanpa terkecuali, baik dari kejahatan pikiran, lisan maupun tangannya.

(Salman Rusydie Anwar. Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 16 Mei 2018)

Tulis Komentar Anda